Gempa Pacitan, Ancaman Megathrust, dan Jejak Tsunami di Selatan Jawa

Gempa yang mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur dan sekitarnya pada Jumat (6/2/2026) dini hari tadi menjadi perhatian luas karena karakteristik sumbernya yang tergolong gempa megathrust.
Selain memicu getaran luas, peristiwa ini kembali mengingatkan pada sejarah tsunami yang pernah melanda pesisir selatan pulau Jawa, pada 4 Januari 1840.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa (Pacitan) yang terjadi memiliki mekanisme sumber berupa pergerakan naik atau thrust fault yang identik dengan aktivitas megathrust di selatan Pulau Jawa.
“Gempa Pacitan tadi pagi jenis gempa Megathrust, yang tergambar dari mekanisme sumbernya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal. Patut disyukuri bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 karena jika itu terjadi dapat berpotensi tsunami,” kata Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Jumat.
Jejak tsunami di Pacitan
Analisis terhadap kejadian gempa ini juga dikaitkan dengan catatan sejarah tsunami di wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya di daerah Pacitan.
Salah satunya adalah peristiwa tsunami 4 Januari 1840 yang terjadi setelah gempa besar di kawasan selatan Jawa.
Peristiwa tersebut tercatat sebagai tsunami yang melanda pesisir selatan Pacitan setelah gempa kuat yang dirasakan hingga wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Gelombang pasang dilaporkan menyapu pantai selatan usai guncangan utama.
"Ini terjadi setelah gempa besar yang dirasakan jauh hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kemudian diikuti gelombang pasang/tsunami di Pantai selatan Pacitan," imbuh Daryono.
Selain itu, tsunami Pacitan pada 20 Oktober 1859 juga termasuk kejadian historis yang terdokumentasi dalam katalog tsunami dan arsip kolonial.
Meski catatan detailnya tidak selengkap data modern, kejadian tersebut menunjukkan adanya potensi tsunami di kawasan ini.
Bahkan akibat tsunami tersebut tercatat mengakibatkan korban jiwa.
Faktor kerentanan wilayah Pacitan
Gempa bumi di tenggara Pacitan, Jawa Timur dirasakan pada Jumat (6/2/2026) dini hari
Secara geologis, wilayah Pacitan kerap muncul dalam catatan tsunami historis karena beberapa faktor.
Daerah ini berhadapan langsung dengan zona megathrust Jawa yang aktif dan menjadi sumber gempa besar.
Selain itu, bentuk teluk dan pantai sempit di kawasan pesisir selatan dinilai berpotensi memperkuat atau mengamplifikasi gelombang tsunami ketika terjadi gempa besar.
Struktur lempeng di bawah wilayah tersebut juga diduga memiliki segmen slab yang lebih landai sehingga kopling subduksi tergolong kuat.
Masyarakat diminta tetap tenang
Kondisi tersebut menjadikan wilayah selatan Jawa, termasuk Pacitan, memiliki potensi tsunami relatif lebih sering pada gempa besar, sebagaimana tercatat dalam sejarah tsunami tahun 1840 dan 1859.
Meski demikian, pada kejadian gempa terbaru ini tidak dilaporkan adanya tsunami.
Masyarakat tetap diimbau untuk mengandalkan informasi resmi dari otoritas terkait serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa dan tsunami di kawasan pesisir selatan Jawa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang