Dikecam Dunia, Menteri Keamanan Israel Ternyata Sudah Problematik Sejak Remaja

Tindakan semena-mena Menteri Keamanan Israel ke Aktivis
Tindakan semena-mena Menteri Keamanan Israel ke Aktivis

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memicu kemarahan dunia setelah mengunggah video dirinya mengejek para aktivis Global Sumud Flotilla yang tahan militer Israel. Dalam salah satu videonya, Ben-Gvir terlihat mengibarkan bendera besar Israel di atas para tahanan yang membungkuk dengan tangan terikat.

 Di video lain, ia mengejek seorang tahanan yang berlutut dengan tangan diikat cable ties sambil berteriak “Am Yisrael Chai”, yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘Bangsa Israel hidup’. Video lainnya memperlihatkan para tahanan menundukkan kepala hingga menyentuh lantai di area penahanan terbuka, sementara lagu kebangsaan Israel diputar dengan militer bersenjata lengkap mengepung mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menyusul dengan tindakannya itu, kehidupan pribadinya pun dibongkar. Di Israel Ben Gvir dikenal sebagai sosok kontroversial. Lantas apa saja kontorversinya? Berikut ini rangkumannya seperti melansir laman AP News, Jumat 22 Mei 2026.

Masa muda penuh kontroversi

Ben-Gvir tercatat delapan kali divonis bersalah dalam berbagai kasus, termasuk rasisme dan dukungan terhadap organisasi teroris.

Saat masih remaja, militer Israel melarangnya mengikuti wajib militer karena pandangannya dinilai terlalu radikal.

Namanya mulai dikenal luas ketika menjadi pengikut rabi garis keras almarhum Meir Kahane. Ia pertama kali menjadi sorotan nasional pada 1995 setelah mencopot ornamen kap mobil Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin.

“Kami sudah sampai ke mobilnya, dan kami juga akan sampai kepadanya,” kata Ben-Gvir saat itu, hanya beberapa pekan sebelum Rabin dibunuh oleh ekstremis Yahudi yang menolak upaya perdamaian dengan Palestina.

Dua tahun kemudian, Ben-Gvir mengaku menjadi penggerak aksi protes dan ancaman pembunuhan yang membuat penyanyi asal Irlandia Sinéad O'Connor membatalkan konser perdamaian di Yerusalem.

Dari kelompok pinggiran ke arus utama

Karier politik Ben-Gvir dianggap sebagai hasil dari upaya panjangnya membangun legitimasi politik. Namun, kemunculannya juga mencerminkan pergeseran politik masyarakat Israel ke arah kanan, yang membuat ideologi nasionalis religiusnya semakin diterima publik dan memperkecil harapan kemerdekaan Palestina.

Ben-Gvir memiliki latar belakang sebagai pengacara dan dikenal karena kerap membela ekstremis Yahudi yang dituduh melakukan kekerasan terhadap warga Palestina.

Dengan gaya bicara cepat dan sikap yang tampak santai, ia juga menjadi figur yang cukup populer di media hingga akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen Israel pada 2021.

Ia pernah menyerukan deportasi terhadap lawan politiknya. Pada 2022, Ben-Gvir sempat mengacungkan pistol dan mendorong polisi menembak warga Palestina pelempar batu di salah satu kawasan tegang di Yerusalem.

Sebagai menteri keamanan nasional, ia mengawasi kepolisian Israel dan dikenal terus mendesak Netanyahu melanjutkan perang di Gaza. Ia bahkan sempat membanggakan diri karena berhasil menggagalkan sejumlah upaya gencatan senjata sebelumnya.

Ben-Gvir juga dikenal mendorong polisi bertindak keras terhadap demonstran anti-pemerintah.

Menteri yang terus menuai kontroversi

Ben-Gvir tinggal di permukiman Israel Kiryat Arba di Tepi Barat dan mendapatkan jabatan menteri setelah kemenangan koalisi Netanyahu bersama partai-partai sayap kanan, termasuk partainya, Jewish Power, dalam pemilu 2022.

“Selama setahun terakhir saya menjalankan misi menyelamatkan Israel. Jutaan warga menunggu pemerintahan sayap kanan yang sesungguhnya. Sudah waktunya mereka mendapatkannya,” kata Ben-Gvir menjelang pemilu saat itu.

Sepanjang masa jabatannya, Ben-Gvir terus menjadi sumber kontroversi. Ia mendorong distribusi besar-besaran senjata api kepada warga Yahudi, mendukung reformasi sistem hukum Israel yang menuai protes besar, dan beberapa kali menyerang pemimpin Amerika Serikat karena dianggap tidak cukup mendukung Israel.

Ia juga mengawasi kepolisian, layanan penjara, serta unit polisi perbatasan yang beroperasi di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat.

Sejak perang Gaza pecah setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Ben-Gvir berulang kali menolak masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, meski para ahli memperingatkan ancaman kelaparan massal di wilayah tersebut.

Pada Juli 2025, Ben-Gvir menjadi salah satu dari dua menteri Israel yang dijatuhi sanksi oleh Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Norwegia karena diduga menghasut kekerasan ekstremis terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel. Belanda juga melarangnya masuk ke negara tersebut.

Baru-baru ini, ia merayakan pengesahan rancangan undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti membunuh warga Israel. Ben-Gvir menjadi tokoh utama di balik dorongan pengesahan aturan tersebut.

Sempat mundur lalu kembali ke kabinet

Tahun lalu, Ben-Gvir sempat mengundurkan diri dari kabinet Netanyahu sebagai bentuk penolakan terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gencatan senjata itu berlangsung dari 19 Januari hingga 1 Maret. Meski pengunduran dirinya tidak menghentikan kesepakatan tersebut, langkah itu sempat melemahkan koalisi pemerintahan Netanyahu.

Ben-Gvir kemudian kembali masuk kabinet ketika Israel mengakhiri gencatan senjata dan melanjutkan operasi militer di Gaza pada Maret 2025. Ia tetap bertahan di kabinet Netanyahu hingga masa gencatan senjata Gaza yang berlangsung saat ini.