Bos Dexa Medica Tegaskan Inovasi OMAI Perkuat Kemandirian Industri Obat Nasional
PT Dexa Medica menerima BPOM Achievement Award 2026 dalam kategori Pelopor Produsen Fitofarmaka Terbanyak di Indonesia, sebuah apresiasi atas konsistensi pengembangan Fitofarmaka yang memenuhi standar ilmiah setara obat modern.
Hal ini ditegaskan merupakan buah dari upaya panjang industri farmasi nasional dalam mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) kembali mendapat posisi di masyarakat.
Direktur Utama Dexa Medica, V Hery Sutanto, menyampaikan bahwa apresiasi ini menjadi pengingat akan tanggung jawab industri farmasi dalam menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, pengembangan OMAI bukan sekadar inovasi produk.
"Tetapi bagian dari kontribusi nyata untuk memperkuat kemandirian obat nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pilihan terapi yang berkualitas," ujar Hery dikutip dari keterangannya, Selasa, 3 Februari 2026.
Sejalan dengan itu, Business Development and Scientific Affairs Director Dexa Medica, Prof. Raymond Tjandrawinata, menegaskan bahwa riset Fitofarmaka yang dikembangkan Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) sejak awal diarahkan untuk menjembatani kekayaan biodiversitas Indonesia dengan standar sains modern.
“Melalui pengembangan Fitofarmaka secara berkelanjutan, kami berupaya memberikan kontribusi nyata bagi sistem kesehatan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pilihan terapi yang inovatif, aman, dan berkualitas,” ujarnya.
Karenanya, Prof. Raymond menambahkan, dengan fondasi riset jangka panjang dan standar ilmiah yang semakin kuat, Fitofarmaka Indonesia tidak lagi diposisikan sebagai alternatif, melainkan sebagai bagian dari solusi terapi berbasis sains. Pada tahap ini, sinergi kebijakan menjadi faktor kunci untuk memperluas dampak inovasi nasional tersebut.
“Setelah lebih dari dua dekade riset dan pembuktian ilmiah, Fitofarmaka Indonesia berada pada fase kesiapan untuk berkontribusi lebih luas dalam sistem kesehatan nasional. Kami menantikan langkah-langkah strategis yang semakin terintegrasi dari para pemangku kepentingan agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal dengan masuk ke formularium JKN,” terang Prof. Raymond.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. dr. Taruna Ikrar, kepada Direktur Utama Dexa Medica, V. Hery Sutanto, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-25 BPOM di Jakarta.
Fitofarmaka merupakan kategori tertinggi dari OMAI di Indonesia, yang mensyaratkan pembuktian khasiat melalui uji klinis, jaminan keamanan, serta pemenuhan standar mutu yang ketat. Berdasarkan data BPOM, saat ini terdapat 18 Nomor Izin Edar (NIE) Fitofarmaka di Indonesia, dengan 15 di antaranya dikembangkan oleh Dexa Group. Angka ini mencerminkan perjalanan riset jangka panjang yang tidak instan mulai dari eksplorasi biodiversitas, standardisasi bahan baku, hingga validasi ilmiah di tingkat klinis.
Bagi Dexa Medica, pencapaian ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari filosofi Dexa, Cerminan Kualitas—sebuah komitmen untuk menghadirkan obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu melalui proses yang disiplin dan berbasis sains. Pendekatan tersebut dijalankan secara konsisten sejak berdirinya Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) pada 2005, yang menjadi fondasi pengembangan berbagai produk Fitofarmaka seperti Stimuno, Inlacin, Redacid, dan Disolf.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH mengatakan, berbagai riset dan pengembangan bahan alam di Indonesia sebenarnya sudah banyak dilakukan. Riset-riset tersebut juga telah didorong untuk menghasilkan produk-produk obat Fitofarmaka.
”Sekarang ini sudah ada beberapa produk Fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat. Akan tetapi, pemanfaatannya belum optimal. Hal ini terutama karena Fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga tidak dijamin oleh JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),” kata Prof Ari.
Prof Ari melanjutkan, obat fitofarmaka yang belum masuk dalam formularium nasional (fornas) menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan potensi pemanfaatan obat tersebut. Sebab, mayoritas penduduk di Indonesia merupakan peserta dari JKN. Kebutuhan obat yang diberikan pun harus sesuai dengan obat-obat yang terdaftar dalam formularium nasional program JKN.
Momentum 25 tahun BPOM juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara regulator, akademisi, dan industri dalam memastikan setiap obat yang beredar memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu. Di tengah tantangan kesehatan yang terus berkembang, Dexa Medica memandang riset Fitofarmaka sebagai investasi jangka panjang dalam membangun kepercayaan melalui kualitas, sekaligus menghadirkan solusi kesehatan yang relevan bagi masyarakat Indonesia.
Berangkat dari pendekatan riset yang konsisten dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, Dexa Medica memandang pengembangan Fitofarmaka sebagai bagian dari kontribusi jangka panjang bagi sistem kesehatan nasional. Melalui komitmen Dexa, Cerminan Kualitas, setiap inovasi diarahkan untuk menjaga standar mutu dari hulu hingga hilir agar kekayaan alam Indonesia dapat diolah menjadi terapi berbasis sains yang aman, berkhasiat, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Selain PT Dexa Medica, BPOM Achievement Award 2026 diserahkan kepada dua industri obat dan farmasi lainnya yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia sebagai Perusahaan yang Peduli terhadap Kesehatan Perempuan melalui Gerakan Sejuta Vaksin HPV dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk sebagai Pelopor Herbal Indonesia - Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional.