Buka Halaqah Internasional, Menag: Pesantren Harus Kembangkan Tradisi Intelektual Kritis Berbasis Turats

Menteri Agama Nasaruddin Umar
Menteri Agama Nasaruddin Umar

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, secara resmi membuka Halaqah Internasional di Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis malam, 2 Februari 2025. Forum ini mengangkat tema “Transformasi Sosio-Ekologis dan Solusi Epistemologis Berbasis Turats.”

Dalam sambutannya, Menag mengingatkan pentingnya cara membaca yang komprehensif sebagaimana diperintahkan Alquran. Ia menjelaskan bahwa ada tiga objek utama bacaan bagi setiap Muslim, khususnya para santri: membaca alam semesta (makrokosmos), membaca ayat-ayat yang merasuk dalam diri manusia (mikrokosmos), dan membaca kitab suci Alquran (wahyu).

“Yang pertama adalah membaca alam semesta, yang kedua adalah membaca ayat-ayat yang merasuk dalam diri manusia, dan yang ketiga adalah membaca kitab suci Alquran,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, kata iqra’ tidak sekadar berarti melafalkan huruf, tetapi juga menghimpun. Seperti pohon yang menghimpun akar, batang, daun, dan buah; atau manusia yang menghimpun seluruh unsur makrokosmos dalam dirinya.

“Himpunan yang paling sempurna adalah manusia. Karena itu, Ibnu Arabi menyebut bahwa sejatinya makrokosmos itu manusia, bukan alam semesta,” jelasnya.

Namun demikian, Menag menegaskan bahwa pesantren jangan berhenti pada bacaan tekstual semata. Alquran harus dipahami tidak hanya sebagai kitabullah (petunjuk bagi seluruh manusia), tetapi juga sebagai kalamullah (firman Allah yang hanya bisa diakses melalui ketakwaan dan kedalaman spiritual).

“Jangan kita bangga hanya karena hafal Alquran atau mampu menafsirkannya. Di atas langit masih ada langit. Masih ada lapisan terdalam, yakni haqaiq Alquran,” ucap Imam Besar Masjid Istiqlal ini.

Ia kemudian mengurai empat tingkatan bacaan Alquran: teks Alquran, isyarat Alquran, lathaif Alquran, dan haqaiq Alquran.

Lebih jauh, ia mengaitkan tema halaqah dengan krisis ekologi. Menurutnya, menyelamatkan lingkungan tidak cukup dengan mengubah perilaku (ethos), melainkan harus dimulai dari pembaruan cara berpikir (logos) bahkan fondasi teologisnya.

“Mustahil kita bisa mengubah ethos tanpa mengubah logos. Dan mustahil kita mengubah logos tanpa meninjau teologi,” ujarnya.

Di sinilah, kata Nasaruddin, pentingnya peran turats sebagai fondasi epistemologis. Ia menekankan bahwa pesantren harus mampu mengkaji kitab-kitab turats dengan pendekatan multidisipliner—mulai dari semantik, filologi, hingga antropologi—agar khazanah klasik itu tetap hidup dan relevan dengan tantangan zaman.

“Tidak semua kitab kuning bisa disebut turats. Kitab turats adalah karya yang ditulis oleh ulama mumpuni, yang menghayati filosofi dasar Alquran dan hadis, serta mampu mengangkat martabat kemanusiaan dan mendekatkan diri kepada Allah,” tegasnya.

Menag juga mengingatkan bahwa membaca dalam Islam tidak boleh dipersempit hanya pada dimensi tekstual. Tradisi iqra’ harus ditopang oleh kesadaran kritis terhadap realitas sosial dan ekologis, dengan turats sebagai basis epistemologisnya.

“Alquran itu bukan sekadar informasi, tapi konfirmasi. Membaca Alquran berarti membaca alam, membaca diri, lalu mengkonfirmasikan semuanya dengan wahyu. Itulah tradisi ilmiah pesantren yang harus terus dikembangkan,” kata Nasaruddin.

Selanjutnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menambahkan pentingnya kontekstualisasi maqashid al-syariah agar agama selalu relevan dengan zaman. Ia menyoroti bab thaharah dalam fiqih yang sering dipahami sempit, padahal sejatinya mengandung pesan ekologis.

“Menjaga air adalah bagian dari thaharah. Itu artinya menjaga kebersihan dan lingkungan juga ibadah. Inilah bentuk ekoteologi — membaca kehidupan dan alam dengan Alquran sekaligus ditopang pemahaman turats,” jelasnya.

Suyitno menegaskan, pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan fiqih yang responsif terhadap isu-isu modern, termasuk krisis lingkungan. Dengan turats sebagai fondasi dan realitas sebagai ladang praksis, halaqah ini diharapkan melahirkan gagasan yang dapat menjadi rujukan kebijakan publik.

Baik Menag maupun Dirjen sepakat bahwa pesantren harus tampil sebagai pusat peradaban. Tradisi intelektual Islam yang menyatukan bacaan teks, turats, alam, dan diri diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluhuran nilai Islam.

Agenda ini juga mengundang narasumber akademisi seperti Prof. Dr. Nur Syam dan akademisi Timur Tengah yang mengisi sesi panel diskusi yakni Dr. Ahmad Mamdouh sebagai Ulama Darul Ifta Mesir, Dr. Abdul Hamid 'Asyyaaq sebagai Rektor Universitas Daar El Hadith Hassania Maroko dan Dr. Maryam Ait Ahmed sebagai Guru Besar Universitas Ibnu Tufail Maroko.

Halaqah Ulama Internasional di Wajo pun menjadi momentum penting untuk mengembalikan pesantren sebagai pilar peradaban: dari membaca teks menuju membaca semesta, dari turats menuju analisis kritis realitas, pesantren dan ulama dituntut menghadirkan Islam yang kontekstual, ekologis, dan solutif bagi kehidupan modern.