Sudah Sering Kecelakaan, Kenapa Balap Liar Masih Eksis?

balap liar, kecelakaan, Sudah Sering Kecelakaan, Kenapa Balap Liar Masih Eksis?

Meski sudah sering memakan korban jiwa dan menyebabkan kecelakaan fatal, aksi balap liar di kalangan remaja seolah tidak pernah ada habisnya. Penegakan hukum dan pembubaran oleh pihak kepolisian dinilai belum sepenuhnya memberikan efek jera.

Banyak pelaku yang tetap nekat memacu kendaraannya di jalan umum tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, mengatakan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan ego dan psikologis remaja yang masih labil.

balap liar, kecelakaan, Sudah Sering Kecelakaan, Kenapa Balap Liar Masih Eksis?

Balap Liar - Puluhan remaja terjaring razia balap liar di Jalan Soekarno-Hatta, Tuban, Minggu (12/4/2026) dini hari. Sebanyak 71 sepeda motor diamankan beserta hampir 100 remaja.

Gengsi dan Pencarian Jati Diri

"Menurut saya, karena banyak pelaku yang lebih mengutamakan adrenalin dan gengsi dibanding memikirkan risikonya. Sebab biasanya mereka anak-anak muda yang masih mencari jati diri," ujar Agus kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2026).

Agus menambahkan, para pelaku balap liar ini sering kali memiliki pola pikir yang keliru mengenai potensi bahaya di jalan raya. Mereka merasa memiliki kemampuan penuh atas kendaraannya dan kebal dari musibah.

"Mereka sering merasa kecelakaan tidak akan menimpa dirinya. Padahal faktanya, balap liar sangat berbahaya dan korbannya bukan hanya pelaku, tapi juga pengguna jalan lain yang tidak bersalah," kata Agus.

Efek Jera dan Solusi 

Lebih lanjut, Agus menyebutkan bahwa kesadaran biasanya baru akan muncul secara terlambat ketika para pelaku atau lingkungan terdekatnya sudah mengalami dampak fatal secara langsung, misalnya mengalami cacat fisik.

"Mungkin kalau sudah cacat, misal ada yang diamputasi, baru sadar. Setidaknya bisa mikir akibatnya karena bisa lihat langsung akibat dari balap liar itu. Kalau mereka tidak kapok, kata bahasa Jawanya mah 'ndableg' (keras kepala)," ucap Agus.

Oleh karena itu, untuk benar-benar memberantas fenomena balap liar ini, Agus menilai tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek saja. Perlu ada sinergi dari berbagai pihak untuk memberikan edukasi sekaligus fasilitas yang tepat.

"Untuk mengurangi balap liar, saya kira perlu adanya kombinasi antara penegakan hukum, edukasi, dan penyediaan wadah positif bagi anak muda yang memiliki minat di dunia balap, agar meminimalisir adanya balap liar di jalan raya," kata Agus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang