Apa yang Menyebabkan Mantan Pengguna Kembali Menggunakan Narkoba?

Ilustrasi kecanduan narkoba.
Ilustrasi kecanduan narkoba.

Onadio Leonardo atau Onad ditangkap oleh pihak kepolisian menyusul dengan dugaan penyalahgunaan narkoba. Sebelum ditangkap, Onad sempat secara terbuka mengaku bahwa dirinya pernah menggunakan narkoba saat berusia 21 tahun.

Namun diakui Onad alasan utama diirnya berhenti menggunakan narkoba lantaran tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga suami.

”Gue udah punya anak dan istri, berhenti bukan karena gue nggak suka yah, tapi gue bertanggung jawab. Gue suka cuman gue nggak mau aja, pertama takut ketangkep, kedua gue punya tanggungan istri dan anak, gue punya keluarga keempat gue udah ketuaan ya,” kata dia saat tampil di tayangan YouTube Atta Halilintar lima tahun lalu.

Bukan hanya Onad sosok Ammar Zoni juga belakangan sempat menjadi sorotan. Pasalnya dirinya kedapatan empat kali terjerat kasus narkoba, terakhir dirinya dipindahkan ke Nusakambangan atas kasus narkoba. Hal serupa juga terjadi pada musisi Faris RM yang juga terjerat kasus narkoba hingga empat kali.

Berkaca dari kasus yang terjadi pada kasus di atas, mengapa orang yang sudah lepas dari narkoba kembali terjerumus ke narkoba? Melansir laman American Addiction Center seseorang yang kembali menggunakan narkoba atau alkohol seelah masa bebas narkoba disebut dengan relaps. Berbeda dengan lapse, yaitu “terpeleset sesaat” misalnya seseorang sempat minum sedikit lalu langsung berhenti lagi relapse berarti seseorang benar-benar kembali ke kebiasaan lama menggunakan alkohol atau narkoba secara penuh.

Banyak orang yang sedang memulihkan diri dari kecanduan berisiko tinggi mengalami relapse. Hal ini karena penggunaan zat dalam jangka panjang dapat mengubah struktur dan fungsi otak, dan efeknya bisa bertahan lama bahkan setelah seseorang berhenti menggunakan zat tersebut.

Jenis dan Tahapan Relapse

Biasanya, relapse terjadi ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk kembali menggunakan alkohol atau narkoba. Contohnya, setelah setahun berhenti, seseorang mungkin berpikir untuk merokok ganja karena merasa bisa mengendalikannya, atau minum segelas wine bersama teman.

Ada juga istilah freelapse, yaitu kambuh yang terjadi secara tidak sengaja. Misalnya, seseorang minum minuman beralkohol karena tidak tahu bahwa minuman itu mengandung alkohol.

Hal yang perlu diingat, tanda-tanda menuju relapse sering kali muncul dalam hitungan minggu atau bahkan bulan sebelum seseorang benar-benar menggunakan lagi. Pikiran, perasaan, atau situasi tertentu bisa memicu keinginan (craving) yang kuat dan jika tidak dikelola dengan baik, peluang kambuh semakin besar.

Relapse biasanya berkembang dalam tiga tahap:

  1. Tahap emosional
    Terjadi jauh sebelum seseorang menyentuh narkoba atau alkohol. Pada tahap ini, seseorang mulai tidak mampu mengelola emosinya dengan sehat misalnya memendam perasaan, mengisolasi diri, menyangkal masalah, atau mengabaikan perawatan diri.
    Meski belum terpikir untuk menggunakan zat, kebiasaan menghindari emosi inilah yang bisa membuka jalan menuju relapse.
  2. Tahap mental
    Seseorang mulai sadar ada perang batin antara keinginan untuk tetap bersih dan dorongan untuk menggunakan lagi.
    Ia mungkin mulai mengenang masa lalu saat memakai zat, meremehkan dampak buruknya, atau mencari alasan untuk bisa menggunakan lagi.
  3. Tahap fisik
    Ini adalah saat seseorang benar-benar kembali menggunakan zat tersebut. Biasanya dimulai dari sekali coba satu minuman atau satu hisapan yang kemudian cepat berkembang menjadi penggunaan penuh di luar kendali.

Faktor Risiko Terjadinya Relapse

Risiko kambuh biasanya muncul karena pengalaman atau situasi sulit yang membuat seseorang sulit mengatasi stres tanpa kembali pada zat yang dulu digunakan. Semakin banyak faktor risikonya, semakin besar kemungkinan relapse.

Beberapa faktor paling umum meliputi:

  • Paparan terhadap pemicu (trigger):
    Misalnya melihat teman yang masih menggunakan, mencium aroma tertentu, atau berada di tempat yang dulu terkait dengan penggunaan zat.
  • Stres:
    Stres tinggi, masalah pekerjaan, konflik rumah tangga, atau emosi negatif seperti marah dan sedih sering kali mendorong seseorang untuk kembali menggunakan.
  • Masalah hubungan pribadi:
    Pertengkaran dengan keluarga atau teman bisa menimbulkan perasaan frustrasi dan akhirnya mendorong untuk kambuh.
  • Tekanan dari lingkungan sosial:
    Teman atau keluarga yang masih menggunakan alkohol/narkoba bisa memberi tekanan atau pengaruh buruk, membuat seseorang lebih mudah tergoda.
  • Kurangnya dukungan sosial:
    Tidak punya teman atau komunitas yang mendukung proses pemulihan bisa membuat seseorang merasa sendirian dan rapuh.
  • Rasa sakit atau kondisi medis:
    Obat penghilang nyeri (seperti opioid) yang diresepkan bisa memicu kecanduan kembali pada mereka yang punya riwayat penggunaan zat.
  • Rendahnya rasa percaya diri (self-efficacy):
    Orang yang merasa tidak mampu mengendalikan diri atau bertahan tanpa zat cenderung lebih mudah kambuh.
  • Suasana hati positif:
    Mengejutkan, tetapi perasaan bahagia atau euforia juga bisa memicu relapse misalnya saat merayakan ulang tahun atau pesta, seseorang ingin “menambah kesenangan” dengan minum atau memakai zat.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kambuh?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami relapse, jangan panik atau merasa gagal. Kambuh bukan akhir dari segalanya. Langkah-langkah berikut bisa membantu:

  1. Cari bantuan segera.
    Hubungi keluarga, teman, atau kelompok pendukung agar kamu tidak merasa sendirian.
  2. Ikuti kelompok dukungan.
    Seperti Alcoholics Anonymous (AA), Narcotics Anonymous (NA), atau SMART Recovery yang berbasis pendekatan ilmiah.
  3. Hindari pemicu.
    Jauhi tempat, orang, atau situasi yang berkaitan dengan penggunaan zat sampai kamu merasa lebih kuat.
  4. Tetapkan batas sehat.
    Hindari hubungan toksik atau orang yang menekan kamu untuk menggunakan lagi.
  5. Rawat diri sendiri.
    Lakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, olahraga, membaca, atau journaling.
  6. Renungkan pengalaman kambuh.
    Alih-alih menyalahkan diri, lihat ini sebagai pelajaran: apa yang memicunya, bagaimana kamu bisa menghadapinya lain kali?
  7. Buat rencana pencegahan.
    Tuliskan pemicu pribadi, strategi coping yang efektif, dan daftar orang yang bisa dihubungi saat kamu butuh dukungan.

Semakin cepat kamu bertindak setelah kambuh, semakin mudah untuk kembali ke jalur pemulihan. Namun, bahkan jika sudah lama terjerumus lagi, masih belum terlambat untuk bangkit.

Apakah Perlu Kembali ke Pusat Rehabilitasi?

Jika kamu merasa sulit berhenti sendiri setelah kambuh, bantuan profesional sangat disarankan.

Relapse bukan tanda kegagalan terapi, melainkan bagian dari proses pemulihan. Sama seperti penyakit kronis lainnya, kekambuhan bisa berarti perlunya penyesuaian dalam rencana perawatan.

Tergantung kondisimu, kamu bisa memilih:

  • Program rawat inap (inpatient),
  • Program rawat jalan (outpatient),
  • Atau konseling intensif individual, pasangan, atau keluarga.

Konsultasikan dengan dokter, terapis, atau konselor adiksi untuk menentukan langkah terbaik. Dukungan keluarga dan teman juga penting agar kamu bisa fokus kembali pada pemulihan.