Menperin: Otomotif Masih Jadi Penopang Industri Nasional

IIMS 2026, otomotif, investasi, penjualan, Menperin: Otomotif Masih Jadi Penopang Industri Nasional

Sektor otomotif masih menjadi salah satu penopang utama industri nasional di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya solid.

Kontribusinya dinilai signifikan terhadap penciptaan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan struktur industri dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

“Kami berharap IIMS 2026 kembali dapat menjadi katalis untuk mempercepat pemulihan sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan industri otomotif nasional,” ujar Agus.

Sepanjang 2025, industri otomotif berperan besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini menyerap sekitar 99.700 tenaga kerja langsung dengan total nilai investasi mencapai Rp 194,22 triliun.

IIMS 2026, otomotif, investasi, penjualan, Menperin: Otomotif Masih Jadi Penopang Industri Nasional

AHM IIMS 2026

Menurut Agus, industri otomotif memiliki daya ungkit luas terhadap sektor pendukung, mulai dari komponen, logistik, hingga jasa keuangan. Meski demikian, pemulihan pasar domestik masih berlangsung bertahap dan belum merata.

Saat ini, subsektor kendaraan roda empat didukung 41 pabrikan dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 2,59 juta unit per tahun.

Sementara industri roda dua dan roda tiga melibatkan 82 pabrikan dengan kapasitas produksi hingga 11,2 juta unit per tahun. Di tingkat regional, Indonesia masih mempertahankan posisi sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan ASEAN.

Pada 2024, total penjualan kendaraan di dalam negeri mencapai 865.723 unit, melampaui Malaysia yang mencatatkan 816.747 unit dan Thailand sebanyak 562.954 unit.

IIMS 2026, otomotif, investasi, penjualan, Menperin: Otomotif Masih Jadi Penopang Industri Nasional

Pameran IIMS 2025

Memasuki 2026, industri otomotif mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama didorong oleh kinerja ekspor dan percepatan pengembangan kendaraan elektrifikasi.

Meski demikian, Agus menilai kebangkitan industri otomotif belum sepenuhnya kokoh.

“Lemahnya daya beli masyarakat, tantangan pembiayaan, serta dinamika global dalam rantai pasok masih menjadi faktor penghambat,” ujarnya.

Pada 2026, penjualan mobil nasional diperkirakan mencapai sekitar 850.000 unit atau tumbuh sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 803.687 unit.

Namun, proyeksi tersebut masih belum mampu menembus level penjualan di atas 1 juta unit seperti sebelum pandemi.

“Pemulihan pasar domestik masih berlangsung secara bertahap, dengan permintaan menjadi faktor utama,” kata Agus.

Data penjualan sepanjang 2025 menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Penjualan wholesales tercatat turun 7,2 persen menjadi 803.687 unit, sementara penjualan ritel merosot 6,3 persen menjadi 833.712 unit.

Agus mengatakan, pelemahan tersebut mencerminkan penurunan kinerja di sisi distribusi sekaligus melemahnya permintaan konsumen.

Selain sektor otomotif, Agus juga memaparkan kinerja industri manufaktur secara umum.

Kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2023 mencapai 17,27 persen atau setara Rp 3.051 triliun.

Dari sisi ekspor, sepanjang 2025 sektor manufaktur mencatat nilai 227,10 miliar dollar AS atau sekitar 80,27 persen dari total ekspor nasional.

Sementara investasi manufaktur mencapai Rp 552 triliun atau hampir 38,5 persen dari total investasi nasional.

Adapun jumlah tenaga kerja manufaktur hingga Agustus 2025 tercatat mencapai 20,26 juta orang. Meski demikian, rata-rata utilisasi industri manufaktur pada Desember 2025 masih berada di level 61,80 persen.

IIMS 2026, otomotif, investasi, penjualan, Menperin: Otomotif Masih Jadi Penopang Industri Nasional

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita IIMS 2026

“Kita harus terus mendorong agar utilisasi industri bisa meningkat, minimal di atas 70 persen,” ujar Agus.

Ia juga menyinggung Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 yang tercatat 54,12, naik dari 51,90 pada Desember 2025.

Sementara Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia Januari 2026 berada di level 52,6 poin.

Namun Agus menegaskan PMI tidak menjadi satu-satunya dasar dalam perumusan kebijakan industri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang