Waspada, 5 Tanda Pasangan Bersikap Manipulatif yang Jarang Disadari

manipulasi, manipulatif, Waspada, 5 Tanda Pasangan Bersikap Manipulatif yang Jarang Disadari, 1. Pasangan sering mempermalukan , 2. Sering membandingkan kamu dengan orang lain, 3. Selalu ingin tahu semua aktivitas kamu , 4.  Gemar menyalahkan orang lain, 5. Melibatkan orang lain saat bertengkar

Manipulasi dalam hubungan tidak selalu mudah dikenali. Pasangan yang manipulatif sering kali membuat tindakan mereka terlihat seperti bentuk perhatian atau niat baik.  Akibatnya, korban justru bisa merasa ragu terhadap penilaiannya sendiri.

Sejumlah terapis hubungan mengungkapkan beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa seseorang sedang dimanipulasi oleh pasangannya. Simak beberapa tanda yang perlu diwaspadai.

5 Tanda pasangan manipulatif yang jarang disadari

1. Pasangan sering mempermalukan 

Salah satu tanda manipulasi dalam hubungan adalah ketika pasangan kerap mempermalukan kamu, baik secara terang-terangan maupun terselubung.

Candaan ringan dalam hubungan memang wajar terjadi. Namun jika pasangan terus-menerus merendahkan atau mempermalukan kamu atas berbagai hal, perilaku tersebut bisa menjadi bentuk kontrol emosional.

Terapis keluarga dan pakar hubungan, Jennifer Kelman mengatakan perilaku ini dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

“Jika kamu dipermalukan cukup sering, kamu mungkin akan mencoba berubah dan menyesuaikan diri dengan gambaran yang mereka inginkan,” jelas Kelman, seperti dilansir Best Life, Selasa (10/3/2026).

Ia menambahkan, kondisi ini merupakan tanda bahaya yang serius. Menurutnya, orang yang terus dipermalukan bisa mulai meragukan dirinya sendiri dan kehilangan keyakinan terhadap siapa dirinya sebenarnya.

2. Sering membandingkan kamu dengan orang lain

Tanda lain dari manipulasi adalah ketika pasangan terus membandingkan kamu dengan orang lain, termasuk mantan pasangan mereka.

Psikoterapis berlisensi Kaytee Gillis menjelaskan, perbandingan semacam ini sering digunakan sebagai cara untuk menekan pasangan agar merasa tidak cukup baik.

“Hal ini sering dilakukan untuk membuat kamu merasa tidak memenuhi standar mereka atau untuk membuat kamu berusaha lebih keras memberikan sesuatu yang mereka inginkan,” kata Gillis.

Perbandingan yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak berharga dalam hubungan.  Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan menciptakan ketergantungan emosional pada pasangan.

3. Selalu ingin tahu semua aktivitas kamu 

Rasa ingin tahu terhadap aktivitas pasangan sebenarnya wajar dalam hubungan yang sehat. Namun ada perbedaan besar antara perhatian dan perilaku yang bersifat mengontrol.

Psikoterapis klinis Lisa Lawless mengatakan, pasangan manipulatif biasanya ingin mengetahui setiap detail tentang aktivitas pasangannya, mulai dari ke mana pergi hingga dengan siapa mereka bertemu.

“Ketika pasangan membutuhkan detail yang sangat banyak tentang ke mana kamu pergi dan dengan siapa kamu bersama, bahkan sampai marah jika tidak mendapatkan informasi tersebut, itu bisa menjadi bentuk manipulasi,” tutur Lawless.

Menurutnya, perilaku ini pada akhirnya bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan dan mempertahankan dominasi dalam hubungan.

4.  Gemar menyalahkan orang lain

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak seharusnya mampu mengakui kesalahan masing-masing. Akan tetapi, pasangan manipulatif sering kali menghindari tanggung jawab atas tindakannya.

Gillis menjelaskan, orang yang manipulatif cenderung membenarkan perilaku mereka dan bahkan mencoba meyakinkan pasangannya bahwa orang lainlah yang bersalah.

“Alih-alih mengatakan ‘kamu benar, saya tidak menanganinya dengan baik,’ banyak orang yang manipulatif justru akan membenarkan perilakunya dan mencoba meyakinkan kamu bahwa mereka benar,” ujarnya.

Sementara itu, Kelman menambahkan, menyalahkan orang lain atau berbohong sering digunakan untuk membuat pasangan meragukan penilaiannya sendiri.

5. Melibatkan orang lain saat bertengkar

Pasangan manipulatif sering mencoba memenangkan argumen dengan melibatkan pihak lain.

Gillis menyebut taktik ini sebagai triangulation atau triangulasi. Cara ini dilakukan dengan membawa orang lain ke dalam konflik agar mereka berpihak pada dirinya.

“Ini terjadi ketika seseorang membawa orang lain ke dalam argumen untuk mencoba mendapatkan dukungan dan membuktikan bahwa mereka benar,” ucap Gillis.

Orang yang manipulatif bisa melibatkan teman, keluarga, bahkan terapis pasangan untuk memperkuat posisinya dalam konflik.

Jika hal ini terjadi, konflik yang seharusnya diselesaikan secara pribadi justru berubah menjadi tekanan sosial bagi salah satu pihak dalam hubungan.

Apabila kamu menemukan beberapa tanda tersebut, penting untuk mulai mengevaluasi dinamika yang terjadi. Hubungan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman, bukan membuat seseorang merasa dikendalikan atau direndahkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang