Mojtaba Khamenei Dikabarkan Tak Sadarkan Diri, Bagaimana Nasib Iran ke Depan?

Putra Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei
Putra Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei dilaporkan dalam kondisi tidak berdaya dan sedang menjalani perawatan medis di kota suci Qom. Informasi ini mengacu pada laporan intelijen yang dikutip oleh The Times, dan kembali memunculkan pertanyaan soal struktur kepemimpinan Iran di tengah perang yang masih berlangsung.

Sebuah memo diplomatik yang disebut bersumber dari intelijen Amerika Serikat dan Israel, serta dibagikan kepada negara-negara sekutu di kawasan Teluk, menyebutkan bahwa Khamenei tidak sadarkan diri dan mengalami kondisi medis yang parah, sehingga tidak dapat menjalankan tugas pengambilan keputusan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi serius dan tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan pemerintahan,” demikian isi memo tersebut, seperti dikutip dalam laporan tersebut dikutip dari laman News18, Selasa 7 April 2026.

Memo itu juga disebut untuk pertama kalinya mengungkap lokasi sang pemimpin, yakni di Qom, kota yang dianggap suci dalam Islam Syiah dan dikenal sebagai pusat keagamaan Iran.

Pertanyaan soal Struktur Komando di Tengah Perang

Laporan Associated Press menyebutkan bahwa masih ada tanda tanya besar terkait kepemimpinan Iran. Mojtaba Khamenei belum pernah terlihat di depan publik sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi, sementara pejabat AS menyatakan ia memang terluka dalam perang.

Menurut laporan tersebut, Garda Revolusi Iran dan unit militer lainnya tampak beroperasi tanpa struktur komando pusat yang jelas.

Selain itu, setiap kesepakatan gencatan senjata yang tidak memuaskan kelompok garis keras berisiko memperdalam perpecahan di dalam kepemimpinan politik Iran.

Reuters sebelumnya melaporkan pada 31 Maret bahwa Duta Besar Rusia untuk Iran mengatakan kepada RTVI bahwa Mojtaba Khamenei masih berada di dalam negeri, tetapi menghindari tampil di depan publik karena alasan yang bisa dimengerti.

Reuters juga menyoroti bahwa Rusia memiliki hubungan erat dengan Iran, termasuk perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani tahun lalu.

Ketidakpastian Kepemimpinan Masih Berlanjut

Memo yang dikutip The Times itu juga menyebut otoritas Iran kemungkinan berupaya mencegah gangguan selama prosesi pemakaman Ali Khamenei, di tengah kekhawatiran adanya warga yang mencoba mengacaukan acara atau merusak makam.

Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979, menggantikan ayahnya setelah tewas dalam serangan udara di awal konflik.

Minimnya kemunculan di publik serta terbatasnya komunikasi resmi semakin memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatan pemimpin baru Iran tersebut, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan kekuasaan di dalam struktur pemerintahan negara itu.

Persiapan Pemakaman Ali Khamenei di Qom

Laporan tersebut juga menyebut adanya persiapan pemakaman bagi mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada 28 Februari lalu. 

Dokumen itu mengungkap bahwa badan intelijen memantau adanya pekerjaan awal untuk membangun sebuah mausoleum besar di Qom, yang kemungkinan akan memiliki lebih dari satu makam.

Memo tersebut juga mengisyaratkan bahwa anggota keluarga Khamenei lainnya, bahkan kemungkinan Mojtaba sendiri, bisa dimakamkan di lokasi yang sama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laporan itu menambahkan, badan intelijen AS dan Israel sebenarnya sudah mengetahui lokasi Mojtaba Khamenei sejak beberapa waktu lalu, namun informasi tersebut baru sekarang diungkap ke publik.

Iran sendiri telah mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei terluka dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya, ibunya, istrinya Zahra Haddad-Adel, serta salah satu anaknya pada hari pertama perang.