Ultah Pakai Kue Bergambar Tali Gantungan, Menteri Israel Ben-Gvir dan Istri Dituding Sakit Jiwa
Anggota parlemen Arab di Israel, Ahmad Tibi, melontarkan kritik keras terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dan istrinya, dengan menyebut keduanya "membutuhkan psikiater segera", dalam wawancara dengan radio 103 FM Israel, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency, Kamis, 7 Mei 2026.
Komentar Tibi muncul setelah beredar informasi bahwa Ben-Gvir menerima kue ulang tahun dari istrinya yang dihiasi simbol "jerat" serta tulisan bernada perayaan terhadap pengesahan undang-undang eksekusi tahanan Palestina yang diusulkan partai sayap kanan jauh pimpinan Ben-Gvir, Otzma Yehudit.
"Saya harus menggunakan profesi tambahan saya sebagai dokter, meskipun kasus ini bukan spesialisasi saya, keluarga ini sangat membutuhkan psikiater segera," kata Tibi.
VIVA Militer: Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir
"Kedua individu ini mengalami gangguan psikologis, tetapi kondisi psikologis ini akan menemukan pendukung di masyarakat Israel,"lanjutnya.
Tibi juga menyoroti makna simbolis dari kue tersebut. "Biasanya, orang-orang mendoakan masa depan yang lebih baik dan cinta dengan kue ulang tahun, tetapi orang-orang ini mengagungkan kebencian dan kematian. Oleh karena itu, ini sebenarnya adalah kondisi psikologis yang membutuhkan intervensi segera," ujarnya.
Peristiwa pemberian kue itu terjadi pada Minggu, saat istri Ben-Gvir memberikan kue berhias simbol "jerat" dengan tulisan "Selamat kepada Menteri Ben-Gvir… terkadang mimpi menjadi kenyataan," sebagai penanda ulang tahun sekaligus banyak pihak yang menilai simbol itu berkaitan dengan dukungan lama Ben-Gvir terhadap hukuman mati bagi tahanan Palestina, sebuah kebijakan yang juga diusung oleh partainya, Otzma Yehudit.
Undang-undang tersebut disahkan oleh parlemen Israel, Knesset, pada Maret lalu. Regulasi itu menuai kritik luas dari komunitas internasional terkait aspek hak asasi manusia dan implikasi politiknya.
Aturan tersebut menetapkan hukuman mati dengan cara digantung bagi tahanan Palestina yang dinilai melakukan atau merencanakan serangan yang menyebabkan kematian warga Israel. Eksekusi disebut dapat dilakukan oleh petugas penjara yang ditunjuk oleh dinas penjara dengan jaminan anonimitas dan kekebalan hukum.
Selain itu, undang-undang tersebut memungkinkan penjatuhan hukuman mati tanpa permintaan dari jaksa penuntut dan tidak memerlukan keputusan bulat, melainkan cukup melalui suara mayoritas sederhana.
Menurut organisasi hak asasi manusia Palestina dan Israel, lebih dari 9.600 warga Palestina saat ini ditahan di penjara Israel, termasuk sekitar 350 anak-anak dan 73 perempuan. Mereka dilaporkan menghadapi kondisi penahanan yang keras, termasuk dugaan penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang disebut telah menyebabkan kematian puluhan orang.