DPR Usul Industri Komponen Otomotif Diberi Insentif, Tekan PHK
Industri komponen otomotif sedang dihantui bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Hal tersebut terjadi akibat serbuan mobil listrik impor dengan kondisi Completely Built Up (CBU).
Situasi semakin memburuk saat kondisi ekonomi di Tanah Air tertekan. Membuat pasar mobil dan motor baru terganggu.
Melihat hal tersebut DPR RI mengusulkan pemerintah memberikan perhatian lebih untuk industri komponen otomotif.
“Kontribusi UMKM dalam rantai pasok industri otomotif sangat besar, mulai dari penyediaan komponen hingga jasa pendukung,” ungkap Siti Mukaromah, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di laman resmi PKB, Minggu (13/09).

Siti menjelaskan kalau pemerintah dapat memberikan insentif untuk industri komponen otomotif yang ada di Tanah Air.
Sebab hal tersebut mampu memberikan dampak positif. Seperti menekan biaya produksi motor maupun mobil.
Lalu harga kendaraan bermotor menjadi lebih terjangkau. Otomatis lapangan kerja juga akan semakin terbuka luas.
“UMKM adalah fondasi industri, kalau mereka lemah maka industri otomotif tidak akan mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ia menambahkan.
Wanita yang kerap disapa Erma itu, menuturkan saat ini sektor otomotif menemui berbagai tantangan sangat besar. Seperti percepatan transisi kendaraan listrik.
Kemudian masih ada persaingan di pasar regional sampai tuntutan menekan emisi karbon. Membuat mereka harus terus berinovasi.
Oleh sebab itu pemerintah dirasa wajib hadir memberikan dukungan insentif. Dengan begitu mereka dapat terus bertahan di tengah tekanan.
Apalagi otomotif merupakan salah satu sektor strategis dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“Regulasi yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang sangat dibutuhkan agar industri ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing secara global hingga dapat menghindarkan dari PHK massal,” tegas Erma.
Industri Komponen Otomotif Berdarah-darah
Seperti diberitakan KatadataOTO sebelumnya, kondisi industri komponen otomotif sedang terhimpit.
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) utilisasi industri mobil turun. Dari semula 73 persen menjadi hanya 55 persen saja.
Lalu penjualan mobil baru dari diler ke konsumen (retail) hanya 889.680 unit pada 2024. Jumlah tersebut merosot 10,9 persen dari 998.059 unit di 2023.
Kondisi ini diperparah dengan masuknya mobil listrik impor yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) rendah.
Dampaknya adalah industri komponen dalam negeri mulai menjerit. Ancamanan PHK massal sudah di depan mata.

“Pada 2024 kendaraan listrik itu semakin banyak, namun ini menekan kendaraan-kendaraan yang sudah diproduksi di dalam negeri,” ungkap Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di kesempatan berbeda.
Perlu diingat, banyak manufaktur yang memproduksi kendaraan roda empat di dalam negeri mengandalkan pasokan komponen dari UMKM. Jadi bila penjualan terus anjlok maka industri lokal kian berdarah-darah.
Apalagi Kukuh menerangkan bahwa mobil-mobil yang sudah dirakit lokal, mengantongi TKDN berkisar 80 persen sampai 90 persen.
Dengan begitu serbuan EV CBU cukup menekan para pelaku usaha atau industri komponen otomotif di dalam negeri.