Startup Italia Bending Spoons Caplok Vimeo Senilai Rp 22,7 Triliun

akuisisi, Vimeo, bending spoons, platform video, Startup Italia Bending Spoons Caplok Vimeo Senilai Rp 22,7 Triliun

Perusahaan teknologi asal Italia, Bending Spoons, mengakuisisi platform video streaming populer, Vimeo. Nilai akuisisi tersebut berkisar di angka 1,38 miliar dollar AS (sekitar Rp 22,7 triliun) dan akan dibayarkan secara tunai. 

Menurut laporan Bloomberg, akuisisi ini membuat investor Vimeo akan menerima 7,85 dollar AS (sekitar Rp 129.000) per lembar saham.

Angka ini jauh lebih tinggi, yaitu 91 persen lebih besar dibandingkan harga rata-rata saham perusahaan dalam 60 hari terakhir hingga 9 September.

Menurut pernyataan resmi, transaksi ini diperkirakan akan selesai pada kuartal keempat tahun ini. Setelah proses tersebut rampung, saham Vimeo tidak lagi diperdagangkan di bursa dan kembali menjadi perusahaan tertutup.

Vimeo sendiri, yang berdiri sejak 2004 lalu, melantai di NYSE pada 25 Mei 2021 setelah pisah (spin-off) dari perusahaan induk IAC/InterActiveCorp.

Terkait Bending Spoons, startup yang dibikin pada 2013 ini belakangan memang gencar melakukan akuisisi. Hal ini dilakukan karena mereka telah mendapatkan sederet pendanaan dari para investor pada 2024 lalu. 

Saat ini, perusahaan tersebut sudah menaungi sejumlah aplikasi yang cukup terkenal dan banyak dipakai pengguna, mulai dari Remini, Splice, Evernote, hingga FilmoraGo.

Vimeo kesulitan bersaing

akuisisi, Vimeo, bending spoons, platform video, Startup Italia Bending Spoons Caplok Vimeo Senilai Rp 22,7 Triliun

Tampilan Vimeo Streaming, layanan baru Vimeo yang memungkinkan kreator membuat platform streaming berlangganan ala Netflix tanpa perlu kemampuan coding.

Popularitas Vimeo sendiri sebenarnya sempat melonjakan saat pandemi Covid-19 karena dipakai bisnis dan individu untuk komunikasi daring. Namun, pamor perusahaan kian meredup akibat sejumlah faktor.

Salah satunya adalah kehilangan momentum memanfaatkan momen serba online, termasuk maraknya live streaming dan video conference, pada pandemi Covid-19 sekitar 2020-2022 lalu.

Selain itu, persaingan ketat dari para kompetitor, seperti YouTube hingga TikTok, juga membuat Vimeo kesulitan tumbuh. Hal ini juga bisa jadi disebabkan oleh model bisnis Vimeo yang tak seperti kompetitor, bisa dinikmati gratis dengan iklan. 

Alih-alih gratis, Vimeo justru mengandalkan model bisnis langganan berbayar, sehingga pelanggan bisa menikmati video tanpa iklan.

Model bisnis ini juga menargetkan pelanggan profesional atau bisnis, bukan pelanggan umum dan gratisan.

Karena model bisnis seperti ini, Vimeo tampak kesulitan bersaing dan nilai pasarnya anjlok selama beberapa tahun belakangan. 

Sejak spin-off pada 2021, kapitalisasi pasar Vimeo disebut menyusut hampir 90 persen. 

Kala itu, valuasi Vimeo berkisar di angka 18,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 302,7 triliun). Namun kini di momen akuisisi, nilai pasar Vimeo hanya berkisar di angka 797 juta dollar AS (sekitar Rp 13,1 triliun). 

Karena bisnisnya terus turun, perusahaan konon sempat melakukan pemangkasan karyawan dan sejumlah upaya efisiensi. Namun, beragam langkah ini tampaknya belum berhasil.

Sehingga melepas atau menjual perusahaan ke startup lain tampaknya merupakan solusi bagi Vimeo agar bisa tumbuh, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Bloomberg, Kamis (11/9/2025).

Pasca pengumuman akuisisi oleh Bending Spoons, saham Vimeo melonjak 61 persen ke level 7,74 dollar AS (sekitar Rp 127.000) per lembar pada perdagangan di NYSE.

Per 10 September 2025, kapitalisasi pasar Vimeo perlahan naik dan kini berada di angka 1,28 miliar dollar AS (sekitar Rp 21 triliun).

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.