Libur Akhir Tahun, 30.000 Wisatawan Diprediksi Kunjungi Candi Borobudur

Yogyakarta, Candi Borobudur, Libur Akhir Tahun, 30.000 Wisatawan Diprediksi Kunjungi Candi Borobudur

Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) prediksi sebanyak 30.000 wisatawan bakal kunjungi Candi Borobudur pada saat libur periode Natal dan tahun baru (Nataru).

Direktur Utama BPOB Agustin Peranginangin menyampaikan saat momen pergantian tahun wisatawan yang berkunjung ke Borobudur cenderung stabil dari tahun ke tahun.

“Biasanya yang ke Borobudur tidak kurang dari 30.000,” ujarnya saat ditemui di Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).

Agustin menyampaikan, jumlah itu sudah memperhitungkan kapasitas Candi Borobudur.

Lanjut dia pembatasan kunjungan ke struktur candi masih diberlakukan yaitu 400-450 per satuan waktu. Pembatasan itu bertujuan untuk kenyamanan dan kelestarian bangunan candi.

Sebelum dilakukan pembatasan, wisatawan yang diperbolehkan naik ke struktur candi antara 1.150 hingga 1.200 wisatawan per satuan waktu. 

Selain pengaturan kapasitas, BPOB juga mencermati masih adanya persepsi di masyarakat terkait mahalnya tiket masuk Candi Borobudur sehingga menjadi pekerjaan rumah pemulihan citra destinasi wisata itu.

"Memang Borobudur ini perlu pemulihan imej, yang pertama imej dianggap orang itu Rp1 juta (tarif) tiketnya. Padahal enggak," katanya.

Pengembangan Perbukitan Menoreh

Yogyakarta, Candi Borobudur, Libur Akhir Tahun, 30.000 Wisatawan Diprediksi Kunjungi Candi Borobudur

Perbukitan Menoreh dari Gunung Kendil Kulon Progo.

Selain memiliki kewenangan di Candi Borobudur, BPOB juga berwenang pada pengembangan wisata perbukitan Menoreh.

Pengembangan Perbukitan Menoreh ini menjadi bagian dari Destinasi WIsata Super Prioritas (DPSP).

Agustin mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan potensi bencana tanah longsor di kawasan Perbukitan Menoreh. Oleh sebab itu dalam pengembangan kawasan ini pihaknya memperhatikan sisi ekologis Perbukitan Menoreh.

“Contoh yang tidak boleh dilakukan adalah mengebor air, dalam kawasan itu tidak dilakukan,” ujarnya.

Ia mengatakan pemanfaatan air tanah dengan cara pengeboran dihindari karena untuk mengurangi risiko bencana yang kemungkinan terjadi di kawasan ini.

Lanjut dia, penebangan hutan juga dihindari lantaran kawasan ini memiliki jenis tanah merah dan batu-batuan, sehingga risiko tinggi jika penebangan hutan dilakukan secara masif.

"Yang kedua, kita mengurangi, menghindari penebangan lahan ya,” ujar dia.

Lanjut dia pembangunan kawasan Perbukitan Menoreh menyesuaikan kontur tanah.

“Ini penyesuaian pembangunan dengan kontur tanah) juga salah satu upaya-upaya untuk menghindari longsor,” kata dia.

Sementara itu, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merilis beberapa destinasi wisata yang berpotensi tanah longsor. Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi mengatakan  bahwa berdasarkan hasil olahan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY terdapat 3 (tiga) kawasan wisata yang mempunyai potensi rawan tanah longsor.

Destinasi wisata yang memiliki potensi tanah longsor yakni: Perbukitan Menoreh Pegunungan Sewu Perbukitan Patuk Imogiri.

Di dalam Kawasan tersebut terdapat beberapa destinasi wisata diantaranya Nglinggo Tritis, Puncak Widosari, Puncak Suroloyo, Sendangsono, Embung Tonogoro, Desa Wisata Tinalah, Desa Wisata Jatimulyo, Nglanggeran, Goa Pindul, Kalisuci, Air terjun Srigethuk, Goa Jomblang, Desa Wisata Wukirsari, Mangunan (Becici, Pengger), Imogiri, HeHa Sky View, dan Bukit Bintang.

“Menilik data yang ada, sejak tahun 2023 kejadian longsor di destinasi wisata tercatat hanya terjadi di area parkir Tebing Breksi. Selebihnya kejadian longsor tidak secara spesifik terjadi di destinasi wisata sehingga tidak berdampak kepada operasionalisasi destinasi tersebut,” ujar Imam dalam keterangannnya, Selasa (9/12/2025).

Namun demikian, kejadian longsor di beberapa daerah juga berdampak pada kerusakan infrastruktur, khususnya jalan, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya akses. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang