Talenta Lokal Manado Jadi Kunci Keaslian Film Horor Terbaru dari Legenda Tanah Minahasa

Film Songko
Film Songko

 Film horor terbaru berjudul Songko menghadirkan pendekatan berbeda dalam industri perfilman Indonesia. Tidak sekadar menampilkan kisah menakutkan, film ini mengangkat legenda masyarakat Minahasa dengan sentuhan autentik melalui keterlibatan talenta lokal sebagai bagian penting produksi.

Cerita dalam film ini berpusat pada teror misterius yang melanda sebuah desa, dipicu kemunculan makhluk bernama Songko yang diyakini mengincar darah suci perempuan muda. Ketakutan warga perlahan berubah menjadi kepanikan yang menghancurkan hubungan antarpenduduk desa. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu hal yang membuat film ini terasa berbeda adalah keterlibatan talenta lokal dari daerah asal legenda tersebut. Sekitar enam puluh persen pemain dan kru berasal dari Manado dan wilayah sekitarnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga nuansa budaya tetap terasa alami dan tidak dibuat-buat.

Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menegaskan pentingnya menghadirkan cerita lokal dengan identitas kuat.

“Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” jelas Whisnu saat gala premiere di Metropole XXI Jakarta pada Senin, 13 April 2026. 

Upaya menghadirkan suasana autentik juga terlihat dari pembangunan lokasi syuting. Tim produksi membangun set desa secara khusus di kaki Gunung Lokon, wilayah Tomohon.

Area yang sebelumnya kosong diubah menjadi desa lengkap yang digunakan sebagai latar utama film. Menariknya, set tersebut masih berdiri hingga saat ini dan kerap dikunjungi masyarakat sebagai lokasi foto. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya produksi dalam menciptakan dunia cerita yang terasa nyata.

Selain pembangunan set, tim produksi juga melakukan riset budaya mendalam. Produser kreatif Avandrio Yusuf terlibat langsung dalam wawancara dengan kepala adat dan warga setempat. Proses ini dilakukan untuk memastikan detail seperti visual sosok Songko, kostum, hingga gaya bahasa sesuai dengan budaya lokal.

Sutradara Gerald Mamahit menekankan bahwa kekuatan cerita dalam film ini bukan hanya berasal dari sosok makhluk misterius, tetapi juga dari perubahan perilaku manusia saat dilanda rasa takut.

“Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.

Beberapa pemeran utama mengaku merasakan pengalaman berbeda saat menonton film ini di layar lebar. Salah satunya adalah Annette Edoarda, yang mengungkapkan bahwa suasana film terasa jauh lebih intens dibandingkan saat proses syuting.

“Waktu syuting, kami sudah merasakan atmosfer yang berat. Tapi saat menonton di layar lebar bersama penonton lain, rasanya jauh lebih intens. Ada momen-momen yang bahkan membuat saya sendiri ikut merinding,” ungkap Annette.

Hal serupa juga dirasakan oleh Imelda Therinne, yang menilai sisi psikologis dalam cerita membuat film ini semakin menegangkan.

“Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan memecah hubungan antar manusia. Itu yang menurut saya membuat film ini terasa lebih dalam dan menegangkan,” kata Imelda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Film Songko mengambil latar waktu tahun 1986 di sebuah desa di wilayah Minahasa. Kisahnya berawal dari kematian misterius perempuan muda yang memicu kepanikan massal di tengah masyarakat.

Selain Annette Edoarda dan Imelda Therinne, film ini juga dibintangi oleh Fergie Brittany, Tegar Satria, serta Khiva Iskak.