Kronologi Sopir Ambulans jadi Korban Modus Pinjol Order Fiktif
Teror penagihan pinjaman online (pinjol) memunculkan modus baru yang meresahkan. Kali ini bukan lagi sekadar ancaman via telepon atau pesan singkat, melainkan menggunakan layanan darurat sebagai alat tekanan. Sejumlah pihak, mulai dari ambulans relawan hingga petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Sleman, menjadi korban order fiktif yang diduga dilakukan oleh oknum debt collector pinjol (DC).
Peristiwa ini tak hanya merugikan secara operasional, tetapi juga berpotensi menghambat penanganan kondisi darurat yang sesungguhnya. Aparat kepolisian pun kini tengah menelusuri kasus tersebut setelah laporan serupa terjadi berulang kali.
Kronologi Ambulans Dipesan Fiktif
Salah satu korban, sopir ambulans relawan Mer-C, Mucklihsin, menceritakan awal mula dirinya menerima laporan darurat. Ia mendapat informasi dari admin bahwa ada permintaan evakuasi pasien di wilayah Caturtunggal, Depok, Sleman untuk dibawa ke rumah sakit.
“Jadi kemarin kami dapat laporan dari admin Mer-C bahwasanya ada permintaan layanan kedaruratan di daerah Depok, Sleman untuk dibawa ke rumah sakit,” ujarnya dalam program. Apa Kabar Indonesia Malam tvOne
Sebelum tiba di lokasi, Mucklihsin sempat menghubungi nomor pemesan. Ia mengaku tidak menemukan kejanggalan karena arahan yang diberikan sangat meyakinkan.
“Saya sudah mau sampai itu saya telepon, saya baru di depan sini Pak. ‘Oh maju lagi Mas, nanti ada perempatan belok kanan.’ Jadi sangat meyakinkan,” katanya.
Namun, setibanya di lokasi, fakta berbeda justru terungkap. Pemilik rumah menyebut tidak pernah memesan ambulans, bahkan orang yang dimaksud sudah lama tidak tinggal di alamat tersebut.
“Sesampainya di lokasi, saya bertemu dengan pemilik rumah, dan benar ternyata pemilik rumah bilang, ‘Oh, itu lokasinya di rumah saya, Mas.’ Cuman orangnya ini enggak ada, sudah pindah dari situ tiga tahun yang lalu,” ungkap Mucklihsin.
Dari situ, ia mulai curiga bahwa laporan tersebut palsu. Setelah mencoba menghubungi kembali nomor pemesan, panggilan sempat tidak direspons. Hingga akhirnya di percobaan ketiga, pelaku mengangkat dan mengaku berasal dari pihak pinjol.
“Akhirnya yang ketiga itu diangkat, terus beliaunya ngaku bahwa dari pinjol untuk menagihkan utang,” katanya.
Damkar Juga Jadi Sasaran
Tak hanya ambulans, petugas pemadam kebakaran Sleman juga mengalami kejadian serupa. Mereka menerima laporan adanya ular yang harus dievakuasi di alamat yang sama. Namun setelah dicek, tidak ditemukan keberadaan hewan tersebut.
Pihak Damkar Sleman mengungkapkan bahwa mereka sudah empat kali menjadi korban order fiktif dengan pola serupa yang diduga terkait pinjol.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi masyarakat dan penyedia layanan darurat. Modus memanfaatkan layanan publik untuk menekan pihak tertentu bukan hanya merugikan korban langsung, tetapi juga membahayakan orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Mucklihsin sendiri mengaku, selama bertugas sejak 2020, ia baru tiga kali menerima laporan palsu, dan modus pinjol seperti ini baru pertama kali dialaminya.
“Kalau kami sendiri selama bertugas ya mungkin dari 2020 itu baru tiga kali ini, tapi untuk modus pinjol ini kayaknya baru ini,” ujarnya.
Polisi Lakukan Penelusuran
Saat ini, kepolisian masih terus menyelidiki kasus tersebut dengan memintai keterangan dari sejumlah pihak, termasuk petugas Damkar yang menjadi korban. Diharapkan pelaku segera teridentifikasi agar tidak ada lagi penyalahgunaan layanan darurat di masa mendatang.