Kritik Program MBG, Chef Arnold Soroti Masalah Keracunan hingga Tim Dapur

Chef Arnold Poernomo.
Chef Arnold Poernomo.

 Program Makan Bergizi Gratis (MBG), inisiatif unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengatasi stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, kembali menjadi sorotan tajam publik. 

Sejak diluncurkan awal tahun ini, program yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat hingga akhir 2025 itu justru dihantui serangkaian kasus keracunan massal, menewaskan ribuan siswa di berbagai daerah. 

Di tengah gejolak tersebut, nama Chef Arnold Poernomo, juri terkenal MasterChef Indonesia, muncul sebagai figur potensial untuk memperbaiki eksekusi program. Kritiknya yang konstruktif melalui platform X (sebelumnya Twitter) memicu diskusi luas, sekaligus menguak ketidakpuasan terhadap komposisi Tim Badan Gizi Nasional (BGN).

Pembentukan BGN, lembaga yang bertugas mengawasi pemenuhan gizi melalui MBG, menuai kecaman karena posisi kunci diisi oleh para purnawirawan militer tanpa latar belakang mendalam di bidang kuliner atau gizi. Warganet ramai menyuarakan bahwa profesional seperti peserta MasterChef, khususnya Chef Arnold, lebih kompeten untuk mengisi peran tersebut. 

"Tim BGN daripada pejabatnya diisi sama purnawirawan, mending diganti peserta Master Chef. Kasihan banyak siswa keracunan," kata akun @MiskinTV, dikutip Sea 23 September 2025.

"Gua saran sih Arnold ya @ArnoldPoernomo. Beliau dulu udah pernah breakdown menu plus RAB tuh. Gua yakin dengan kompetensinya, bisa membawa MBG lebih baik cc Pak @prabowo," balas akun @fajarsumantri.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Chef Arnold Poernomo, yang dikenal sebagai pendukung awal MBG, menanggapi dengan bijak melalui akun X-nya.

"Programnya bagus cuma eksekusinya kurang," tulis Chef Arnold.

"Kasihan anak-anak yang keracunan, orangtua, tim dapur MBG, team medis," imbuhnya.

Lebih lanjut, dalam balasan kepada warganet, Chef Arnold merinci lima prinsip dasar untuk memperbaiki eksekusi.

"Yang paling dasar mungkin: SDM yang berpengalaman, untuk mengolah bahan baku dan masakan, bakteri, cross contaminatin, hygiene, dan supplier yang baik," jelasnya.

Sarannya ini sejalan dengan temuan pakar gizi yang menyoroti kurangnya pengawasan rantai pasok dan sanitasi sebagai akar masalah. 

Data lembaga pemantau seperti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat, hingga pertengahan September 2025, setidaknya 5.360 siswa menjadi korban keracunan akibat MBG. Kasus terbaru melanda ratusan pelajar di Garut, Jawa Barat, di mana 194 siswa dari SD hingga SMA mengalami mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu nasi putih, ayam woku, tempe orek, serta buah stroberi pada 17 September. 

Di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 251 siswa dirawat di RS Trikora Salakan akibat gejala serupa. Bahkan, di Baubau, Sulawesi Tenggara, 37 siswa SMA Negeri 7 dan SD Hidayatullah dilarikan ke rumah sakit setelah menemukan ayam berbau busuk dalam porsi MBG. 

Insiden ini bukan yang pertama; sejak Januari, kasus serupa merebak di Tasikmalaya (400 korban), Sumatera Selatan (173 korban), hingga Nusa Tenggara Timur, dengan gejala mulai dari sakit perut hingga reaksi alergi.