Lewat Animasi, Anak-anak Kini Bisa Belajar Hadapi Gempa dan Tsunami
Di tengah tingginya risiko bencana di Indonesia, pendekatan edukasi kini mulai dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak. Salah satunya lewat video animasi, yang dinilai lebih mudah dipahami sekaligus menarik untuk generasi usia dini.
Pendekatan ini dihadirkan dalam kolaborasi antara TOA Indonesia dan Universitas Indonesia melalui inisiatif bertajuk “When Knowledge Meets Readiness”. Fokus utamanya adalah memperkenalkan kesiapsiagaan bencana kepada sekitar 5.000 siswa sekolah dasar di wilayah rawan bencana. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Dalam peluncuran yang digelar di lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, Depok, dua video animasi edukasi berjudul “Aku Harus Apa?” diperkenalkan sebagai media pembelajaran baru. Alih-alih menggunakan pendekatan teoritis yang kaku, video ini mengangkat skenario sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak—mulai dari kebakaran, gempa bumi, hingga tsunami.
Lewat format animasi, pesan tentang langkah-langkah darurat dikemas menjadi lebih ringan, mudah diingat, dan tidak menakutkan. Harapannya, anak-anak tidak hanya memahami, tetapi juga mampu merespons situasi darurat dengan lebih cepat dan tepat.
Pendekatan ini sekaligus menjawab tantangan yang selama ini dihadapi dalam literasi kebencanaan, yakni kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata di lapangan. Materi dalam video pun tidak dibuat sembarangan, melainkan melalui riset bersama para ahli, termasuk referensi dari Research Institute of Disaster Science di Jepang.
Brand & Community Manager TOA Indonesia, Clara Dinny Aryanti, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari peran yang lebih luas dari sekadar penyedia teknologi.
“Selama ini, TOA Indonesia dikenal luas untuk penyediaan sistem pengeras suara di rumah ibadah. Namun, lebih dari itu, TOA sebagai perusahaan yang berakar dari Jepang memiliki DNA kuat dalam pengembangan sistem peringatan darurat. Kami meyakini bahwa peran TOA di Indonesia tidak berhenti pada kehadiran perangkat semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara optimal, hingga memberikan kontribusi nyata dalam melindungi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi akademisi, kolaborasi ini dipandang sebagai langkah konkret untuk memperkuat pemahaman masyarakat sejak usia dini.
“Literasi kebencanaan di Indonesia masih membutuhkan upaya ekstra dalam hal bagaimana masyarakat menerjemahkan informasi menjadi tindakan. Pertemuan dengan TOA Indonesia dalam forum ilmiah AIWEST telah membuka peluang kolaborasi baru untuk menjawab tantangan ini. Hari ini menjadi kelanjutan dari komitmen yang telah dibangun bersama, dengan harapan dapat menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat luas,” jelas Dosen Prodi Geologi & Geofisika FMIPA Universitas Indonesia, Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., D.Phil.
Inisiatif ini juga mendapat respons positif dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurut analis kebencanaan Trevi Jayanti Puspasari, kolaborasi lintas sektor memang menjadi kunci dalam upaya mitigasi yang lebih efektif.
“Kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya di lapangan. Akademisi menghadirkan basis ilmiah, sementara industri membawa kapabilitas teknologi dan implementasi,” ujarnya.
Selain video animasi, program ini juga akan didukung dengan penguatan sistem komunikasi darurat di sekolah-sekolah, yang berfungsi sebagai bagian dari early warning system. Namun, di tengah berbagai upaya tersebut, pendekatan melalui animasi menjadi salah satu sorotan utama—karena mampu menjembatani edukasi serius dengan cara yang lebih ramah anak.
Dengan cara ini, kesiapsiagaan bencana tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang rumit atau menakutkan, melainkan menjadi bagian dari pengetahuan sehari-hari yang bisa dipahami sejak dini.