Kandungan Skincare yang Sering Dikira sebagai Penyebab Jerawat, Apa Saja?

skincare, jerawat, purging, Jerawat, breakout, Purging, kandungan skincare, dermatologist, kandungan skincare yang dikira penyebab jerawat, Kandungan Skincare yang Sering Dikira sebagai Penyebab Jerawat, Apa Saja?

Masih banyak orang yang salah kaprah mengenai kandungan skincare yang dianggap bisa memicu jerawat.

Padahal, beberapa bahan aktif seperti retinal, vitamin C, sulfur, dan AHA justru membantu mengatasi jerawat, serta meredakan peradangan pada kulit.

Beberapa bahan aktif memang bisa menimbulkan reaksi awal berupa munculnya jerawat. Namun, hal ini bukan berarti tanda ketidakcocokan.

Justru, reaksi tersebut bisa jadi pertanda bahwa produk sedang bekerja dan mempercepat proses regenerasi kulit.

Menurut dr. Riris Asti Respati, dokter spesialis kulit, fenomena ini umum terjadi, terutama pada produk dengan bahan aktif yang menembus lapisan kulit terdalam. Salah satunya adalah retinal.

"Retinal sebenarnya turunannya dari retinoid acid. Retinoid acid itu sendiri sebenarnya adalah obat buat jerawat," ujar dr. Riris dalam acara Wardah Skinverse Clinic 2025 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Senin (21/7/2025).

Retinoid acid merupakan turunan vitamin A yang terkenal sebagai bahan aktif untuk mengatasi jerawat, merangsang regenerasi sel kulit, hingga menyamarkan hiperpigmentasi.

Namun, di awal penggunaan, kandungan ini bisa memicu fase purging, yaitu kondisi ketika jerawat muncul akibat percepatan pergantian sel kulit.

Jangan Panik jika Muncul Jerawat di Awal Pemakaian

Munculnya jerawat kecil, kulit kemerahan, atau mengelupas kerap membuat pengguna panik dan buru-buru menghentikan pemakaian. Padahal, reaksi ini bisa bersifat sementara dan bagian dari proses adaptasi kulit.

Perlu dibedakan antara purging dan breakout. Purging terjadi di area wajah yang memang biasa berjerawat dan akan membaik dalam 2–4 minggu, seiring proses regenerasi kulit.

Sementara breakout biasanya muncul di area baru yang sebelumnya tidak bermasalah, sebagai reaksi negatif terhadap produk yang tidak cocok.

Kandungan Lain yang Sering Dikira Penyebab Jerawat

Tak hanya retinoid, ada beberapa kandungan skincare lain yang sering dikira sebagai penyebab jerawat. Padahal, bahan-bahan berikut justru berperan penting dalam penyembuhan jerawat.

Dilansir dari WebMD, berikut beberapa di antaranya:

1. Benzoil Peroksida

Merupakan obat jerawat yang umum direkomendasikan oleh dokter. Benzoil peroksida bekerja membunuh bakteri penyebab jerawat dan membuka pori-pori yang tersumbat dengan mengangkat sel kulit mati.

2. Vitamin C

Dikenal juga sebagai asam askorbat, Vitamin C memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi. Kandungan ini membantu mengurangi kemerahan dan pembengkakan pada kulit yang berjerawat.

3. AHA (Alpha Hydroxy Acid)

AHA bekerja dengan cara mengeksfoliasi kulit, mengangkat sel-sel mati, dan merangsang pertumbuhan sel kulit baru. Ini tidak hanya mengatasi jerawat, tapi juga memperbaiki kondisi kulit dengan bekas jerawat.

4. Sulfur

Sering dikombinasikan dengan benzoil peroksida atau asam salisilat, sulfur bekerja mengangkat sel kulit mati dan menyerap minyak berlebih (sebum) yang bisa memicu jerawat. Kandungan ini cocok untuk pemilik kulit berminyak.

Namun demikian, kandungan-kandungan tersebut tetap bisa menimbulkan efek samping seperti kulit kering, iritasi, hingga kemerahan.

Untuk meminimalkan risiko ini, kamu bisa mulai dari produk dengan kadar bahan aktif yang rendah terlebih dahulu.

Kapan Harus Menghentikan Pemakaian Produk?

Menurut dr. Riris, waktu ideal untuk menilai kecocokan skincare adalah sekitar satu bulan, seiring dengan siklus regenerasi kulit.

"Kalau enggak ada efek apapun dan mau lihat outcome-nya bagaimana, kurang lebih sebulan. Ikutin fase regenerasi kulit," pungkasnya.

Kuncinya, kulit yang sehat membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Munculnya jerawat bukan pertanda tidak cocok, melainkan bisa jadi tanda awal produk sedang bekerja.