Ditanya Hal Sensitif Saat Lebaran, Lebih Baik Menjawab atau Cuek?
Momen silaturahmi saat Lebaran kerap diwarnai dengan rentetan pertanyaan dari keluarga besar, yang seringkali mengusik ranah privasi. Pertanyaan kapan akan menikah, memiliki momongan, hingga pencapaian karier, bisa membuat kita kesal karena seolah dituntut untuk memenuhinya.
Situasi ini mengharuskan seseorang untuk memiliki kemampuan menetapkan batasan diri yang tegas demi menjaga ketenangan batin.
Banyak yang merasa bingung bagaimana harus bersikap dan merespons seara sopan tanpa memancing keributan dalam momen tersebut. Ada juga yang bingung menentukan kapan saat yang tepat untuk tetap diam demi memelihara kerukunan keluarga besar di hari raya.
"Menjawab sopan dan tidak sopan itu sebenarnya tergantung pada siapa kita merespons. Setiap orang di keluarga kita itu kan punya karakteristik," ucap Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, dalam webinar KALM Counseling, Sabtu (14/3/2026).
Gunakan jawaban "aman" untuk menghindari konflik
Wenny memaparkan bahwa standar kesopanan dalam merespons pertanyaan anggota keluarga sangatlah subyektif.
Sebuah jawaban yang menurut kita sudah disampaikan dengan nada yang sangat sopan kepada seorang tante, misalnya, belum tentu ditangkap dengan nuansa yang sama oleh tante lainnya.
Baik itu nada bicara, pemilihan kata, maupun cara menyampaikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu ranah privasi, harus disesuaikan dengan karakter lawan bicara yang sedang dihadapi.
Menurut Wenny, langkah antisipasi yang paling aman adalah menggunakan jawaban-jawaban bernada netral atau standar.
Menghindari konfrontasi langsung dengan kalimat sinis pada akhirnya hanya akan menambahkan kelelahan emosional diri sendiri.
"Yang paling netral bisa kita lakukan adalah secara standar kita jawab, 'Ya doain saja ya,' semoga bisa dilakukan,' 'Mohon doanya," kata Wenny.
Kenali alasan batin mudah "tercolek" pertanyaan sensitif
Ilustrasi Lebaran. Bolehkah menikah dengan sepupu sendiri dalam Islam?
Alih-alih terlalu pusing merangkai kata-kata balasan yang sempurna untuk menjawab pertanyaan sensisitf, hal yang jauh lebih krusial adalah memahami reaksi diri sendiri.
Wenny mengajak setiap individu untuk mempertanyakan ke dalam batinnya masing-masing mengenai alasan utama mengapa sebuah pertanyaan spesifik bisa memicu reaksi emosional yang begitu hebat dan menyakitkan.
Jika pertanyaan basa-basi tersebut bisa jadi terasa biasa saja bagi orang lain, tetapi sangat mengganggu kita, ini mengindikasikan adanya isu psikologis atau luka lama yang belum tuntas, sehingga pertanyaan tersebut bertindak sebagai pemicu.
"Berarti ada sesuatu di dalam diri kita yang 'tercolek'. Jadi sebenarnya PR-nya, respons baik bisa kita keluarkan ketika kita tahu kenapa terpicu. Bukannya kita jadi enggak fokus pada pertanyaannya apa, tapi apa yang membuat kita merasa pertanyaan itu sesuatu yang mengancam kita," terang Wenny.
Memilih diam bukan berarti memendam perasaan
Terkait dengan keputusan kapan harus merespons secara verbal dan kapan harus diam, Wenny menegaskan bahwa tidak ada rumus yang pasti.
Semuanya bergantung murni pada seberapa kamu mengenal anggota keluarga yang sedang bertanya. Jika berhadapan dengan kerabat yang sangat mudah tersinggung, menarik diri dan memilih diam adalah opsi yang jauh lebih bijak.
Namun, terdapat satu miskonsepsi besar di masyarakat terkait sikap diam ini. Banyak orang salah kaprah dan menganggap bahwa memilih diam berarti emosinya harus ditekan, atau menolak emosi yang sedang dirasakan di dalam hati.
Padahal, diam seharusnya hanyalah bentuk respons eksternal ke lingkungan sekitar.
"Di dalam diri, kita tetap mengelola emosi kita," kata Wenny.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang