Persebaya Berduka, Manajemen Kenang Jasa Legenda Riono Asnan

Persebaya, belasungkawa, Bajul Ijo, Persebaya Berduka, Manajemen Kenang Jasa Legenda Riono Asnan

Dunia sepak bola Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Legenda Persebaya Surabaya sekaligus mantan pemain Timnas Indonesia, Riono Asnan, meninggal dunia pada Rabu (4/3/2026) dalam usia 68 tahun.

Kabar duka tersebut pertama kali disampaikan melalui media sosial resmi PSSI dan langsung memantik rasa kehilangan dari berbagai kalangan, khususnya keluarga besar Persebaya.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya, Ram Surahman, mewakili manajemen menyampaikan belasungkawa atas wafatnya sosok yang dianggap memiliki peran besar dalam perjalanan klub berjuluk Bajol Ijo itu.

“Turut berduka cita atas meninggalnya legenda Persebaya Riono Asnan. Atas segala jasanya di Persebaya dan timnas Indonesia. Selama ini menjadi inspirasi para pemain Persebaya,” ujarnya kepada Kompas.com.

Warisan Karakter Arek Suroboyo, Diturunkan ke Generasi Muda

Bagi Persebaya, Riono Asnan bukan sekadar mantan pemain, namun dianggap sebagai salah satu figur yang memberikan warna penting dalam sejarah klub.

Ia menilai sosoknya merepresentasikan karakter khas pemain Surabaya yang dikenal ngeyel, berani, tangguh, dan penuh semangat juang.

“Sebagai legenda dia memberi jasa dan warna untuk Persebaya. Sebagai pemain kelahiran Surabaya dia bermain dengan karakter Arek Suroboyo sama seperti legenda yang lain,” kata Ram.

Karakter tersebut, menjadi warisan penting yang terus dijaga oleh manajemen klub berjuluk Bajul Ijo itu hingga saat ini.

Nilai-nilai yang ditunjukkan Riono selama kariernya tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah. Manajemen Persebaya berupaya menanamkan karakter permainan khas Surabaya kepada generasi pemain berikutnya.

“Setidaknya karakter permainan Suroboyo ini yang selalu ditanamkan manajemen kepada pemain-pemain Persebaya mulai dari pembinaan, EPA sampai di profesional,” imbuhnya.

Melalui nila-nilai tersebut diharapkan mampu menjaga identitas klub sekaligus melahirkan pemain-pemain yang memiliki semangat juang seperti para legenda sebelumnya.

Bek Tangguh Era 1980-an

Riono Asnan lahir di Surabaya pada 15 Januari 1958. Ia dikenal sebagai pemain bertahan serbabisa yang mampu bermain sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan.

Namanya mulai dikenal ketika dipanggil memperkuat tim PSSI Muda pada 1978.

Setahun kemudian, ia masuk dalam skuad yang tampil di turnamen President Cup sebelum akhirnya mendapat kesempatan membela tim nasional utama.

Pada periode 1979 hingga 1983, Riono menjadi bagian dari lini pertahanan Timnas Indonesia. Ia tampil di berbagai ajang internasional, termasuk Jakarta Anniversary Cup, pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1982 melawan Australia, serta turnamen Pestabola Merdeka di Malaysia.

Ia juga memperkuat Indonesia pada SEA Games 1983 di Singapura serta masuk dalam skuad yang dipersiapkan untuk kualifikasi Olimpiade 1984 di bawah pelatih M. Basri.

Perjalanan Panjang di Sepak Bola

Karier Riono Asnan tidak dapat dipisahkan dari Persebaya, klub yang membesarkan namanya sejak level pembinaan. Ia juga sempat memperkuat beberapa klub lain seperti NIAC Mitra dan Tunas Inti.

Menjelang akhir kariernya sebagai pemain, ia membela BPD Jateng sambil mulai meniti jalan sebagai pelatih dengan peran ganda sebagai pemain sekaligus asisten pelatih yang membantu Joko Malis.

Setelah gantung sepatu, Riono melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih di sejumlah klub nasional, termasuk Persebaya, PSIS Semarang, Persijap Jepara, Persiku Kudus, Persik Kediri, hingga Persid Jember.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang