Bahasa Tubuh yang Sering Disalahartikan, Bersedekap Tak Berarti Bersikap Tertutup
Saat melihat seseorang melipat tangan di dada, kamu mungkin otomatis berasumsi bahwa mereka sedang kesal, sombong, atau tidak ingin diganggu.
Pelabelan "jutek" secara sepihak ini sangat mudah terjadi, baik di tengah obrolan santai maupun rapat penting. Padahal, tebakan tersebut sering kali meleset jauh dari kenyataan.
Di balik kesan dingin dan tertutup yang ditampilkannya, bersedekap justru menjadi salah satu bahasa tubuh yang paling sering disalahpahami oleh banyak orang.
"Kita harus ingat bahwa itu hanya sebagian dari komunikasi, seperti nada bicara, pilihan kata, atau, dalam beberapa kasus, sentuhan," tutur terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Stephanie Pappas, melansir Huff Post, Kamis (30/4/2026).
Oleh karena itu, salah paham dalam mengartikan bahasa tubuh satu ini sangat wajar terjadi.
Alasan Evolusioner Membaca Gerak Tubuh
Adapun, kebiasaan manusia dalam menilai karakter atau niat seseorang berdasarkan postur tubuhnya sudah berakar kuat pada sejarah evolusi.
Ribuan tahun yang lalu, komunikasi tanpa suara ini merupakan bentuk interaksi utama dan menjadi keterampilan bertahan hidup yang sangat krusial bagi nenek moyang di alam liar.
"Kita diciptakan untuk peka terhadap orang-orang di suku kita, atau potensi ancaman, melalui cara mereka bergerak dan mengekspresikan diri di sekitar kita," jelas Pappas.
Saat ini, manusia sudah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada isyarat fisik untuk berkomunikasi karena adanya bahasa verbal yang lebih kompleks.
Meski begitu, ternyata otak masih bekerja secara otomatis untuk memproses setiap pergerakan yang terlihat.
Otak akan langsung menciptakan berbagai skenario berdasarkan apa yang ditangkap oleh mata. Sayangnya, terjemahan visual ini sering kali keliru dan tidak sesuai konteks aslinya.
Lantas, apa makna asli di balik bahas tubuh bersedekap?
Arti bersedekap
Banyak orang yang secara otomatis mengartikan posisi lengan bersilang di dada sebagai tanda penolakan, rasa tidak nyaman, atau bahkan sikap yang arogan.
Padahal, bagi sebagian besar orang, gerakan ini sebenarnya merupakan sebuah teknik perlindungan diri atau metode untuk menenangkan saraf mereka sendiri, saat menghadapi situasi yang memicu tekanan emosional.
Ilustrasi menggigil.
"Sangat mudah untuk menyilangkan tangan saat kamu merasa stres atau kewalahan, sebagai cara untuk mencoba mengatur diri kamu sendiri," ungkap Pappas.
Pakar bahasa tubuh, Linda Clemons, turut menyoroti betapa seringnya masyarakat umum membuat kesimpulan yang terlalu cepat terhadap gestur ini.
"Kesalahan terbesarnya adalah kita menilai terlalu cepat," tutur Clemons.
"Katakanlah tangan saya bersilang. Kamu berpikir, 'Orang ini dingin, tertutup' dan kamu pergi. Dua detik kemudian, saya meraih sweater saya. Saya benar-benar kedinginan, tetapi kamu tidak ada di sana untuk melihatnya, karena kamu menilai begitu cepat," lanjut dia.
Penjelasan Clemons menegaskan bahwa selalu ada berbagai alasan logis mengapa seseorang memilih untuk melipat tangannya.
Alasan itu bisa jadi murni karena faktor suhu ruangan yang terasa dingin, atau sekadar memberikan sensasi pelukan nyaman bagi tubuh mereka sendiri, dan bukan karena mereka sedang menjaga jarak.
Bahasa tubuh lain yang juga sering disalahartikan
Selain posisi bersedekap, beberapa sinyal nonverbal lainnya juga tak luput dari kesimpula yang terlalu cepat adalah kontak mata.
Alasan seseorang menghindari tatapan langsung tidak selalu berkaitan erat dengan sikap kasar atau ketidakpedulian.
Pappas menerangkan, pada kelompok budaya tertentu, menatap lurus ke mata lawan bicara justru dianggap sangat tidak sopan.
Di samping itu, individu dengan kondisi neurodivergen sering merasa kesulitan menatap langsung karena hal tersebut dapat memicu rasa kewalahan yang luar biasa.
Gestur lain yang kerap menipu pengamatan adalah lengkungan bibir seperti senyuman. Clemons menyebutkan, tidak sedikit orang yang menampilkan senyum palsu di ruang publik hanya karena adanya tuntutan sosial yang mengharuskan mereka bertingkah seolah-olah sedang merasa gembira.
Lalu, bagaimana cara mengetahui keaslian ekspresi ini? Clemons mengatakan, kamu perlu memerhatikan wajah secara saksama.
"Orang yang benar-benar bahagia, pipinya akan terangkat, dan matanya akan terbuka lebar," papar Clemons.
Sebaliknya, pada senyum yang sengaja dibuat-buat atau dipaksakan, orang tersebut umumnya hanya menggerakkan otot-otot di area bibir atau bagian bawah wajah mereka saja tanpa melibatkan kerutan di area mata sama sekali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang