Cerita Jodhi, Ati, dan Dini, Wartawan Senior di Balik Perjalanan 30 Tahun Kompas.com
Memperingati HUT Ke-30 Kompas.com pada Minggu (14/9/2025) belum lengkap bila tidak membahas dedikasi para karyawannya.
Dari banyaknya karyawan yang sudah bekerja sejak Kompas Cyber Media didirikan, ada tiga jurnalis yang turut membantu Kompas.com agar bertahan hingga kini yaitu Jodhi Yudono, Ati Kamil, dan Dini Felicitas.
Setelah berkarier selama lebih dari 20 tahun, ketiganya saat ini sudah pensiun. Simak cerita dan pesan Jodhi, Ati, dan Dini berikut ini.
Mengawali karier dari media cetak
Jodhi Yudono (kiri) bersama teman-teman Kompas Cyber Media.
Sebelum pensiun pada akhir Oktober 2019, Jodhi merupakan editor kanal Entertainment, yang saat ini menjadi kanal Hype, sekaligus kolumnis.
Kariernya sebagai jurnalis hiburan, khususnya musik, teater, dan dunia kesenian, berawal pada tahun 1990 di tabloid Citra di bawah naungan KG Media.
“Setelah itu, tahun 1996 pindah ke majalah Jakarta Jakarta dan tahun 2000 pindah ke Kompas Cyber Media. Dari awal selalu di kanal hiburan karena basic saya di musik, teater, dan dunia-dunia kesenian,” kata Jodhi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (16/9/2025).
Ati Kamil (tengah) saat menemani Rano Karno (kanan) dan Maudy Koesnadi (kiri) mempromosikan Si Doel The Movie di Menara Kompas, Jakarta Pusat.
Sama seperti Jodhi, Ati juga mengawali karier dari media cetak. Mulanya ia menjadi reporter di Majalah Monitor sebelum pindah ke tabloid Citra pada tahun 1990.
“Saya kerja di Citra dari mulai saya menjadi reporter, kemudian redaktur, terus saya masuk di dewan redaksinya. Sempat mau diangkat jadi redaktur pelaksana, tetapi saya saat itu lagi program hamil, enggak boleh terlalu capek,” kata Ati, Selasa.
Ati pun bertahan menjadi reporter di tabloid Citra, termasuk ketika ia menjadi bagian Kompas Cyber Media berbarengan dengan Jodhi tahun 2000.
Sepanjang berkarier di Kompas.com, Ati selalu berada di kanal Entertainment. Ia kemudian diangkat menjadi editor, lalu ditugaskan sebagai asisten editor untuk regenerasi karyawan.
Menjelang masa-masa pensiunnya, yakni pada tahun 2019, Ati bekerja sebagai penulis konten terkait Bentara Budaya.
Dini Felicitas (paling kanan) saat berfoto dengan chef Akira Watanabe (tengha) dalam pembukaan AWKitchen.
Sementara itu, Dini memulai karier di majalah Hai yang juga di bawah KG Media pada tahun 1994. Namun, perjalanan kariernya di perusahaan ini cukup unik.
“Aku mulai dari majalah Hai tahun 1994. Dulu di grup majalah itu bebas mau bikin proyek apa pun. Dari majalah Hai, aku bikin proyek majalah tekno namanya Forsel. Ketika di Forsel, aku diminta bantu ke Kompas.com tahun 2009,” jelas Dini saat dihubungi, Selasa.
Saat diminta bergabung ke Kompas.com, Dini ditugaskan sebagai editor kanal Female, yang saat ini berubah menjadi Lifestyle, untuk membahas topik seputar perempuan bersama beberapa reporter perempuan lainnya.
Dini hanya bekerja di Kompas.com sampai akhir tahun 2013. Ia diminta kembali ke bagian majalah sampai tahun 2017, sebelum mengambil penawaran pensiun dini.
Apa nilai yang dianut dan dibawa ke Kompas.com?
1. Menjunjung tinggi persaudaraan
Ati Kamil (kiri) saat berpamitan untuk pensiun pada tahun 2019 dengan salah satu pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (kanan).
Jodhi menuturkan, sejak dulu ia bekerja di bagian majalah, KG Media selalu menjunjung tinggi kekerabatan antar-sesama pekerja.
“Kompas Gramedia itu betul-betul menjunjung tinggi persaudaraan. Sesama pekerja Kompas Gramedia itu sangat-sangat dekat, bahkan bawahannya memanggil atasannya itu mas atau mbak, setua apa pun,” kata Jodhi.
Kekerabatan ini masih dianut dan dibawa Jodhi ke Kompas.com. Hal ini diamini oleh Ati yang mengatakan, rasa persaudaraan tersebut juga tidak memandang status pekerja.
Entah status seorang karyawan adalah reporter, sales, office boy, atau satpam, semuanya saling bertegur sapa tanpa perlu merasa gengsi.
“Tidak menganggap office boy rendah karena semua punya bagian pekerjaan yang saling mendukung. Pak Jakob (Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia) sendiri kalau ketemu di lift suka menyapa, walaupun mungkin enggak ingat satu per satu pegawainya yang begitu banyak,” kenang Ati.
2. Mengedepankan kejujuran
Nilai lainnya yang turut dibawa ke Kompas.com adalah mengedepankan kejujuran. Artinya, sebagai seorang wartawan, sudah sepatutnya seseorang tidak menerima “uang pelicin”.
“Kami takut betul untuk mencuri seperak pun. Kami takut betul untuk misalnya menerima suap atau amplop,” kata Jodhi.
3. Tak melupakan perjuangan di lapangan
Ati Kamil (kiri) saat menemani Isyana Sarasvati (kanan) berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta Pusat, untuk mempromosikan lagu-lagu Disney yang dibawakan.
Semua yang berprofesi sebagai wartawan bakal memulai karier sebagai pejuang lapangan karena harus meliput demi mencari berita.
Tidak melupakan perjuangan di lapangan adalah nilai yang dianut dan dibawa Ati ke Kompas.com sebagai pengingat bahwa ia pernah berada di titik itu.
“Kita memang dididik untuk dari lapangan sampai akhirnya di meja redaksi (menjadi editor). Jadi kita tahu bagaimana di lapangan. Ketika kita naik (menjadi editor), kita juga tahu wartawan itu seperti apa (di lapangan),” tutur Ati.
Apa momen yang paling berkesan?
Jodhi dengan kolomnya
Jodhi Yudono (kiri) saat menemani Iwan Fals (kanan) sebelum konser pada tahun 2005 sebelum ia pensiun pada 2019.
Jodhi punya banyak momen berkesan sewaktu bekerja di Kompas.com. Namun, yang paling membekas di benaknya adalah kolom Akhir Pekan yang penuh dengan tulisan humaniora.
“Yang saya tulis ya siapa saja yang menyentuh hati saya. Yang saya angkat adalah hal-hal yang humanis,” kata Jodhi.
Ia pernah menulis tentang seorang pembantu. Ada pula kisah tetangganya yang bernama Sam, yang akrab disapa “pak Sam” dan akhirnya dipanggil dengan “kawan Sam”. Ia adalah seorang laki-laki yang rajin membersihkan lingkungan tanpa pamrih.
Menurut Jodhi, kisah-kisah yang sangat sederhana, tapi dikemas sedemikian rupa, bisa membuat pembaca tersentuh dan berempati dengan orang-orang dalam tulisannya. Bahkan, ada pembaca yang memberi bantuan untuk mereka.
“Kolom ini tentang manusia dan kemanusiaan, karena itulah kodratnya sebagai wartawan dan seniman, harus mengabdi pada kemanusiaan. Harus memuliakan manusia dan kemanusiaan. Upaya itu saya tuangkan melalui tulisan,” jelas Jodhi.
Ati dengan pengalamannya di luar negeri
Sebulan di Amerika Serikat bersama I Wayan Balawan
Ati termasuk karyawan Kompas.com yang pernah beberapa kali terbang ke luar negeri, salah satunya ke Amerika Serikat.
Saat berkunjung ke Negeri Paman Sam, Ati menghabiskan waktu sebulan demi “mengawal” pemusik jazz Indonesia, I Wayan Balawan.
Waktu itu, Ati bisa bertemu banyak orang dengan latar belakang dan budaya yang sangat berbeda. Tak hanya itu, lingkungan, kebiasaan, dan cuaca berbeda pula.
“Ke luar negeri itu bukan hanya persoalan kita berbahasa Inggris atau tidak, tapi juga bagaimana menghadapi orang yang budayanya, habitatnya, aturannya, dan disiplinnya berbeda. Itu kan membuat otak kita terisi,” tutur Ati.
Selanjutnya adalah tantangan untuk menggarap satu sosok selama sebulan, dengan angle yang harus berbeda-beda dalam setiap berita.
Ati harus benar-benar memutar otak agar tulisan-tulisan yang ia kirim dari Amerika Serikat tidak ada yang mirip, bahkan tulisan yang hampir mirip pun dihindari.
“Harus punya perencanaan selama hampir sebulan, seorang musisi itu mau digarap dari sisi apa saja. Jadi tidak hanya konser-konsernya saja. Semua harus digarap, sampai misalnya dia ke toko gitar mau lihat-lihat dan beli gitar,” cerita Ati.
Pergi ke Bosnia menemui Amelia Achmad Yani
Ati Kamil saat liputan ke Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2017 untuk memenuhi undangan Duta Besar Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina kala itu, Amelia Achmad Yani.
Momen lain yang paling berkesan bagi Ati adalah saat ia ke Bosnia dan Herzegovina atas undangan Duta Besar Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina tahun 2017 yakni Amelia Achmad Yani.
Amelia merupakan anak dari Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur saat Gerakan 30 September tahun 1965. Ati diundang untuk turut memperingati peristiwa gugurnya sang Jenderal.
“Ibu Amelia setiap tahun memperingati peristiwa gugurnya ayahnya. Di sana selalu menggelar doa, kemudian nanti merayakan Hari Kesaktian Pancasila,” ucap Ati.
Kala itu, Amelia memberi waktu untuk diwawancarai oleh Ati. Ia pun mengambil kesempatan untuk menggali perasaan Amelia dari sudut pandang seorang anak yang nyawa ayahnya direnggut begitu saja oleh orang lain.
Ati mengaku berusaha netral untuk memahami betapa terpukulnya kondisi psikologis Amelia kala sang ayah tiada. Amelia pun terbuka dengan jawabannya.
“Itu personal banget, harus pelan-pelan menanyakan ke orang yang punya trauma hidup, trauma sejarah. Dan setiap tahun kan selalu diperingati (Hari Kesaktian Pancasila), yang membuat dia pasti akan teringat terus,” kata Ati.
Dini dan kanalnya
Dapat penghargaan
Dini Felicitas (kedua dari kanan) saat bersama kawan-kawan Kompas.com sebelum pensiun dini pada tahun 2017.
Bagi Dini, momen berkesan sepanjang berkarier di Kompas.com adalah ketika kanalnya mendapat penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Dapat penghargaan karena menjadi media perempuan yang inspiratif, itu tahun 2012,” ucap Dini.
Penghargaan diberikan karena kanal Female menulis berbagai topik tentang perempuan, termasuk seputar pemberdayaan perempuan.
Penghargaan tersebut merupakan apresiasi kepada perempuan Indonesia, media massa, dan perusahaan yang memberi inspirasi kepada perempuan, dan diberikan dalam acara “Gemilang Perempuan Indonesia” di Hotel InterContinental, Jakarta, pada 22 Desember 2012.
Artikelnya sering dibahas di radio
Tulisan-tulisan di kanal Female disenangi banyak orang karena dianggap inspiratif dan informatif, meskipun Dini mengaku beberapa topik tergolong “receh”.
Sebab, artikel dari kanal tersebut sering dibahas di radio untuk acara bincang pagi.
9 Pesan untuk Kompas.com dan wartawan saat ini
1. Merdeka pikiran dan hatinya
Jodhi berharap agar para wartawan di Kompas.com tidak seperti itu dan terus bersemangat dalam mencari berita, serta tidak takut menghadapi tantangan apa pun yang bakal menghadang.
Menurut Jodhi, mayoritas wartawan saat ini memiliki wajah yang "tidak bercahaya" lantaran terlihat "kosong" tanpa harapan.
Ia berharap agar para wartawan di Kompas.com tidak seperti itu dan terus bersemangat dalam mencari berita, serta tidak takut menghadapi tantangan apa pun yang bakal menghadang.
“Seharusnya di dunia wartawan itu enggak boleh ada yang takut karena wartawan itu harus merdeka pikiran dan hatinya. Begitu ditindas, selesai itu tugasnya sebagai wartawan,” kata Jodhi.
2. Rebut hati pembaca
Kompas.com bisa berumur panjang karena tulisan-tulisannya mampu merebut hati para pembaca. Jodhi berharap agar seluruh tulisan dari Kompas.com tetap seperti itu.
“Semua orang mengejar keuntungan material, tapi cara yang benar untuk wartawan adalah dengan merebut hati masyarakat, hati pembaca,” kata dia.
3. Harus punya jejak abadi
Sebagai seorang wartawan, Jodhi menilai seseorang harus memiliki jejak abadi melalui tulisan yang bakal dikenang oleh banyak orang.
“Saya berharap, semua wartawan harus punya jejak abadi, punya warisan untuk anak, cucu, untuk masyarakat,” kata Jodhi.
Jejak abadi bisa berupa buku yang ditulis oleh seorang wartawan, atau buku yang berisi kompilasi berita yang pernah ditulis oleh wartawan tersebut.
4. Jangan sepenuhnya terpaku pada internet
Ati mengakui wartawan saat ini sangat dimudahkan dalam mencari informasi karena internet bisa diakses kapan saja dan di mana saja.
Akan tetapi, ia mengingatkan agar wartawan jangan sepenuhnya terpaku pada internet. Mereka bisa memanfaatkan sumber informasi tradisional seperti buku.
5. Jangan cuma mengandalkan siaran pers
Ati juga mengingatkan agar wartawan masa kini tidak hanya mengandalkan siaran pers atau pers release saat liputan.
Ati juga mengingatkan agar wartawan masa kini tidak hanya mengandalkan siaran pers atau pers release saat liputan.
Mereka bisa memanfaatkan narasumber untuk menggali lebih dalam tentang topik yang dipaparkan dalam liputan itu.
6. Ambil berita dari media sosial? Tetap harus konfirmasi
“Sekarang, konten-konten TikTok atau apa pun yang viral di media sosial kan diberitain,” tutur Ati.
Menurut Ati, hal tersebut sah-sah saja dilakukan oleh wartawan, asalkan ada konfirmasi lebih lanjut perihal konten tersebut, entah dari orang yang bersangkutan atau ahli.
Misalnya adalah konten soal kesehatan yang diunggah oleh akun random di media sosial. Untuk memastikan apakah informasi dalam konten tersebut valid, seorang wartawan harus konfirmasi ke dokter.
7. Jangan ceroboh
Pesan lainnya dari Ati adalah agar para wartawan muda tidak ceroboh dalam menulis berita karena mengandalkan internet.
“Karena ada internet, sekarang jadi gampang meralat berita. Jangan sampai seperti itu. Kecepatan dalam menulis berita oke, tapi akurasi juga tetap harus dijaga sejak awal, jangan, ‘Ah nanti juga bisa dibetulin’. Jangan begitu,” kata Ati.
8. Olahraga agar tidak stres
Ati Kamil (kanan) bermain basket saat masih bekerja di Kompas.com sebelum pensiun pada tahun 2019.
Sudah menggeluti profesi wartawan selama hampir 30 tahun, Ati sudah tidak asing dengan beban kerja profesi tersebut.
Oleh karena itu, Ati mengimbau agar wartawan bisa menyisihkan waktu untuk berolahraga agar tidak stres.
“Satu hal yang asyik di Kompas.com kan ada teman-teman yang suka olahraga juga. Ada yang mau sepedaan, lari, basket. Kita bisa latihan, seru-seruan saja, yang penting olahraga. Orang kalau kerja mulu kan stres, harus ada refreshing-nya,” ucap Ati.
Menurut Ati, wartawan Kompas.com tidak perlu mencari lokasi olahraga yang jauh dari kantor karena ada lapangan di dekat kantor yang bisa dimanfaatkan untuk berolahraga.
9. Terus menginspirasi pembaca
Dini Felicitas saat bersama kawan-kawan Kompas.com sebelum pensiun dini pada tahun 2017.
Dini menitipkan pesan agar para wartawan di Kompas.com terus menginspirasi para pembaca melalui artikel-artikel yang dimuat.
“Selalu tidak lupa untuk menjadi inspirasi, sekaligus mendidik juga. Kontennya enggak cuma mengejar yang lagi viral, tapi juga tetap ada unsur mendidik,” ucap Dini.
“Jangan lupa dengan bawaan Pak Jakob, memegang teguh etika jurnalistik. Jangan lupa untuk tetap (menjunjung) jurnalisme yang berpihak pada rakyat,” pungkas dia.
Sebagai informasi, Kompas.com memasuki usia ke-30 yang jatuh pada Minggu (14/9/2025). Rangkaian perayaan hari ulang tahun (HUT), berupa ziarah ke makam para pendiri Kompas-Gramedia, Jakob Oetama dan P.K. Ojong.
Sebelumnya pada Sabtu (13/9/2025), digelar pula ziarah ke beberapa rekan kerja yaitu ke makam Ervan Hardoko, Muhammad Latief, dan Kurnia Sari Aziza.
Puncak acara pada Senin (15/9/2025), digelar Festival HUT berupa Obrolan Newsroom On Stage dan LiteraTalk yang merupakan bagian dari Jagat Literasi, serta Awarding Kolumnis.
Acara pamungkas, Bersuka Ria, menjadi kemeriahan pada Senin malam. Keseluruhan rangkaian perayaan HUT Ke-30 Kompas.com ini merupakan hasil kerja sama bersama Riady Foundation, ParagonCorp, dan Blibli. Juga didukung oleh Kita Bisa dan Gramedia.
Sementara itu, misi Jagat Literasi di Perbatasan Ekspedisi dari Kata ke Nyata Kompas.com hadir melalui inisiatif Jagat Literasi untuk merayakan HUT ke-30 Kompas.com. Relawan mengajarkan literasi media dan literasi baca di 20 sekolah yang tersebar di Banten, Jawa Tengah, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan DKI Jakarta.
Selain mengajar, mereka menyalurkan donasi buku anak dengan target 10.000 eksemplar agar siswa di berbagai daerah bisa mendapatkan bacaan yang layak. Ekspedisi Kata ke Nyata didukung gerakan STEM Indonesia Cerdas dari Riady Foundation, serta ParagonCorp, dan Gramedia.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.