Film Pesta Babi Kini Bisa Ditonton Gratis di Youtube, Sudah Lebih dari 4 Juta Penayangan!
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, terus menjadi sorotan dan memicu gelombang diskusi di berbagai daerah. Di tengah ramainya pembicaraan mengenai pembubaran sejumlah agenda nonton bareng dan diskusi, antusiasme masyarakat terhadap film ini justru semakin meningkat.
Fenomena tersebut terlihat dari banyaknya permintaan pemutaran yang masuk kepada tim kreator dalam beberapa pekan terakhir. Film yang mengangkat isu masyarakat adat di Papua Selatan itu bahkan kini resmi dirilis secara gratis melalui platform YouTube agar bisa diakses lebih luas oleh publik. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Kabar penayangan daring tersebut diumumkan melalui akun Instagram @watchdoc_insta. Dalam unggahannya, pihak kreator menyebut film ini tayang lewat kolaborasi sejumlah media dan organisasi.
“Film Pesta Babi kini resmi tayang online di YouTube melalui kolaborasi Redaksi JubiTV, Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, Bentala Rakyat, Indonesia Baru, dan LBH Papua Merauke,” tulis keterangan unggahan tersebut, dikutip Minggu 24 Mei 2026.
Keputusan merilis film secara online disebut menjadi langkah penting setelah tingginya minat masyarakat untuk menggelar nonton bareng atau nobar di berbagai kota. Selama sekitar 40 hari masa penayangan komunitas, para pembuat film mengaku menerima lebih dari 11 ribu permintaan pemutaran.
Dari ribuan permintaan tersebut, hampir 1.700 agenda nobar berhasil terlaksana di berbagai tempat. Jumlah itu membuat film dokumenter ini menjadi salah satu tontonan diskusi publik yang paling ramai dibicarakan dalam beberapa waktu terakhir.
Sutradara Dandhy Laksono menilai layar-layar kecil dari agenda nobar telah berubah menjadi ruang alternatif untuk bertukar gagasan di tengah berbagai hambatan yang muncul.
“Ketika ruang publik makin sempit oleh konglomerasi media, algoritma, dan buzzer, layar-layar kecil itu menjelma jadi ruang berbagi gagasan. Terima kasih untuk semua yang terus menjaga ruang ini tetap hidup,” tambah pernyataan itu.
“Tetap lanjut nobar dan diskusinya,” pungkasnya.
Tak lama setelah dirilis di YouTube Redaksi JubiTV, film Pesta Babi langsung mencuri perhatian publik digital. Penayangannya bahkan disebut nyaris menembus dua juta views dalam waktu kurang dari 24 jam.
Film berdurasi sekitar 95 menit tersebut mengambil latar di sejumlah wilayah Papua Selatan seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Dokumenter ini menyoroti kehidupan masyarakat adat yang disebut kehilangan ruang hidup akibat ekspansi proyek perkebunan skala besar dan program food estate.
Melalui visual dan wawancara di lapangan, film ini menggambarkan perubahan besar yang terjadi di kawasan hutan adat milik suku Marind, Awyu, Yei, hingga Muyu. Pembukaan lahan untuk proyek bioetanol, tebu, dan sawit disebut berdampak pada kehidupan masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari alam.
Selain membahas persoalan lahan, film tersebut juga menampilkan dugaan adanya militerisasi dalam pengamanan proyek investasi di wilayah Papua Selatan. Salah satu simbol yang paling kuat dalam dokumenter ini adalah pemasangan “salib merah” oleh warga adat sebagai bentuk penolakan terhadap penguasaan tanah mereka.
Kontroversi yang mengiringi perjalanan film ini justru membuat rasa penasaran publik semakin besar. Banyak masyarakat kemudian memilih mencari akses penayangan secara online setelah sejumlah agenda diskusi dan nobar dilaporkan mengalami pembubaran.
Kini, dengan hadirnya film tersebut di YouTube, publik memiliki akses lebih mudah untuk menyaksikan sekaligus memahami isu yang diangkat dalam dokumenter tersebut secara langsung.
Film Pesta Babi bisa ditonton di sini.