Warga Meninggal Setelah Dengar Letupan Tembakan di Mapolres Manggarai, Begini Kata Polisi
Kepolisian Resor (Polres) Manggarai, Nusa Tenggara Timur, angkat bicara terkait insiden meninggalnya seorang warga yang tiba-tiba pingsan tak lama setelah dengar tembakan peringatan di halaman Mapolres. Peristiwa itu terjadi saat aparat berusaha menenangkan sekelompok warga yang datang sambil membawa senjata tajam pada Sabtu sore, 4 Oktober 2025.
Kapolres Manggarai, AKBP Hendri Syahputra, menjelaskan bahwa seorang pria berusia 56 tahun dari kelompok warga tersebut mendadak ambruk di dekat lobi Mapolres. Anggota SPKT Polres Manggarai langsung mengevakuasi korban ke RSUD Ruteng dalam kondisi tak sadarkan diri. Sayangnya, nyawa korban tak tertolong. Pada pukul 13.50 WITA, pihak rumah sakit menyatakan korban meninggal dunia.
Kapolres Manggarai, AKBP Hendry Syahpputra berdialog dengan keluarga korban
“Berdasarakan surat hasil resume medis yang ditandatangani dokter RSUD Ruteng bahwa penyebab kematian adalah *Cardiac Arrest* atau henti jantung mendadak,” kata Kapolres Manggarai, AKBP Hendri Syahputra dalam keterangan tertulis, Minggu 5 Oktober 2025.
Ia menjelaskan bahwa henti jantung merupakan kondisi darurat medis yang menyebabkan jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba dan dikenal sebagai kematian jantung mendadak.
Menurut AKBP Hendri, insiden bermula sekitar pukul 12.00 WITA ketika sekitar 50 warga Kecamatan Satar Mese Utara mendatangi Mapolres Manggarai dengan membawa parang dan berbagai senjata tajam. Mereka diketahui merupakan keluarga korban penganiayaan di lokasi tambang pasir Wae Reno dan datang untuk mencari pelaku yang sudah diamankan oleh polisi.
Saat itu, Kanit Jatanras Polres Manggarai, Aipda Krisno Hamid Kamal Ratuloli, sempat mengimbau agar warga tidak membawa senjata ke dalam area kantor polisi. Namun situasi memanas setelah imbauan tersebut diabaikan dan Aipda Krisno diserang hingga terjatuh.
“Namun, karena himbauan tidak diindahkan dan yang bersangkutan (Aipda Krisno) diserang sampai yang bersangkutan jatuh, Aipda Krisno akhirnya melepaskan satu kali tembakan peringatan ke udara, hingga situasi berhasil diredam tanpa menimbulkan korban,” beber Kapolres.
“Langkah yang dilakukan anggota di lapangan sangat cepat, terukur, dan tetap humanis. Pendekatan persuasif diutamakan untuk menjaga keselamatan bersama,” ujar AKBP Hendri.
### Polisi Temui Keluarga Korban
Setelah insiden tersebut, Kapolres Manggarai bersama Wakapolres dan jajaran pejabat utama langsung menemui keluarga almarhum di Mapolres. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh empati.
Perwakilan keluarga menerima penjelasan dari pihak kepolisian dan pihak rumah sakit. Mereka juga sepakat menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada Polres Manggarai serta berkomitmen membantu menenangkan keluarga besar almarhum.
“Pendekatan dialog dan komunikasi terbuka antara polisi dan keluarga menjadi kunci terwujudnya suasana damai dan kondusif,” tutur Kapolres Manggarai.
Sekitar pukul 15.51 WITA, jenazah korban kemudian dibawa menggunakan ambulans RSUD Ruteng menuju rumah duka di Desa Tengger, Kecamatan Satar Mese Utara, untuk disemayamkan.
Sebelum peristiwa di Mapolres, polisi telah mengamankan seorang pelaku berinisial M (40) yang diduga menganiaya operator alat berat bernama S (38) di lokasi tambang pasir Wae Reno, Desa Ranaka.
Mengetahui potensi terjadinya aksi balasan, Bhabinkamtibmas Kecamatan Satar Mese Utara, Aipda Emil Janan, segera turun ke lokasi untuk melakukan pendekatan persuasif kepada warga. Sementara itu, Kapospol Wae Ri’i, Aipda Erik Magus, berhasil menangkap pelaku M dan mengamankannya ke Mapolres Manggarai. (Jo Kenaru/tvOne/NTT)