Sadar Bahaya Dengue di Tempat Kerja, Raditya Dika Bakal Vaksin Semua Karyawannya
Ancaman penyakit dengue di Indonesia masih menjadi perhatian serius di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok usia produktif. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga 14 April 2026 terdapat 30.465 kasus infeksi dengue dengan angka kejadian (Incidence Rate/IR) sebesar 10,6 per 100.000 penduduk. Dalam periode yang sama, tercatat 79 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,3 persen.
Berdasarkan klasifikasi klinis, kasus dengue tersebut terdiri atas 10.138 kasus Demam Dengue (DD), 19.877 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), dan 450 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS). Penyebaran kasus pun cukup luas, mencakup 401 kabupaten/kota di 29 provinsi, sementara kematian dilaporkan di 58 kabupaten/kota pada 20 provinsi.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa dengue bukan sekadar penyakit musiman, melainkan ancaman kesehatan yang dapat berdampak luas, termasuk pada dunia kerja. Hal ini juga disadari oleh figur publik sekaligus pengusaha, Raditya Dika, yang menaruh perhatian besar terhadap pencegahan penyakit ini.
“Dengue bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Dampaknya bisa serius, bahkan mengancam jiwa, dan bisa terjadi pada siapa saja, tidak pandang bulu. Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di industri kreatif, ketika satu orang sakit, efeknya bisa ke banyak hal. Pekerjaan tertunda, rencana berubah, dan orang-orang di sekitar kita juga ikut terdampak. Buat saya, melakukan upaya pencegahan itu sama dengan menjaga masa depan — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan tim yang bergantung pada kita. Termasuk untuk dengue, penting untuk mulai mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan inovatif yang tersedia, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing, agar kita bisa tetap produktif dan menjalani aktivitas dengan lebih tenang,” ujar Raditya Dika, dalam acara Sinergi Aksi Perusahaan (SIAP) Lawan Dengue, di Jakarta, Kamis 23 April 2026.
Sebagai langkah nyata, Raditya Dika mengaku telah mengambil tindakan preventif di lingkup keluarga dan berencana memperluasnya ke lingkungan kerja.
“Saya udah vaksin satu keluarga, kayaknya habis ini mau vaksin buat karyawan di kantor juga,” ujar Raditya Dika.
Pengalaman pribadi terkait kesehatan juga menjadi pertimbangan penting baginya. Maka dari itu, Raditya Dika menekankan pentingnya pencegahan terhadap penyakit.
“Waktu itu saya pernah kena tifus di rumah sakit 3 harian, itu aja kerugiannya lebih besar daripada biaya dirawat di rumah sakitnya. Kita juga bicara soal reputasi, kesempatan kerja, dan lain-lainnyam,” kata Raditya Dika.
Ia menambahkan bahwa dampak absensi karyawan akibat sakit bisa cukup signifikan mengingat banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan setiap hari.
“Saya juga kalau di kantor, jadi kepikiran buat ngevaksin ke karyawan semuanya. Di kantor cuma ada 12 orang, 1 orang absen aja migren saya,” terang Raditya Dika.
“Mudah-mudahan bisa proteksi buat karyawan-karyawan saya,” sambungnya.
Di sisi lain, sebuah studi pada pekerja kantoran di Indonesia menunjukkan masih adanya keraguan terhadap vaksinasi dengue, terutama karena faktor biaya. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan pemahaman, kepercayaan, serta akses terhadap upaya pencegahan.
Upaya kolektif pun mulai digalakkan melalui berbagai kolaborasi lintas sektor. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), PT Takeda Innovative Medicines, dan PT Bio Farma, dengan dukungan Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Ketenagakerjaan RI, serta Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI), meluncurkan gerakan Sinergi Aksi Perusahaan (SIAP) Lawan Dengue. Inisiatif ini bertujuan memperkuat perlindungan tenaga kerja dari risiko dengue sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis.
“Dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif. Pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi, pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor," kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan tindak lanjut Strategi Nasional Penanggulangan Dengue ke dalam Rencana Aksi Nasional guna memperkuat implementasi di lapangan.
Sementara itu, Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue turut mendorong penguatan kolaborasi berbagai pihak. Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, M.Kes, MMR, menegaskan bahwa beban dengue di Indonesia masih tinggi, dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap tercatat oleh BPJS pada 2024 dan pembiayaan hampir mencapai Rp3 triliun.
Melalui berbagai inisiatif ini, diharapkan kesadaran masyarakat—termasuk pelaku usaha—terhadap pentingnya pencegahan dengue semakin meningkat, sehingga target menekan angka kematian hingga nol pada 2030 dapat tercapai.