Dapat Pertanyaan Menyebalkan Saat Lebaran? Begini Cara Mereka Menjawabnya..
Berkumpul bersama keluarga besar saat Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
Namun, ajang silaturahmi yang seharusnya penuh dengan kehangatan ini kerap diselingi dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan sensitif yang menyinggung ranah privasi seseorang.
Pertanyaan seputar kapan menikah, kapan memiliki anak, hingga urusan pekerjaan, seolah menjadi rutinitas wajib di tengah keluarga besar. Menghadapi rentetan pertanyaan semacam ini dapat menguras tenaga.
Kompas.com berbicara dengan tiga narasumber, yaitu Ardi (37), Ulfa (30), dan Oi (28), Kamis (19/3/2026). Ketiganya memiliki cara dan pandangan tersendiri dalam merespons kekepoan keluarga besar, yang mungkin bisa kamu contoh nanti.
Cara menjawab pertanyaan sensitif saat Lebaran
Cairkan suasana dengan candaan
Bagi sebagian orang, membalas pertanyaan sensitif dengan candaan adalah jalan keluar paling aman untuk menghindari kecanggungan. Hal ini diterapkan oleh Ardi. Sejak masa awal bekerja, ia kerap mendapat pertanyaan tentang kapan menikah dari kerabatnya.
Ilustrasi Lebaran. Bolehkah menikah dengan sepupu sendiri dalam Islam?
"Aku jawabnya pakai bercandaan, 'Kalau enggak Sabtu, ya Minggu'. Tapi kalau jawaban normatifnya ya, 'Nanti nunggu yang cocok'," ungkap Ardi.
Lucunya, keluarga santai merespons candaan tersebut dengan kembali bercanda dan mengatakan bahwa orang-orang memang memilih hari Sabtu atau Minggu untuk menikah, dan tetap menanyakan kapan Ardi menikah.
"Ya aku jawab lagi, 'Ya yang penting kan ada harinya, kalau tanggalnya nanti'," lanjut dia.
Ardi mengaku hanya bercanda dengan saudara yang berkarakter santai, dan tidak pernah ada yang tersinggung dengan jawabannya.
Kini, Ardi sudah menikah. Pertanyaan pun berlanjut seputar momongan. Lagi-lagi, ia kembali meresponsnya tanpa beban dan dengan candaan.
"Waktu itu aku jawabnya cuma, 'Ya memang belum dikasih. Nanti juga dikasih'. Waktu itu Lebarannya pas awal April, alhamdulillah pertengahan April ternyata istri sudah hamil 6 minggu," kenang dia.
Cara serupa juga dilakukan oleh Ulfa (30). Ia memilih untuk merespons dengan tawa ketika menghadapi rasa penasaran keluarga besar hingga tetangga sekitar.
Ilustrasi tradisi Lebaran Ketupat. Kumpulan ucapan Idul Fitri 2026 yang penuh makna dan siap dibagikan ke orang terdekat.
"Paling kalau aku ya responsnya itu aku bercandain atau aku ketawa saja, senyum sih. Jadi enggak terlalu jawab serius, pakai humor," ujar Ulfa.
Menurut dia, respons santai ini membuat keluarganya juga ikut santai dan tidak bertanya lebih dalam.
"Sebagian besar sih cuma pertanyaan-pertanyaan kayak, 'Sudah lama ya enggak ketemu, sudah lama enggak silaturahmi'. Jadi pertanyaan soal kapan nikah cuma sekadar pertanyaan selewat sih," tambah Ulfa.
Tegas menjaga privasi
Berbeda dengan Ardi dan Ulfa yang memilih jalur komedi, Oi (28) memiliki pendekatan yang jauh lebih tegas.
Ia sangat menjaga privasinya dan tidak segan memberikan jawaban menohok jika ada kerabat yang dinilai melewati batas, baik saat ditanya soal momongan maupun karier.
"Karena saya sudah menikah, biasanya yang jadi pertanyaan adalah kapan nambah anak. Saya biasa menjawab, 'Urus diri sendiri saja, enggak usah nanya yang mengarah ke privasi untuk sekadar basa-basi'," tutur Oi.
Terkadang ia juga mendapat pertanyaan, mengapa ia tidak mencari pekerjaan lain saat kini sudah memiliki anak, Oi menjawabnya dengan logis, yaitu situasi ekonomi saat ini sedang sulit.
Ilustrasi lebaran ramah lingkungan. Berikut 50 ucapan Idul Fitri lucu dan santai yang bisa membuat suasana Lebaran jadi lebih hangat dan penuh tawa.
"Karena di situasi ekonomi yang sulit ini lebih baik mempertahankan pekerjaan daripada menganggur dan hidup bergantung dengan orang lain," papar Oi.
Saat masih lajang, respons yang ia berikan soal pernikahan pun cukup lugas untuk langsung menghentikan percakapan.
"Saya jawab, 'Biar Tuhan yang ngatur'. Karena balik lagi, saya tipikal yang amat menjaga batasan dan privasi. Jadi kalau misal ada yang ngelewatin garis, saya skakmat," tegas Oi.
Sikap ini diakui Oi membuat keluarganya terkejut. Mereka biasanya langsung terdiam, sehingga suasana kumpul keluarga saat Lebaran menjadi agak sedikit canggung.
"Tapi itu baik untuk saya, karena jadi pihak yang sedikit dijauhi. Ini memberikan jarak yang nyaman," kata Oi.
Basa-basi yang tak perlu diambil hati
Meski dicecar dengan berbagai pertanyaan yang mengarah pada urusan pribadi, baik Ardi, Ulfa, maupun Oi, sepakat untuk tidak merasa tersinggung.
Untuk Ardi, ia menganggap keingintahuan keluarga besar hanyalah sekadar basa-basi.
"Walaupun setiap tahun ditanya kayak begitu, ya biasa aja. Dan kalau Lebaran nanti ada yang bilang fisik anak kurus karena sekarang banyak yang lebih suka bayi-bayi gemoy, ya tinggal bilang saja, 'Enggak apa-apa daripada gendut tapi obesitas'," ucap dia.
Ulfa juga merasa tidak terbebani dengan pertanyaan berulang setiap Lebaran, karena ia memiliki kepribadian yang tenang.
"Kalau aku pribadi sih karena aku orangnya nyantai enggak dibawa serius, akunya pun santai enggak terlalu terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena aku sendiri pun masih senang-senang saja (belum menikah)," ungkap Ulfa.
Sementara Oi, ia lebih merasa malas menanggapi. Ia memiliki pandangan tersendiri mengenai makna berkumpul saat Lebaran yang kerap disalahartikan.
"Menurut saya, kumpul di hari Raya adalah waktu untuk saling membenahi diri dan mempererat silaturahim dengan keluarga, bukan ajang adu nasib, memamerkan pencapaian, atau mengurusi hidup orang lain lalu mencibirnya," pungkas Oi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang