Ada Firasat Gak Beres Soal Kondisi Anak, Ortu Tergiur Harga Murah di Daycare Little Aresha Jogja?

Ortu Korban Daycare Little Aresha Jogja
Ortu Korban Daycare Little Aresha Jogja

 Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, terus menuai sorotan publik. Puluhan orang tua yang menitipkan anaknya di fasilitas tersebut mendatangi Polresta Yogyakarta pada Sabtu, 25 April 2026, guna menuntut kepastian hukum atas peristiwa yang dinilai mencederai rasa aman keluarga.

Kedatangan para orang tua dipicu oleh terungkapnya dugaan perlakuan tidak layak terhadap anak-anak di dalam daycare. Sejumlah orang tua mengaku terpukul setelah mengetahui kondisi anak mereka selama dititipkan di tempat tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu orang tua korban, Choi, mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya sempat memiliki firasat tidak baik terkait kondisi anaknya. Namun, ia memilih untuk berpikir positif hingga akhirnya kejadian tersebut terungkap.

"Sebenarnya kalau feeling dia kenapa-kenapa aku udah ada. Cuma aku positif thinking. terus ada kejadian ini marah juga," tegas Choi, mengutip video TikTok @pandanganjogja, Minggu 26 April 2026.

Ia menjelaskan, keputusan memilih daycare tersebut tidak lepas dari pertimbangan biaya yang relatif lebih terjangkau dibanding tempat lain, ditambah fasilitas yang terlihat memadai saat survei awal.

"Iya (lebih murah). Lihat pas visit juga ada kasurnya bagus, ada AC, sebagainya. Kami ambil lah di situ," terangnya.

Namun, harapan itu berubah menjadi kepanikan saat ia menjemput anaknya sepulang kerja pada Jumat, 24 April 2026. Saat itu, lokasi daycare tengah didatangi petugas kepolisian. Choi mengaku syok setelah melihat kondisi anaknya yang baru kurang dari satu bulan dititipkan di sana.

”Dan itu nggak dikasih baju. Barusan saya lihat kenapa nangis, karena melihat kondisi anak saya tangannya diborgol. Bukan dibedong, diikat,” ujar Choi, mengutip video TikTok @pandanganjogja, Minggu 26 April 2026.

Ia menilai perlakuan tersebut sangat tidak manusiawi dan jauh dari standar pengasuhan anak yang seharusnya diberikan oleh lembaga penitipan.

Di sisi lain, Choi mengungkapkan bahwa sebelumnya ia sempat mencurigai beberapa prosedur yang diterapkan pihak daycare. Salah satunya adalah kewajiban bagi orang tua untuk memberi kabar terlebih dahulu sebelum menjemput anak.

”Yang saya curiga itu karena setiap mau menjemput dia itu pokoknya 30 menit atau 1 jam sebelumnya harus di-WA. Jadi misalnya mau OTW jemput itu harus WA dulu setengah jam,” jelasnya.

Menurutnya, aturan tersebut terasa janggal karena membatasi spontanitas orang tua dalam mengecek kondisi anak secara langsung. Kecurigaan juga semakin kuat setelah diketahui bahwa tidak tersedia akses pemantauan CCTV di dalam ruangan daycare.

"CCTV itu ditanyain, cuma di luar aja. Di dalam nggak ada soalnya kalau malam ada yang jaga di sana," kata Choi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua untuk tidak hanya mempertimbangkan faktor biaya dan fasilitas fisik saat memilih tempat penitipan anak, tetapi juga memastikan transparansi sistem pengawasan dan standar keamanan yang diterapkan. 

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap fakta dan memastikan pertanggungjawaban hukum dalam kasus tersebut.