Lift Kaca di Pantai Kelingking Nusa Penida Tuai Protes, Proyek Rp 200 Miliar Dihentikan Sementara

— Proyek pembangunan lift kaca di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, kembali menuai sorotan publik setelah video konstruksinya viral di media sosial.
Lift setinggi 182 meter yang disebut bernilai investasi Rp 200 miliar itu kini menjadi polemik karena dinilai mengancam kelestarian alam di kawasan wisata ikonik tersebut.
Dalam video yang beredar, terlihat rangka besi berwarna putih dan merah menjulang di tebing Pantai Kelingking.
Proyek ini disebut-sebut bertujuan mempermudah wisatawan menuju bibir pantai yang selama ini hanya dapat diakses melalui tangga curam dengan kemiringan sekitar 70 hingga 80 derajat.
Namun, banyak pihak menilai pembangunan lift kaca Pantai Kelingking justru akan merusak keaslian panorama alam Nusa Penida.
“Tentu sayang sekali, pemandangan asri dari Pantai Kelingking justru dirusak proyek lift. Wisatawan ke Nusa Penida itu mengejar keasrian panorama, bukan lift,” ujar Made Sediana, warga Klungkung, Selasa (28/10/2025).
Ia menambahkan, jalur menurun ke pantai memang ekstrem, tetapi bukan alasan untuk membangun fasilitas modern di kawasan tebing.
“Jika semakin gampang tamu ke bawah, justru berbahaya. Ombak di bawah bisa datang tiba-tiba. Paling tepat menikmati keindahan Pantai Kelingking dari atas tebing,” katanya.
Proyek Sudah Miliki Izin, Tapi Belum Jelas Pemiliknya
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Klungkung, Ni Made Sulistiawati, mengungkapkan bahwa proyek lift kaca di Pantai Kelingking telah memiliki izin resmi.
“Berdasarkan koordinasi kami dengan Dinas Perizinan, mereka sudah ada izinnya,” kata Sulistiawati, Selasa (28/10/2025).
Meski demikian, ia mengaku belum bisa membeberkan detail lebih lanjut mengenai pemilik proyek maupun proses izinnya.
“Saya perlu koordinasi lagi dengan Dinas PU, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Perizinan. Setelah ada keterangan pasti, baru akan kami konfirmasi kembali,” ujarnya.
DPRD Bali Surati Bupati Klungkung
Pantai Kelingking di Nusa Penida Bali yang menjadi lokasi meninggalnya anak drummer Matta Band.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali, Made Suparta, menyatakan pihaknya telah mengirim surat resmi kepada Bupati Klungkung untuk meminta klarifikasi.“Kami ingin kejelasan, kegiatan apa saja yang dilakukan di Kelingking, siapa pelakunya, luasnya berapa, titiknya di mana, dan bagaimana izinnya,” ujar Made, Rabu (29/10/2025).
Ia menegaskan bahwa kegiatan pembangunan di kawasan tebing curam seperti di Nusa Penida tidak diperbolehkan menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
“Apapun bentuknya, sudah tidak boleh ada rekayasa di tebing. Kalau tetap dilakukan, itu melanggar hukum,” tegasnya.
Minta Pembangunan Dihentikan Jika Ada Pelanggaran
Gubernur Bali, Wayan Koster, turut menanggapi polemik pembangunan lift kaca ini. Ia menyebut izin proyek tersebut telah dikeluarkan pada tahun 2024 melalui sistem Online Single Submission (OSS). Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp 200 miliar.
“Saya sudah minta Pansus TRAP DPRD Bali turun langsung ke lokasi untuk memeriksa dokumen dan aturan. Kalau ada pelanggaran yang telak, ya hentikan. Sekarang kita harus berani,” kata Koster dalam acara Penilaian Proper 2025 di Denpasar, Kamis (30/10/2025).
Menurut Koster, Bupati Klungkung I Nyoman Satria baru mengetahui proyek ini setelah kasusnya ramai dibicarakan.
“Bupati baru tahu dua hari lalu. Perangkat daerahnya sudah saya minta untuk segera menindaklanjuti,” ungkapnya.
Proyek Swasta di Lahan Adat
Pantai Kelingking di Nusa Penida, Bali
Camat Nusa Penida, I Kadek Yoga Kusuma, menegaskan bahwa proyek ini bukan milik pemerintah daerah, melainkan investasi swasta yang bekerja sama dengan Banjar Adat Karang Dawa.“Proyek lift itu dari investor, bukan proyek pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa video viral yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan sebagian sudut konstruksi.
“Kalau diambil dari sisi timur, view Pantai Kelingking masih terlihat utuh dan tidak tertutup proyek,” katanya.
Lift kaca ini disebut akan dibangun setinggi 182 meter dengan jembatan sepanjang 64 meter, dan dilengkapi spot foto setiap 20 meter.
Dalam wawancara sebelumnya pada Juli 2023, Kadispar Klungkung Ni Made Sulistiawati menyebut bahwa pembangunan ini merupakan kolaborasi PT Bangun Nusa Properti (BNP) dengan Banjar Adat Karang Dawa.
Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 7 Juli 2023.
“Kami berharap proyek dilaksanakan sesuai peraturan agar keselamatan wisatawan dan kelestarian lingkungan tetap terjaga,” ujar Sulistiawati saat itu.
DPR dan Aktivis Lingkungan: “Jangan Rusak Sempadan Alam”
Anggota DPR RI dari Bali, I Nyoman Parta, menilai proyek ini tidak sesuai dengan karakter alami pantai.
“Jangan tambahkan ornamen yang tidak nyambung dengan view pantainya. Kalau bahaya, ya jangan ke sana. Jangan dirusak sempadan itu,” tegasnya.
Menurutnya, bentuk tebing yang curam adalah pesan alami dari alam itu sendiri.
“Kalau ingin melihat pantai, ya lihat seperti apa adanya, dengan ombak, tebing, dan batu karangnya,” imbuhnya.
Sejumlah warga Bali juga menyuarakan penolakan. Osila (36), pegiat lingkungan asal Klungkung, mengatakan Pantai Kelingking seharusnya dibiarkan alami.
“Saya lebih suka yang dulu, yang belum ada jalan beton. Alam Nusa Penida itu sudah indah dari sananya,” ujarnya.
Sementara itu, Mahayanti (34), wisatawan lokal, menilai perjalanan ekstrem menuju pantai justru menjadi daya tarik tersendiri.
“Makin susah jalannya, makin berkesan. Dulu turun pakai tangga kayu, tapi sampai di bawah rasanya luar biasa,” katanya.
Pembangunan Lift Kaca Dihentikan Sementara
Menanggapi banyaknya penolakan, Kasatpol PP Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi memastikan pihaknya bersama Pansus TRAP DPRD Bali akan turun ke lokasi untuk mengevaluasi izin proyek tersebut.
“Kami ingin memastikan izin mereka sudah sesuai. Jika ada pelanggaran tata ruang, maka pembangunan lift kaca di Pantai Kelingking akan dihentikan,” tegas Dharmadi, Kamis (30/10/2025).
Pantai Kelingking di Nusa Penida, Klungkung, merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di Bali. Tebingnya yang berbentuk menyerupai tulang belakang dinosaurus (T-Rex) menjadi ikon dunia pariwisata Indonesia.
Dari puncak tebing, wisatawan dapat menikmati panorama Samudra Hindia dengan warna biru toska yang menawan.
Namun kini, pesona Pantai Kelingking Nusa Penida terancam oleh proyek lift kaca raksasa yang menuai perdebatan antara pelestarian alam dan ambisi modernisasi pariwisata Bali.
Sebagian Artikel Tayang di Kompas.com dengan Judul
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.