Fosil Paus Raksasa Bogor: Ditemukan di Garut 1916, Butuh 44 Hari Pengangkutan!
Perjalanan ke Kebun Raya Bogor tidak akan terasa lengkap tanpa mengunjungi Museum Zoologi (Museum Zoologicum Bogoriense). Salah satu daya tarik utamanya, kerangka paus raksasa. Tahukah traveler kisah luar biasa yang tersembunyi di balik tulang-tulang kolosal ini?
Ukuran kerangka yang begitu besar menunjukkan tantangan besar yang dihadapi dalam mengangkut mamalia laut ini ke Kota Hujan pada masa itu.
Kordinator Museum, Hasan Maulana, melaporkan bahwa paus raksasa itu ditemukan mati, terdampar di Samudra Hindia, tepatnya di Pantai Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, pada 1916.
"Paus ini tidak dikategorikan asli Indonesia karena kehidupannya kosmopolit, artinya persebarannya di seluruh dunia. Kebetulan ia mati di perairan wilayah Indonesia, ya sudah menjadi hak milik Indonesia," kata Hasan kepada detikTravel, Selasa (12/5/2026).
Bagaimana bisa ditemukan bangkai raksasa itu di Bogor pada masa kolonial Belanda? Jawabannya kerangka paus raksasa itu diangkut menggunakan kereta batu bara!
Yang menarik, proses pengangkutan ini memakan waktu yang sangat lama mencapai 44 hari. Pada masa itu, kereta batu bara beroperasi dengan gerbong terbuka yang melaju dengan kecepatan santai. Perjalanan itu tentu saja sangat kontras jika dibandingkan dengan kecepatan tinggi kereta modern seperti Whoosh.
"Iya, disusun kembali. Jadi tidak sekaligus panjang membawanya. Repot kalau kayak gitu, langsung bawa panjang. Dipecah-pecah, dipisah-pisah. Lalu digotong ramai-ramai," kata Hasan.
[Gambas:Instagram]
Setibanya di Bogor, tulang-tulang raksasa tersebut disusun kembali dengan cermat, potongan demi potongan, untuk membentuk kerangka lengkap yang dapat dilihat pengunjung saat ini.
Dalam pengakuan yang mengejutkan, Hasan mengungkapkan bahwa bagian ekor yang dipamerkan sebenarnya adalah replika. Tulang ekor aslinya sangat rapuh dan rentan terhadap pembusukan, sehingga museum memutuskan untuk membuat replika.

Koordinator Museum Zoologi, Hasan Maulana (dok. pribadi)
Meskipun ukurannya sangat besar, spesies paus ini sama sekali tidak memiliki gigi. Makhluk ini adalah paus baleen, yang ditandai dengan struktur unik seperti sikat di mulutnya yang berfungsi untuk menyaring makanannya. Skala nafsu makannya sungguh luar biasa.
"Makanannya plankton, seperti udang. Dalam satu hari bisa menghabiskan 40 juta udang. Sudah hitungan ton beratnya, makanya besar kan? Masa makannya cuma sepiring nasi," kata Hasan berkelakar.
Dia juga menambahkan bahwa para ahli menunjukkan masih ada kerabat spesies paus ini yang berkeliaran di lautan lepas, yang mampu mencapai panjang hingga 30 meter.
Pengelolaan Museum Zoologi beserta seluruh koleksinya, termasuk pemeliharaan dan renovasi, saat ini berada di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sudah berganti nama setelah sebelumnya berada di bawah pengawasan LIPI.
Bagi para traveler yang berencana berkunjung, kawasan wisata edukatif ini tampaknya sedang bersiap untuk perkembangan baru yang menarik. Ke depan, pihak pengelola berencana menampilkan pameran replika dinosaurus, termasuk T-Rex animatronik yang dapat bergerak.
Atraksi yang diusulkan ini rencananya akan berlokasi di area taman tersendiri, namun tetap berada di dalam kawasan Kebun Raya. Tertarik untuk menyaksikan perjalanan luar biasa seekor paus raksasa yang menempuh perjalanan dari Garut selama 44 hari? Silakan rencanakan liburan traveler ke Museum Zoologi Bogor!