Dari Guru di Maluku, Marthella Perjuangkan Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas
Data Badan Pusat Statistik (BPS) RI tahun 2023 mencatat ada 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia dengan sekitar 17 juta diantaranya berada pada usia produktif. Namun, partisipasi kerja difabel masih rendah. Dari total jumlah tersebut hanya 45 persen penyandang disabilitas yang bekerja.
83 persen di antaranya terserap di sekotr non-formal sementara baru 17 persen yang masuk ke sektor formal. Padahak lebih dari 1,5 juta penyandang disabilitas usia kerja sudah menamatkan pendidikan menengah kejuruan, diploma hingga universitas. Hal ini menunjukkan penyandang disabilitas sebenarnya memiliki potensi besar untuk bersaing di bursa kerja.
Melihat hal itu Marthella Rivera Roidatua Sirait menciptakan platfom Koneksi Indonesia Inklusif atau Konekin. Konekin adalah impact platform yang berfokus pada penciptaan lingkungan kerja yang lebih inklusif bagi 17 juta penyandang disabilitas usia produktif di Indonesia melalui pelatihan, asesmen, serta pendampingan praktik rekrutmen yang setara dan berkeadilan
Ia menjelaskan bahwa ide mendirikan platform ini bermula saat dirinya mengajar di pedalaman Maluku pada 2013–2014. Saat itu, ia memiliki tiga murid berkebutuhan khusus.
“Awal mula kenapa mendirikan Konekin? Sebenarnya, balik lagi ke tahun 2013-2014, saya menjadi seorang guru di pedalaman Maluku. Kalau teman-teman pernah dengar, ada desa Adodomolu di ujung utara Tokorowa, Tanimbar. 2013 belum ada sinyal, dan saya waktu itu punya 3 murid berkebutuhan khusus,” kata dia saat ditemui di kawasan Senayan, Selasa 10 Maret 2026.
Saat mengajar itu, ia menyadari kenyataan yang dihadapi anak-anak penyandang disabilitas. Banyak dari mereka tidak mendapatkan kesempatan sekolah karena orang tua merasa mereka tidak punya masa depan. Dari pengalaman itulah ia memutuskan untuk melanjutkan studi S2 dan menciptakan sesuatu yang bisa membuka peluang bagi murid-muridnya.
“Bayangan saya pada saat itu adalah, anak-anak ini banyak yang tidak ingin disekolahkan oleh orang tuanya karena orang tuanya menganggap tidak punya masa depan, tidak punya pekerjaan. Di Indonesia sendiri, disabilitas tahun 2013 masih belum jadi isu yang umum, masih dianggap tabu. Jadi waktu itu saya berpikir, saya harus S2 dan saya harus bikin sesuatu supaya 3 murid saya ini punya masa depan. Sesederhana itu,” sambung dia.
Setelah menyelesaikan studi S2 di Inggris, Marthella kemudian mantap membangun platform ini di tahun 2018 lalu. Platform ini didirikannya dengan tujuan untuk menciptakan supply dan deman yang bisa inklusif di bidang ketenagakerjaan.
“Akhirnya, di 2018, pulang saya dari S2 di Inggris, saya mendirikan Konekin. Kenapa namanya konekin? Sebenarnya, karena itu yang meringkul terus di kepala kita. Dikit-dikit, eh Konekin gua dong, Konekin gua dong. Supaya sebenarnya bisa menghubungkan penyandang disabilitas dengan kesempatan kerja yang lebih baik. Jadi tujuan Konekin sendiri adalah menciptakan supply dan demand yang benar-benar bisa inklusif di bidang ketenagakerjaan,” kata dia.
Menurut Marthella, platform ini sudah menyediakan berbagai pelatihan, baik untuk penyandang disabilitas maupun perusahaan, sehingga keduanya bisa saling terhubung dengan lebih baik.
Sebagai informasi, Marthella merupakan salah satu penerima DBS Foundation Grant Program 2025. Program ini merupakan inisiatif DBS Foundation sejak 2014 untuk mendukung ratusan social enterprise dan businesses for impact (BFI) di Asia yang menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan sosial, mulai dari akses air bersih, ketahanan pangan, inklusi keuangan, hingga ketenagakerjaan inklusif.
Melalui program ini Marthella mengungkap bahwa pihaknya ingin membuat satu platform berbasis AI yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Nantinya platform ini akan memudahkan mereka membuat profil professional, CV dan menghubungkan mereka ke kesempatan kerja yang lebih baik.
“Lewat program ini sebenarnya kita ingin bikin satu platform berbasis AI yang sangat aksesibel dan ramah terhadap penyandang disabilitas yang memudahkan mereka untuk bisa membuat profil yang profesional, CV dan juga menghubungkan mereka ke kesempatan kerja yang lebih baik. Hopefully 17 juta penyandang disabilitas usia produktif Indonesia,” kata dia.
Sebagai informasi tambahan, DBS Foundation kembali memberikan dukungan hibah sebesar SGD 4,9 juta atau sekitar Rp65 miliar kepada para 22 social enterprise dan bisnis berdampak sosial (businesses for impact/BFI) di Asia melalui DBS Foundation Grant Program 2025. Di Indonesia, dana hibah sebesar SGD 850.000 atau sekitar Rp11,2 miliar diberikan kepada lima social enterprise dan BFI, yakni Parongpong RAW Lab, KONEKIN, Nazava Water Filters, DoctorTool, dan Sosial Business Indonesia (SOBI). Dukungan tersebut diproyeksikan dapat menjangkau lebih dari 1,9 juta penerima manfaat.
”Melalui program ini, kami tidak hanya menyediakan pendanaan, namun juga memperkuat fondasi para social enterprise dan BFI melalui pendampingan dan akses jejaring agar mereka dapat tumbuh secara sehat sekaligus memperluas jangkauan dampaknya. Sebagai purpose-driven bank, kami berkomitmen untuk bertumbuh bersama komunitas dan membangun ekosistem yang lebih inklusif. Kami berharap para penerima hibah dapat menghadirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.