Karakter Sinterklas Pakai Baju Warna Merah Populer Berkat Iklan Minuman, Ini Sejarahnya
Rasanya sulit membayangkan suasana Natal tanpa kehadiran Sinterklas, sosok yang selalu dinanti menjelang hingga hari perayaan tiba.
Tokoh ini dikenal dekat dengan anak-anak karena identik dengan kebiasaannya membagikan hadiah, mulai dari permen, pakaian, hingga berbagai mainan.
Sinterklas juga kerap digambarkan sebagai pria lanjut usia bertubuh gemuk, berjanggut putih, dengan tawa khas bersuara berat yang mudah dikenali.
Namun, ada satu hal yang kerap memunculkan rasa penasaran, yakni alasan mengapa Sinterklas hampir selalu digambarkan mengenakan topi, mantel, dan celana panjang berwarna merah.
Sebagian orang meyakini bahwa busana merah tersebut berasal dari iklan Coca-Cola pada era 1930-an.
Lalu, apakah anggapan tersebut benar? Berikut penjelasannya.
Sejarah Sinterklas dalam iklan Coca-Cola
Dikutip dari , Minggu (25/12/2022), Sinterklas sejatinya merupakan visualisasi dari Santo Nikolas atau Saint Nicholas.
Ia adalah seorang biarawan dari Myra yang hidup sekitar abad ke-3 Masehi.
Meski demikian, muncul anggapan bahwa citra Sinterklas modern diciptakan oleh perusahaan minuman bersoda asal Amerika Serikat, Coca-Cola.
Hubungan antara Sinterklas dan Coca-Cola mulai ramai dibicarakan sejak dekade 1920-an.
Perusahaan minuman tersebut telah menampilkan Sinterklas dalam materi iklannya sejak tahun 1920.
Pada masa tersebut, penampilan Sinterklas terlihat lebih ramping karena terinspirasi dari ilustrasi kartunis Thomas Nast.
Selanjutnya, penggambaran karakter Natal ini diteruskan oleh seniman Fred Mizen.
Mizen melukiskan Sinterklas tengah menikmati Coca-Cola di tengah keramaian, sebuah visual yang cukup mencuri perhatian publik saat itu.
Dari sinilah, Archie Lee, eksekutif di agensi periklanan D’Arcy yang bekerja sama dengan Coca-Cola, menginginkan tampilan Sinterklas yang berbeda.
Ia berharap sosok Sinterklas dalam iklan Coca-Cola tampil lebih ramah, hangat, dan ceria.
Keinginan tersebut kemudian diwujudkan dengan menunjuk Haddon Sundblom, ilustrator asal Michigan, Amerika Serikat.
Dalam proses kreatifnya, Sundblom terinspirasi dari puisi karya Clement Clark Moore berjudul A Visit From St. Nicholas.
Puisi yang kini lebih dikenal sebagai ’Twas the Night Before Christmas itu menjadi rujukan utama Sundblom dalam memvisualisasikan Sinterklas.
Dari puisi tersebut, ia membayangkan Sinterklas dengan pipi kemerahan, mata berbinar, senyum ramah, serta perut yang buncit.
Ilustrasi karya Sundblom kemudian dirilis Coca-Cola pada 1931 dengan judul My Hat’s Off to The Pause That Refreshes.
Lou Prentiss Jadi Model Sinterklas
Dalam upaya menciptakan sosok Sinterklas sesuai keinginan Coca-Cola, Sundblom mengajak temannya yang juga mantan tenaga penjual, Lou Prentiss.
Setelah Prentiss meninggal dunia, Sundblom melanjutkan proses menggambar dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai model, menggunakan pantulan cermin.
Menariknya, ilustrasi Sinterklas sempat menuai perhatian karena posisi sabuk yang terlihat terbalik.
Kesalahan tersebut diduga terjadi karena Sundblom melukis berdasarkan bayangan dirinya di cermin.
Coca-Cola Populerkan Karakter Sinterklas Era Modern
Karena begitu populernya ilustrasi Sinterklas karya Sundblom, muncul anggapan di masyarakat bahwa sosok Sinterklas bertubuh gemuk dengan pakaian merah sepenuhnya diciptakan oleh Coca-Cola.
Untuk meluruskan hal itu, Coca-Cola kemudian memberikan klarifikasi bahwa mereka bukan pencipta karakter Sinterklas.
Perusahaan tersebut menegaskan bahwa perannya lebih kepada mempopulerkan visual Sinterklas, bukan menciptakannya dari awal.
juga pernah memberitakan bahwa warna merah dan putih yang melekat pada Sinterklas sebenarnya telah digunakan sejak lama.
Kedua warna tersebut berasal dari busana khas Santo Nikolas, yang kisah hidupnya menjadi dasar penggambaran Sinterklas dan Santa Claus saat diadaptasi di Amerika.
Seiring waktu, jubah merah-putih para uskup mengalami perubahan menjadi setelan jas yang lebih rapi.
Meski jubah uskup memiliki beragam warna, warna merah telanjur melekat kuat sebagai ciri khas Sinterklas sejak abad ke-19.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang