Diminta Bantu Susun Juknis MBG, Chef Arnold Malah Bilang Begini
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perhatian publik seiring upaya pemerintah memperkuat tata kelola pelaksanaannya. Berbagai pihak dari latar belakang berbeda pun mulai dilibatkan untuk memberikan pandangan dan masukan demi menyempurnakan program yang ditujukan bagi jutaan masyarakat Indonesia tersebut.
Salah satu nama yang ikut dimintai pendapat adalah Chef Arnold Poernomo. Kehadirannya dalam proses penyusunan petunjuk teknis (juknis) baru MBG sempat menjadi perbincangan karena dikenal luas sebagai chef profesional sekaligus figur publik di bidang kuliner.
Meski demikian, respons yang diberikan Chef Arnold justru mencuri perhatian. Alih-alih menonjolkan perannya, mantan juri MasterChef Indonesia itu memilih merendah dan menegaskan bahwa masih banyak pihak lain yang dinilainya lebih kompeten untuk membahas program sebesar MBG.
Keterlibatan Chef Arnold dalam penyusunan juknis MBG terungkap melalui unggahan di media sosial miliknya. Dalam penjelasannya, ia membenarkan bahwa dirinya memang diminta memberikan pendapat terkait penyusunan pedoman baru yang tengah disiapkan.
Menurut Chef Arnold, dirinya bersama tim tidak sekadar memberikan komentar singkat. Mereka juga telah melakukan kajian serta mempelajari sejumlah aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan program tersebut.
"Saya memang diminta untuk memberikan pendapat untuk juknis BGN, saya dan team sudah review dan pelajari," ujar Chef Arnold yang dikutip pada Kamis, 11 Juni 2026.
Dalam keterangannya, Chef Arnold menilai bahwa implementasi program MBG bukan persoalan sederhana. Ia melihat banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama ketika program dijalankan di wilayah 3T atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Tantangan tersebut mencakup berbagai aspek mulai dari distribusi bahan makanan, ketersediaan pasokan pangan, kesiapan sumber daya manusia, hingga persoalan logistik yang berbeda-beda di setiap daerah.
Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan kondisi geografis yang beragam membuat pelaksanaan program pangan skala nasional membutuhkan perencanaan yang matang. Karena itulah Arnold menilai keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kualitas menu, tetapi juga pada sistem pendukung yang berjalan di belakangnya.
Meski sudah memberikan masukan, Arnold mengaku tidak menganggap dirinya sebagai sosok paling memahami persoalan tersebut. Ia justru menilai ada banyak pihak lain yang memiliki pengalaman dan keahlian lebih mendalam.
"Saya rasa banyak orang lain yang lebih hebat, capable, dan paham lebih dari saya," ujarnya lagi dalam unggahan tersebut.