Remaja Bandung Diduga Jadi Korban TPPO di Kamboja, Dedi Mulyadi Langsung Perintahkan Penanganan
Seorang remaja asal Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah dibawa ke Kamboja untuk bekerja dalam modus penipuan daring melalui platform percintaan. Korban inisial RNF (18).
Kasus ini pertama kali terungkap setelah keluarga melapor ke Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung pada 7 November 2025. Kepala Disnaker, Dadang Komara, menyebut laporan langsung ditindaklanjuti.
"Kami sudah menindaklanjuti sesuai kewenangan. Laporan dari pihak keluarga pada Jumat, 7 November kemarin. Kami menyampaikan surat permohonan pemulangan Fadhil berikut kronologi dari pihak keluarga kepada BP3MI pada Senin," ujarnya pada Selasa (18/11/2025).
Bagaimana Respons Pemerintah Provinsi Jawa Barat?
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku baru mengetahui kasus tersebut, tetapi menegaskan akan segera menangani.
"Saya belum dengar sekarang. Ya sudah kita tangani deh. Saya baru dengar sekarang malah itu," kata Dedi saat ditemui di Gedung Sabuga ITB, Kota Bandung.
Ia menjelaskan bahwa Pemprov Jabar telah lama mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran bekerja di luar negeri tanpa lembaga resmi.
"Ya, kalau saya kan Provinsi itu sudah jelas melarang. Bila perlu nanti saya keluarin lagi peraturan Gubernur larangan warga Jabar untuk pergi ke daerah ini, daerah ini yang kemudian di negara tersebut menimbulkan penderitaan dan jumlahnya banyak," ujarnya.
Dedi menegaskan bahwa praktik perdagangan orang adalah persoalan serius. Pemerintah kerap harus menanggung biaya pemulangan korban.
"Enggak ada problem sih, tetapi kan apabila itu tidak terjadi kan pembiayaan bisa diarahkan untuk kepentingan lain," ucapnya.
Bagaimana Kronologi Keberangkatan RNF?
Imas Siti Rohana dan Dedi Solehudin (menggunakan jaket jeans) ayah Rizki Nur Fadhila (18) seorang remaja asal Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang menhadi korban TPPO, saat ditemui di kediamannya, Selasa (18/11/2025)
Kisah ini bermula dari mimpi RNF menjadi pesepak bola profesional. Ia menerima tawaran seleksi klub sepak bola di Medan.
Pada 26 Oktober 2025, ia dijemput travel menuju Jakarta untuk kemudian diterbangkan ke Medan.
Namun setibanya di sana, rute berubah: ia dibawa ke Malaysia dan akhirnya ke Kamboja. Ayah korban, Dedi Solehudin, menjelaskan anaknya mengaku dijebak.
"Katanya, 'Pak, Aa dijebak'. Ditanya dari mana, dia bilang dari Facebook," ujarnya.
Setelah itu, kontak perekrut terputus karena seluruh nomor yang ada di ponsel Fadhil dihapus.
Apa yang Dialami Korban di Kamboja?
Kondisi di Kamboja sangat jauh dari bayangan seleksi sepak bola. RNF dipaksa bekerja dengan target mencari korban penipuan daring, menyasar warga negara China.
"Targetnya harus dapat 20 nomor orang China. Kalau enggak dapat, dia disiksa," kata Dedi.
RNF mengaku dipukul berulang kali, dipaksa kerja fisik berat, termasuk mengangkat galon dari lantai satu hingga lantai sepuluh.
Jam kerja berlangsung dari pukul 08.00 hingga tengah malam, bahkan lebih lama jika target belum terpenuhi.
Meski dalam tekanan, RNF berupaya mengirim pesan secara sembunyi-sembunyi, berisi permintaan tolong. Keluarga kemudian melapor ke berbagai instansi, termasuk Gedung Sate, tetapi belum mendapat tindak lanjut yang jelas.
"Tolong, Pak Presiden, bagaimana selanjutnya? Tolong bantu anak saya pulang dengan kondisi sehat," ujar sang ayah.
Bagaimana Reaksi Keluarga Lainnya?
Kasus ini menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Nenek RNF, Imas Siti Rohanah (52), membuat video permohonan bantuan.
Ia menceritakan bahwa sejak awal keluarga ragu dengan tawaran seleksi tersebut karena tidak ada kontak pelatih atau manajer.
Sebuah nomor tak dikenal kemudian mengaku sebagai manajer bernama Yoga Rustam, tetapi komunikasi berjalan tidak meyakinkan.
Empat hari kemudian, ibu RNF yang bekerja sebagai PMI di Hongkong mengabarkan bahwa putranya berada di Kamboja.
Imas mengisahkan bahwa cucunya dijemput pada 26 Oktober 2025. Sehari setelahnya, ia melihat unggahan foto tiket pesawat ke Medan. Namun penjelasan dari pihak yang mengaku manajer justru memperbesar kecurigaan.
"Ya sudah, Bu, dia berangkat sama teman-teman yang lain," ujar Imas menirukan.
RNF dikenal sebagai remaja aktif yang sejak kecil bermain sebagai penjaga gawang dan membantu usaha cokelat milik pamannya. Keluarga berharap ia bisa segera dipulangkan dalam keadaan selamat.
"Kami berharap cucu kami bisa cepat dipulangkan dalam keadaan sehat. Kami minta semua pihak terkait, terutama pemerintah, membantu memulangkannya secepat mungkin," kata Imas.
Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Warga Bandung Jadi Korban TPPO, Dedi: Bila Perlu Saya Kerluarkan Larang ke Kamboja".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.