Buntut Nyanyian Islamofobia di Laga Kontra Mesir, Spanyol Terancam Sanksi FIFA

Islamofobia, FIFA, Spanyol, Lamine Yamal, Luis de la Fuente, RFEF, Rafael Louzan, Georgi Kabakov, Piala Dunia 2030, Piala Dunia, Buntut Nyanyian Islamofobia di Laga Kontra Mesir, Spanyol Terancam Sanksi FIFA

0 yang diraih tim nasional Spanyol saat menjamu Mesir di Stadion RCDE, Selasa malam, harus dibayar mahal dengan isu non-teknis yang mencoreng sportivitas.

Laga persahabatan tersebut dinodai oleh aksi tercela oknum suporter yang menyuarakan nyanyian Islamofobia sepanjang pertandingan.

Akibat insiden ini, FIFA dilaporkan tengah memantau situasi dan La Roja kini terancam dijatuhi sanksi berat.

Seruan diskriminatif tersebut terdengar setidaknya tiga kali, yang memicu kesedihan mendalam bagi bintang muda Spanyol, Lamine Yamal.

Pemain Muslim tersebut tampak terpukul saat meninggalkan lapangan dan memutuskan untuk tidak mengikuti putaran kehormatan di akhir laga.

Meski Manajer Luis de la Fuente memberikan kritik tajam terhadap perilaku tersebut, Presiden RFEF Rafael Louzan justru berupaya meredam situasi dengan menyebutnya sebagai 'insiden terisolasi'.

Berdasarkan laporan dari Mundo Deportivo, federasi sepak bola negeri matador tersebut kini dibayangi hukuman serius.

Regulasi disiplin yang berlaku menyatakan bahwa badan pengatur sepak bola dunia dapat menjatuhkan denda sebesar 21.000 euro atau sekitar Rp 350 juta kepada federasi.

Selain sanksi materiil, hukuman berupa penutupan sebagian tribun stadion untuk pertandingan kandang berikutnya juga menjadi kemungkinan yang nyata.

Keputusan akhir sanksi ini akan sangat bergantung pada laporan wasit Georgi Kabakov, apakah sang pengadil lapangan mencantumkan kejadian memilukan tersebut dalam catatan resminya atau tidak.

Kegagalan Protokol Anti-Diskriminasi di Lapangan

Publik kini mempertanyakan mengapa pertandingan tidak dihentikan saat teriakan 'Siapa yang tidak melompat adalah seorang muslim' mulai menggema di tribun.

Sesuai protokol anti-rasisme, wasit memiliki wewenang untuk menghentikan laga dan memberikan peringatan keras kepada penonton jika terjadi perilaku xenofobia.

Islamofobia, FIFA, Spanyol, Lamine Yamal, Luis de la Fuente, RFEF, Rafael Louzan, Georgi Kabakov, Piala Dunia 2030, Piala Dunia, Buntut Nyanyian Islamofobia di Laga Kontra Mesir, Spanyol Terancam Sanksi FIFA

Penyerang timnas Spanyol Mikel Oyarzabal merayakan gol kedua ke gawang Serbia. Hasil Spanyol vs Serbia bergulir di Estadio de la Ceramica, di Villarreal, Spanyol, pada Sabtu dini hari WIB.

Meskipun pihak penyelenggara sempat memasang pemberitahuan di layar besar stadion untuk memperingatkan suporter, aksi tersebut tetap berlangsung.

Saat ini, kepolisian setempat, Mossos d'Esquadra, dikabarkan telah membuka penyelidikan resmi terkait dugaan kejahatan kebencian yang terjadi di Cornellà-El Prat tersebut.

Ancaman Terhadap Tuan Rumah Piala Dunia 2030

Selain sanksi jangka pendek, kekhawatiran terbesar saat ini adalah dampak jangka panjang terhadap status Spanyol sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2030.

Mengingat turnamen tersebut rencananya akan digelar bersama Portugal dan Maroko—negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam—insiden intoleransi ini dikhawatirkan akan merusak kredibilitas mereka.

Jika masalah rasisme dan diskriminasi ini tidak segera dibenahi, posisi Spanyol dalam menentukan lokasi pertandingan final atau pembagian kuota tuan rumah bisa terancam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang