Pejabat Meninggalkan Rakyatnya Saat Terjadi Banjir, Gus Baha: Ngawur Pasti Orang Itu

Kondisi dari udara situasi bencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh.
Kondisi dari udara situasi bencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh.

 Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS menjadi sorotan usai melaksanakan ibadah umroh saat bencana banjir dan longsor yang melanda 11 kecamatan di wilayahnya. Aksi Mirwan MS ini juga sempat disentil oleh presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas bersama sejumlah menteri.

Dalam rapat percepatan penanganan bencana di Sumatera yang digelar di Lanud Sultan Iskandar Mudah Aceh Besar, Minggu 7 Desember kemarin, Prabowo langsung meminta Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian untuk mencopot jabatan Mirwan MS sebagai bupati. Prabowo sendiri menilai tindakan yang dilakukan Mirwan MS itu sebagai desersi atau lari dari tugas.

"Kalau yang mau lari, lari aja enggak apa-apa. Dicopot Mendagri bisa ya, diproses," kata Prabowo.

Diketahui juga bahwa Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem sebelum tidak memberikan izin kepada Mirwan untuk menjalankan ibadah umroh saat itu. Namun nyatanya Mirwan tetap pergi beribadah ke tanah suci.

Menyusul dengan tindakan Mirwan yang memilih beribadah umroh ditengah bencana yang melanda 11 kecamatan di wilayahnya ini juga mendapat sorotan ulama asal Rembang, Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha. Dijelaskannya bahwa pejabat meninggalkan daerahnya yang tengah dilanda musibah untuk beribadah ke tanah suci adalah orang yang ngawur.

”Seperti misalnya peristiwa kamu pejabat pas daerah kamu ada musibah banjir kamu tinggal i’tikaf di Kaabah itu orang nggak anggap i’tikaf itu, itu ngawur pasti orang itu,” kata Gus Baha dikutip dari video yang diunggah di akun nahdliyyinbersatu, Rabu 10 Desember 2025.

Disebutkan oleh Gus Baha bahwa seorang pejabat yang mengabaikan rakyatnya saat mereka sedang mengalami kesusahan sama halnya orang yang meninggalkan fardu ain. Fardu ain sendiri adalah kewajiban individu yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang sudah memenuhi syarat seperti balig dan berakal, serta tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Jika kewajiban ini ditinggalkan, pelakunya akan menanggung dosa karena sifatnya yang personal dan mengikat.

"Karena meninggalkan fardu ain saya di sini kata orang banyak kan keren misalnya sama ahli tafsir, Tapi misalnya saat ini istri saya sedang sakit atau anak saya sakit itu pasti dianggap ngawur itu karena meninggalkan fardu ain,” kata dia.

Gus Baha mengungkap menurut pandangannya fardu ain sendiri segala-galanya. Bahkan mengutip kata Allah dalam hadist Qudsi tidak ada ibadah yang disukai oleh Allah sebagaimana ibadah orang melakukan fardu.

”Jadi fardu ain itu menurut saya segala-galanya  makanya saya sering ngaji di majelis taklim saya sering cerita kata Allah dalam hadist Qudsi ’nggak ada ibadah yang paling Saya sukai sebagaimana ibadah orang melakukan fardu’. Jadi fardu ain ini konstitusi berarti orang-orang yang cari makan untuk keluarga dan statusnya fardu ain itu lebih keren ketimbang orang mencari kekayaan untuk penyempurna,” ujar Gus Baha.