Mengantuk di Dekat Pasangan Ternyata Tanda Rasa Aman

Mengantuk di Dekat Pasangan Ternyata Tanda Rasa Aman, Berkaitan dengan sistem saraf parasimpatik, Kebiasaan yang sudah ada sejak zaman prasejarah, Ada peran dari hormon kebahagiaan, Kekuatan aroma dan ritme napas

Pernahkah kamu merasa sangat mengantuk, atau bahkan tertidur, saat sedang menghabiskan waktu bersama pasangan?

Banyak orang merasa bersalah atau khawatir bahwa rasa kantuk tersebut adalah sinyal bahwa hubungan mereka membosankan atau kurang stimulasi. Benarkah demikian?

“Ketika kita merasa aman dan nyaman dekat pasangan, hal itu dapat mengaktifkan tubuh kita untuk merasa sangat aman sehingga kita mungkin tertidur,” kata psikoterapis, Tasha Bailey, mengutip Vogue India, Senin (23/3/2026).

Rasa kantuk yang muncul saat berada di dekat orang terkasih sebenarnya merupakan indikator kuat bahwa hubungan yang dijalani berada dalam kondisi yang sangat bahagia dan sehat.

Sebab, tubuh memberikan "izin" untuk beristirahat karena merasa berada di tempat yang paling terlindungi.

Mengapa kita mengantuk saat bersama pasangan?

Berkaitan dengan sistem saraf parasimpatik

Mengantuk di Dekat Pasangan Ternyata Tanda Rasa Aman, Berkaitan dengan sistem saraf parasimpatik, Kebiasaan yang sudah ada sejak zaman prasejarah, Ada peran dari hormon kebahagiaan, Kekuatan aroma dan ritme napas

Ilustrasi

Saat merasa aman, tubuh secara otomatis mengaktifkan bagian parasimpatik dari sistem saraf, yang bertanggung jawab untuk mode relaksasi.

Bailey menjelaskan bahwa pada kondisi ini, pupil mata akan melebar, napas menjadi lebih dalam, dan detak jantung menurun saat tubuh perlahan mulai rileks.

Hal ini jugalah yang menjelaskan mengapa seseorang jarang mengantuk saat pertama kali berkencan. Sebab, pada masa awal hubungan, ikatan batin yang dalam belum benar-benar terbentuk sempurna, sehingga tubuh masih berada dalam mode waspada.

“Jika kita tidak merasa aman dengan pasangan, sistem saraf simpatik ‘lawan atau lari’ kita dapat diaktifkan. Ini dapat membuat kita merasa tegang, cemas, dan terlalu waspada sehingga tidak dapat rileks,” jelas Bailey.

Kebiasaan yang sudah ada sejak zaman prasejarah

Secara evolusi, keinginan untuk tidur di hadapan seseorang memiliki asal-usul primal yang sangat kuat.

Pada zaman prasejarah, nenek moyang manusia hanya bisa tertidur di tempat dan bersama orang-orang yang mereka yakini dapat menjaga mereka dari ancaman bahaya.

Dengan demikian, kemampuan untuk tertidur lelap saat pasangan berada di sampingmu adalah sebuah pengakuan bawah kamu memercayai mereka dengan kondisimu yang paling rentan, yaitu saat tidak sadarkan diri dalam tidur.

“Merasa mengantuk di dekat pasanganmu bisa menjadi pertanda baik bahwa kamu cukup mempercayai orang ini untuk tertidur di hadapannya,” tambah Bailey.

Ada peran dari hormon kebahagiaan

Di balik perasaan rileks tersebut, terdapat proses kimiawi yang kompleks dalam tubuh. Berada bersama orang yang dicintai memicu pelepasan hormon-hormon yang mendorong kesejahteraan dan kualitas tidur.

Salah satu yang paling berperan adalah oksitosin atau yang sering dijuluki sebagai hormon cinta atau hormon kebahagiaan.

Oksitosin memicu perasaan cinta dan kepercayaan yang mendalam. Selain itu, muncul pula serotonin, neurotransmitter yang hadir saat seseorang merasa bahagia dan stabil secara emosional.

Mengantuk di Dekat Pasangan Ternyata Tanda Rasa Aman, Berkaitan dengan sistem saraf parasimpatik, Kebiasaan yang sudah ada sejak zaman prasejarah, Ada peran dari hormon kebahagiaan, Kekuatan aroma dan ritme napas

Ilustrasi pasangan, ilustrasi pacaran.

Kehadiran zat-zat kimia ini memberikan sinyal kepada pikiran bahwa tubuh diperbolehkan untuk melepaskan segala ketegangan.

“Dopamin berasal dari penghargaan dan kesenangan, yang pasti akan kita rasakan saat berada di dekat seseorang yang kita cintai. Ketika semua zat kimia ini mengalir melalui tubuh kita, kita berada dalam kondisi kesejahteraan yang tinggi,” papar Bailey.

Kekuatan aroma dan ritme napas

Selain faktor internal, faktor sensorik seperti aroma dan suara pernapasan pasangan juga memegang peran kunci.

Sebuah studi dari Universitas British Columbia menemukan bahwa aroma tubuh pasangan dapat meningkatkan kualitas tidur seseorang, bahkan jika pasangan tersebut tidak hadir secara fisik di tempat tidur yang sama.

Selain aroma, ritme pernapasan pasangan yang lembut dapat membantu mengatur pola napasmu sendiri. Hal ini berkaitan dengan sistem saraf otonom atau automatic nervous system (ANS) yang membawa tubuh ke mode "istirahat dan pencernaan".

Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan glimmers atau sinyal sensorik positif. Glimmers adalah sinyal sensorik yang memberi tahu otak bahwa seseorang aman karena terhubung dengan pengalaman positif sebelumnya.

“Misalnya, mencium aroma parfum pasangan kita atau mendengarkan lagu yang kita kaitkan dengan hubungan kita dapat memberi kita kenyamanan, mengaktifkan sistem saraf parasimpatik kita,” pungkas Bailey.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang