Perusahaan Teknologi Amerika Ramai-ramai Tinggalkan China?

Google, microsoft, China, Amazon, trump, Perusahaan Teknologi Amerika Ramai-ramai Tinggalkan China?
  • Tiga raksasa teknologi asal AS, Microsoft, Google, dan Amazon, dikabarkan mulai memindahkan produksi dari China ke negara lain seperti Thailand dan kawasan Asia Tenggara, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China.
  • Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan rantai pasok pada China, sekaligus mengantisipasi kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor hingga 100 persen mulai November 2025.
  • Selain memindahkan produksi, China disebut memperketat ekspor mineral tanah jarang, komponen penting untuk chip komputer, yang berpotensi mengguncang industri teknologi global dan memperuncing perang dagang AS–China.

– Banyak perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang membuat sekaligus merakit barang bikinan mereka di China untuk menekan biaya operasional dan produksi. 

Namun belakangan, sejumlah perusahaan AS mulai memindahkan rantai pasok dan produksi dari "Negeri Tirai Bambu" ke negara lainnya. Tiga di antaranya yang terbaru konon adalah raksasa teknologi Microsoft, Google, dan Amazon.

Menurut laporan Nikkei Asia yang mengutip sejumlah sumber industri, Microsoft menargetkan hingga 80 persen komponen untuk perangkat Surface, server pusat data (data center), dan konsol game Xbox akan diproduksi di luar China mulai 2026 mendatang.

Sumber ini juga menyebut sebagian besar produksi server Microsoft bahkan sudah mulai dialihkan sejak 2024. 

Nah, untuk mendukung rencana ini, Microsoft kabarnya telah meminta sejumlah pemasok untuk menyiapkan fasilitas produksi di luar China.

Tak disebutkan wilayah mana yang akan dijadikan "markas" produksi baru Microsoft untuk Surface atau server buatan mereka. Namun untuk Xbox, Microsoft disebut berencana membuat dan merakit konsol ini di wilayah Asia Tenggara. 

Selanjutnya Google, perusahaan ini juga disebut telah meminta para pemasoknya memperluas kapasitas produksi server di Thailand.

Mereka juga konon telah menjalin kerja sama dengan beberapa mitra lokal untuk penyediaan komponen dan perakitan produk.

Kemudian untuk Amazon, mereka kabarnya tengah meninjau opsi untuk memindahkan produksi server berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk Amazon Web Services (AWS) ke luar China. 

Perusahaan yang dipimpon Jeff Bezos ini juga konon tengah berupaya untuk mengurangi ketergantungan dari pemasok lama yang berasal dari China, salah satunya seperti Shengyi Electronics (SYE). 

Baik Microsoft, Google, dan Amazon tak memberikan konfirmasi atau informasi resmi terkait pemindahan proses produksi dari China ke negara lainnya. 

Namun yang jelas, langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China, serta kebijakan keras Presiden AS, Donald Trump yang mendorong perusahaan AS untuk "lepas" dari China.

Kebijakan Trump naikkan tarif impor

Google, microsoft, China, Amazon, trump, Perusahaan Teknologi Amerika Ramai-ramai Tinggalkan China?

Ilustrasi logo Amazon.

Kebijakan Trump yang memaksa perusahaan AS untuk lepas dari China adalah seputar peningkatan tarif impor hingga 100 persen.

Tarif ini berlaku terhadap produk yang diimpor dari negara tersebut mulai November 2025 mendatang.

Trump juga akan memperketat aturan ekspor dan impor perangkat lunak dan teknologi penting dari dan ke China.

Nah, kebijakan tersebut berpotensi mengguncang operasi manufaktur berbagai perusahaan asal AS yang selama ini sangat bergantung pada China.

Trump sendiri sudah lama mendorong pemisahan ekonomi (decoupling) antara perusahaan AS dan China.

Ia bahkan sempat memaksa CEO Intel, Lip-Bu Tan untuk mundur, lantaram dianggap memiliki hubungan terlalu dekat dengan China.

Meski demikian, ancaman ini ditarik setelah Intel sepakat menjual 10 persen sahamnya ke pemerintah AS pada Agustus 2025 lalu.

Terkait pemindahan produksi dari China ini, hal tersebut kabarnya tak akan mudah dilakukan.  Sebab, pemindahan proses produksi dari China ke nagara lainnya boleh jadi akan memakan waktu yang tidak sebentar.

China perketat aturan

Google, microsoft, China, Amazon, trump, Perusahaan Teknologi Amerika Ramai-ramai Tinggalkan China?

Ilustrasi Google didenda Rp 56 triliun oleh Uni Eropa

Di sisi lain, China juga mulai menggunakan kekuatan industrinya sebagai alat tekanan balasan terhadap kebijakan yang dibuat AS.

Salah satu yang dilakukan adalah memperketat ekspor mineral tanah jarang (rare earth minerals) yang menjadi komponen penting dalam pembuatan chip komputer.

Kini, setiap produk yang mengandung lebih dari 0,1 persen mineral asal China wajib memiliki lisensi ekspor dari pemerintah.

China sendiri diketahui menambang sekitar 70 persen dan memurnikan 90 persen pasokan mineral tanah jarang dunia.

Sehingga, kebijakan ini agaknya akan membuat negara lain yang mengandalkan material dari China sedikit kelabakan, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari NikkeiAsia, Senin (20/10/2025).

Di luar kebijakan seputar material, China juga disebut tengah meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan teknologi AS, dua di antaranya adalah perusahaan chip Nvidia dan Qualcomm.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.