Santri Tertimbun Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny, Basarnas Fokus Golden Time 72 Jam

Basarnas mengungkapkan kondisi sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, yang masih tertimbun reruntuhan bangunan semakin kritis.
Tubuh para santri disebut semakin terhimpit beton pasca-runtuhnya bangunan pada Senin (29/9/2025).
“Kami menemukan satu korban masih bisa merespons suara, tetapi posisinya sudah sangat sempit. Bordes bangunan yang runtuh turun signifikan 10–12 sentimeter, sehingga ruang gerak korban semakin terbatas,” kata Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, dalam konferensi pers yang diterima di Jakarta, Selasa.
Runtuhan Bangunan Berbentuk “Pancake Collapse”
Emi menjelaskan, pola runtuhan bangunan di Ponpes Al-Khoziny berbentuk pancake collapse.
Kondisi ini membuat tim SAR kesulitan menembus ruang sempit di antara kolom utama bangunan, meskipun sudah menggunakan peralatan modern.
“Dari 15 titik yang sudah teridentifikasi, delapan berstatus hitam (tidak responsif) dan tujuh masih merah (masih ada respons). Tantangan kami adalah bagaimana mempertahankan nyawa korban, dengan kondisi struktur yang rapuh,” ujarnya.
Dalam operasi penyelamatan hari ketiga ini, Basarnas dibantu 375 personel gabungan dari berbagai unsur.
Tim SAR tetap mengutamakan fase “golden time” 72 jam untuk menyelamatkan para santri yang masih tertimbun.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan membuat terowongan kecil di bawah reruntuhan agar korban bisa segera dibebaskan. Sementara itu, penggunaan alat berat masih ditunda karena dikhawatirkan dapat memicu pergeseran konstruksi bangunan.
“Sedikit getaran saja bisa berdampak seperti gempa kecil di lokasi runtuhan,” kata Emi menegaskan.
Libatkan Ahli Konstruksi ITS
Untuk memastikan keamanan proses evakuasi, Basarnas melibatkan sejumlah ahli konstruksi, termasuk dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Langkah ini diambil untuk menilai kekuatan struktur bangunan serta menentukan metode evakuasi yang paling aman.
“Basarnas melibatkan ahli konstruksi untuk mendampingi proses assessment struktur bangunan dan memastikan langkah evakuasi dilakukan seaman mungkin hingga operasi penyelamatan santri berhasil,” tutur Emi.
Ia juga meminta doa serta dukungan masyarakat agar operasi penyelamatan berjalan lancar. “Satu nyawa sangat berharga, dan kami akan berusaha semaksimal mungkin,” katanya.