Ramadhan Bikin Pengeluaran Membengkak? Cerita Ini Bikin Kamu Ngerasa Gak Sendiri
Ramadhan selalu datang dengan dua sisi yang berjalan beriringan: hangatnya momen kebersamaan dan meningkatnya kebutuhan sehari-hari. Bagi banyak keluarga Indonesia, bulan ini bukan hanya soal ibadah dan tradisi, tetapi juga tentang bagaimana mengatur ulang ritme hidup—termasuk urusan finansial.
Di tengah perubahan pola aktivitas dan pengeluaran yang cenderung meningkat, banyak orang mulai mencari cara agar tetap bisa menjalani Ramadhan dengan tenang tanpa mengorbankan kebutuhan lain. Menariknya, bagi sebagian pelaku usaha kecil dan pekerja harian, justru di momen inilah peluang baru terbuka. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Seperti yang dirasakan Anto Putra Gunadi (55), seorang pengemudi yang mengandalkan kendaraan pribadinya sebagai sumber penghasilan sekaligus aset keluarga. Baginya, menjaga kondisi mobil tetap prima bukan sekadar kebutuhan kerja, tetapi juga bagian dari menjaga stabilitas hidup sehari-hari.
“Setiap saya meminjam, tagihan bisa terbayar dengan lancar karena sistem pembayarannya harian dan langsung dipotong dari pendapatan hari itu. Ini yang bikin saya nyaman dan semangat buat cari orderan,” ujar Anto dalam keterangannya, dikutip Rabu 18 Maret 2026.
Cerita Anto menjadi gambaran bagaimana fleksibilitas dalam mengatur keuangan bisa memberikan rasa tenang—hal yang sering kali terasa mahal di tengah tekanan kebutuhan Ramadhan.

Hal serupa juga dialami Mirna (38), pemilik usaha kue rumahan. Ramadhan bagi Mirna adalah musim yang sibuk, tetapi juga penuh tantangan. Ia harus memastikan stok bahan baku cukup agar bisa memenuhi permintaan yang meningkat, sambil tetap menjaga arus kas usaha tetap stabil.
“Awalnya saya pinjam untuk beli bahan baku supaya stok aman dan bisa produksi lebih banyak,” katanya.
Namun, kehidupan tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika harus pindah kota mengikuti suami, Mirna sempat menghentikan usahanya sementara waktu. Di titik itu, tantangan bukan hanya soal kehilangan pemasukan, tetapi juga bagaimana tetap mengelola kewajiban finansial.
“Karena pindah kota, jadi otomatis jualannya juga libur. Tidak memungkinkan untuk membayar tiap hari,” lanjutnya.
Kisah-kisah seperti ini menjadi potret nyata bagaimana Ramadhan bukan hanya tentang konsumsi dan perayaan, tetapi juga tentang adaptasi. Banyak orang dituntut untuk lebih cermat mengatur keuangan, sekaligus tetap hadir untuk keluarga di momen penting seperti Lebaran.
Di sinilah peran ekosistem digital mulai terasa. Akses terhadap layanan keuangan yang lebih fleksibel—termasuk opsi jeda pembayaran saat kondisi darurat atau momen libur—memberikan ruang bernapas bagi mereka yang membutuhkan.
Riady Nata, Direktur Utama OVO Finansial, menyebut bahwa kebutuhan setiap orang bisa berubah dengan cepat, terutama di periode seperti Ramadhan. Karena itu, fleksibilitas menjadi kunci agar masyarakat tetap bisa menjalani aktivitas dengan tenang tanpa tekanan berlebih.
"Melalui kolaborasi dalam ekosistem Grab, kami ingin menghadirkan solusi finansial yang tidak hanya mudah diakses, tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi Mitra dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Dengan proses cepat, cicilan ringan yang bikin pikiran jadi tenang, kami berharap layanan GrabModal dapat membantu para Mitra tetap produktif sekaligus menjaga kestabilan kondisi finansial mereka," ujar Riady.
Meski begitu, di balik berbagai solusi yang tersedia, satu hal yang tetap menjadi benang merah adalah kemampuan untuk beradaptasi. Baik Anto maupun Mirna menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan keuangan bukanlah hal yang mustahil—selama ada ruang untuk menyesuaikan diri.