Viral! Wanita Papua Ini Kecewa Wajahnya Muncul di Film Pesta Babi Tanpa Izin
Kontroversi kembali menyelimuti film dokumenter Pesta Babi setelah seorang perempuan adat asal Papua Selatan mengaku keberatan karena wajah dan suaranya ditampilkan tanpa persetujuan yang jelas. Pengakuan tersebut kini menjadi perbincangan luas di media sosial dan memicu perdebatan soal etika produksi film dokumenter yang mengangkat isu masyarakat adat.
Sosok perempuan tersebut adalah Yasinta Moiwen, warga Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Perempuan berusia 61 tahun itu mengungkapkan rasa kecewanya setelah mengetahui dirinya muncul dalam film dokumenter Pesta Babi yang telah diputar di Jayapura. Scroll lebih lanjut yuk!
Kekecewaan Yasinta mencuat lewat sebuah video wawancara singkat yang viral di platform X. Dalam video tersebut, ia mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa rekaman dirinya akan digunakan dalam proyek dokumenter tersebut.
"Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan," ujar Yasinta, dikutip dari video X @neVerAl0nely__, Senin 25 Mei 2026.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik karena menyangkut hak privasi dan persetujuan individu dalam proses produksi dokumenter. Banyak warganet mempertanyakan apakah pihak pembuat film telah menjalankan prosedur etis sebelum menampilkan identitas masyarakat adat dalam karya mereka.
Yasinta juga mempertanyakan perlakuan yang ia rasakan selama keterlibatannya dengan pihak pendamping maupun pembuat film.
"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ sudah, sampai sekarang ini," lanjutnya.
Film Pesta Babi sendiri dikenal sebagai dokumenter investigatif yang menyoroti dampak sosial serta lingkungan dari proyek food estate dan pembukaan lahan berskala besar di Papua Selatan. Judul film tersebut diambil dari tradisi adat bakar batu atau pesta babi yang selama ini menjadi simbol persatuan, ketahanan pangan lokal, dan identitas budaya masyarakat Papua.
Namun di balik isu besar yang diangkat film itu, Yasinta menegaskan dirinya tidak pernah merasa diwawancarai secara resmi untuk kebutuhan dokumenter tersebut.
"Saya tidak diwawancara, mereka yang buat. Saya tidak buat itu wawancara untuk Pesta Babi. Saya tidak tahu, saya sumpah demi Tuhan saya tidak tahu mereka buat itu film Pesta Babi," tegasnya.
Tak hanya soal penggunaan identitas tanpa izin, Yasinta juga mengungkapkan rasa kecewa karena merasa hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ia mengaku beberapa kali diajak bepergian ke berbagai kota di luar Papua, tetapi tidak memperoleh bantuan nyata untuk kehidupan pribadinya.
"Saya pulang balik ke Jakarta berapa kali, enam kali tahun lalu. Ke Bogor, ke Makassar tiga kali, Jayapura dua kali. Tapi apa yang saya dapat? Cuma dapatnya capek. Tidak pernah dapat bantuan. Saya sudah sampaikan saya punya rumah tidak layak. Baru saja berapa Minggu yang lalu saya minta beli HP saja sampai hari ini (tidak dikasih)," keluh Yasinta.
Pengakuan tersebut langsung memicu perdebatan di media sosial. Sebagian publik menyayangkan dugaan eksploitasi terhadap masyarakat adat demi kepentingan narasi dokumenter. Mereka menilai pembuat film seharusnya mengedepankan transparansi dan persetujuan dari pihak yang direkam.
Di sisi lain, sejumlah pihak meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Pendukung film menilai persoalan ini perlu dilihat secara lebih hati-hati mengingat isu food estate di Papua Selatan selama ini kerap dikaitkan dengan tekanan politik dan konflik kepentingan yang sensitif.
Kontroversi ini pun kembali membuka diskusi lebih luas mengenai batas etika dalam produksi film dokumenter, terutama ketika melibatkan masyarakat adat dan isu-isu sosial yang kompleks.