Produksi Minyak Teluk di Ujung Tanduk

Ilustrasi minyak mentah.
Ilustrasi minyak mentah.

Serangan itu, yang menandai eskalasi besar dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari, memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent mencapai US$119,50 (Rp1,85 juta) per barel.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Harga kemudian turun kembali ke sekitar US$100 (Rp1,57 juta), dan pada 10 Maret, minyak diperdagangkan di bawah US$90 (Rp1,41 juta) per barel, tetapi masih lebih dari 20 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang dimulai pada 28 Februari 2026.

Memburuknya konflik meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, di mana para produsen sudah menghadapi kerusakan fasilitas akibat serangan Iran serta penutupan jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Dengan kapasitas penyimpanan ekspor yang semakin menipis, DW menanyakan apakah produksi minyak di negara-negara Teluk dapat berhenti dalam hitungan hari. Negara-negara produsen minyak di Teluk, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain, kini langsung terdampak konflik Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran.

Iran menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik dengan meluncurkan serangan terhadap fasilitas energi, bandara, hotel, kawasan perumahan, serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Serangan ini memicu tuduhan perilaku “pengkhianatan” serta ancaman pembalasan militer.

Situasi semakin memburuk karena penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran, jalur laut sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, yang menurut perusahaan analitik pelayaran Kpler telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas komersial.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupannya dianggap sebagai skenario terburuk bagi pasar energi global. Dengan kapal tanker minyak dan LNG (gas alam) terjebak, para produsen Teluk berharap selat tersebut segera dibuka kembali.

Walaupun Arab Saudi dan UEA memiliki jalur alternatif untuk mengekspor sebagian energi melalui Laut Merah dan Teluk Oman, negara Teluk lainnya hanya dapat mengandalkan kapasitas penyimpanan yang terus menipis.

Secara kolektif, negara-negara Teluk dapat menyimpan sekitar 343 juta barel minyak untuk menunda penghentian produksi yang tak terhindarkan, menurut bank investasi AS JP Morgan.

Namun, biasanya sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, ditambah lebih dari 4 juta barel produk olahan per hari seperti bensin, diesel, dan bahan bakar jet, melewati Selat Hormuz.

JP Morgan menghitung bahwa negara-negara Teluk secara kolektif hanya memiliki buffer penyimpanan sekitar 22 hari ketika perang dimulai. Meski pada 9 Maret masih ada laporan beberapa kapal tanker yang berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah konflik yang berlangsung, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras.

IRGC menyatakan bahwa Teheran akan “menentukan akhir perang” dan berjanji tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.

Irak, yang hanya memiliki enam hari kapasitas penyimpanan, kemungkinan telah mencapai batasnya dan mulai memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari pada minggu lalu.

Perusahaan riset energi Norwegia, Rystad Energy, memperingatkan bahwa ladang minyak Irak yang masih beroperasi “menghadapi penghentian yang hampir pasti dalam waktu dekat.”

Sementara itu, Arab Saudi memiliki sekitar 66 hari kapasitas penyimpanan pada 28 Februari, menurut JP Morgan. Angka ini mengasumsikan bahwa kerajaan tersebut dapat mengalihkan sebagian ekspor melalui jalur alternatif.

Namun, Rystad Energy menilai Saudi mungkin hanya memiliki “masa efektif sebelum pemangkasan produksi paksa” sekitar tujuh hingga sembilan hari.

Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar di dunia, kini mengalihkan sebanyak mungkin minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sementara UEA mengalihkan sebagian ekspor melalui Fujairah, yang juga sempat diserang Iran.

Namun, jalur alternatif tersebut hanya dapat menampung sekitar sepertiga dari minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan pada 10 Maret bahwa Arab Saudi telah menurunkan produksi hingga 2,5 juta barel per hari, sementara UEA mengurangi produksinya sekitar 500 ribu hingga 800 ribu barel per hari.

Kuwait juga memangkas produksi sekitar 500 ribu barel per hari, dan Irak sekitar 2,9 juta barel per hari, menurut laporan tersebut yang mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Penghentian besar produksi dan ekspor minyak dari Teluk hampir pasti akan mendorong harga jauh lebih tinggi, karena kawasan tersebut menyumbang sekitar sepertiga ekspor minyak mentah laut dunia.

Bank Belanda ING mengatakan dalam catatan riset bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak pasokan minyak yang akan dihentikan sementara karena tidak ada jalur ekspor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) mengatakan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat mengubah pasar dari kondisi surplus besar sejak awal tahun lalu menjadi defisit.

Memulai kembali produksi setelah penghentian sementara juga dapat menjadi sulit, membutuhkan beberapa hari hingga beberapa minggu untuk kembali ke tingkat normal. Jika penghentian berlangsung lama, risiko kerusakan peralatan atau masalah geologis juga dapat meningkat.