Apa yang Akan Terjadi Jika AS Serang Iran? Mungkinkah Perang Dunia III Pecah?

Kapal Induk AS Abraham Lincoln Tiba di Perairan Timur Tengah
Kapal Induk AS Abraham Lincoln Tiba di Perairan Timur Tengah

 Amerika Serikat tampaknya bersiap melancarkan serangan ke Iran dalam hitungan hari. Asumsi ini semakin menguat setelah kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di perairan Timur Tengah saat ini.

Meski sasaran serangan kemungkinan besar bisa diperkirakan, hasil akhirnya tetap sulit ditebak. Lantas apa yang akan terjadi jika Presiden Donald Trump memerintahkan militer AS untuk menyerang Iran?

Berikut ini 7 kemungkinan yang akan terjadi jika AS menyerang Iran seperti melansir laman BCC UK, Kamis 29 Januari 2026.

1. Serangan terbatas dan presisi, korban sipil minim, menuju demokrasi

Angkatan udara dan laut AS melancarkan serangan terbatas dan terarah ke pangkalan militer Garda Revolusi Iran (IRGC) dan unit Basij (pasukan paramiliter di bawah kendali IRGC)  serta ke lokasi peluncuran dan penyimpanan rudal balistik dan fasilitas program nuklir Iran.

Rezim yang sudah melemah akhirnya tumbang dan perlahan beralih ke sistem demokrasi yang sesungguhnya, sehingga Iran bisa kembali bergabung dengan komunitas internasional.

Namun, ini adalah skenario yang sangat optimistis. Intervensi militer Barat di Irak dan Libya tidak menghasilkan transisi demokrasi yang mulus. Meski berhasil mengakhiri kediktatoran brutal, kedua negara justru mengalami bertahun-tahun kekacauan dan pertumpahan darah.

Suriah, yang melakukan revolusinya sendiri dan menggulingkan Presiden Bashar Al-Assad pada 2024 tanpa dukungan militer Barat, sejauh ini justru bernasib lebih baik.

2. Rezim bertahan, tetapi melunakkan kebijakan

Skenario ini sering disebut sebagai model Venezuela, di mana aksi cepat dan kuat AS membuat rezim tetap berkuasa, tetapi dengan kebijakan yang lebih moderat.

Dalam konteks Iran, Republik Islam tetap bertahan tetapi dipaksa mengurangi dukungan terhadap milisi bersenjata di Timur Tengah, menghentikan atau membatasi program nuklir dan rudal balistik, serta melonggarkan penindasan terhadap aksi protes.

Namun, kemungkinan ini juga tergolong kecil. Selama 47 tahun, kepemimpinan Republik Islam selalu menolak perubahan dan tetap bersikap keras. Tampaknya sulit berharap mereka akan berubah arah sekarang.

3. Rezim runtuh, digantikan pemerintahan militer

Banyak pihak menilai ini sebagai skenario yang paling mungkin terjadi.

Meski rezim tidak populer di mata banyak warga, dan setiap gelombang protes makin melemahkannya, masih ada aparat keamanan yang sangat kuat dan luas dengan kepentingan besar mempertahankan status quo.

Alasan utama mengapa protes selama ini gagal menggulingkan rezim adalah karena tidak ada pembelotan besar-besaran dari pihak aparat, sementara penguasa siap menggunakan kekuatan dan kekerasan tanpa batas demi bertahan.

Dalam kekacauan pasca-serangan AS, bukan tidak mungkin Iran justru dipimpin oleh pemerintahan militer yang didominasi tokoh-tokoh IRGC.

4. Iran membalas dengan menyerang pasukan AS dan negara tetangga

Iran telah bersumpah akan membalas setiap serangan AS, bahkan mengatakan “jarinya sudah di pelatuk”.

Iran memang tidak memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan Angkatan Laut dan Udara AS, tetapi masih bisa melancarkan serangan menggunakan persenjataan rudal balistik dan drone, banyak di antaranya disembunyikan di gua, bawah tanah, atau daerah pegunungan terpencil.

Pangkalan AS tersebar di sisi Arab Teluk Persia, terutama di Bahrain dan Qatar. Iran juga bisa, jika mau, menyerang infrastruktur penting negara yang dianggap terlibat dalam serangan AS, seperti Yordania.

Serangan rudal dan drone ke fasilitas minyak Saudi Aramco pada 2019 yang dikaitkan dengan milisi pro-Iran di Irak menunjukkan betapa rentannya Arab Saudi terhadap serangan Iran.

Negara-negara Arab di Teluk yang merupakan sekutu AS kini sangat cemas, khawatir aksi militer AS justru akan berbalik menghantam mereka.

5. Iran membalas dengan menebar ranjau laut di Teluk

Ancaman ini sudah lama membayangi jalur pelayaran dan pasokan energi dunia, sejak Perang Iran-Irak di tahun 1980–1988, ketika Iran benar-benar menanam ranjau di jalur kapal dan kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Inggris membantu membersihkannya.

Selat Hormuz jalur sempit antara Iran dan Oman adalah titik krusial. Sekitar 20 persen ekspor gas alam cair (LNG) dunia dan 20–25 persen minyak serta produk turunannya melewati selat ini setiap tahun.

Iran pernah menggelar latihan penyebaran ranjau laut secara cepat. Jika itu dilakukan, dampaknya hampir pasti akan mengganggu perdagangan global dan mendorong lonjakan harga minyak.

6. Iran membalas dengan menenggelamkan kapal perang AS

Seorang kapten Angkatan Laut AS di Teluk pernah mengatakan bahwa salah satu ancaman yang paling ia khawatirkan dari Iran adalah “serangan kawanan”.

Ini adalah taktik di mana Iran meluncurkan banyak drone bermuatan peledak dan kapal cepat bersenjata torpedo ke satu atau beberapa target sekaligus, sehingga pertahanan jarak dekat Angkatan Laut AS tidak mampu menangkis semuanya tepat waktu.

Angkatan Laut IRGC kini mendominasi perairan Teluk, menggantikan angkatan laut konvensional Iran. Sebagian komandannya bahkan pernah dilatih di Dartmouth pada era Shah.

Kru angkatan laut Iran banyak berlatih perang tidak konvensional atau asimetris, dengan tujuan mengatasi keunggulan teknologi lawan utamanya, Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Jika sebuah kapal perang AS tenggelam, apalagi disertai penangkapan awaknya yang selamat, itu akan menjadi penghinaan besar bagi Amerika Serikat.

Meski dianggap kecil kemungkinannya, kapal perusak USS Cole pernah lumpuh akibat serangan bom bunuh diri Al-Qaeda di pelabuhan Aden pada 2000, dan menewaskan 17 pelaut AS.

Sebelumnya, pada 1987, sebuah pesawat tempur Irak salah menembakkan dua rudal Exocet ke USS Stark, menewaskan 37 pelaut AS.

7. Rezim runtuh, kekacauan terjadi

Ini adalah risiko nyata dan menjadi kekhawatiran besar negara-negara tetangga seperti Qatar dan Arab Saudi.

Selain kemungkinan perang saudara seperti di Suriah, Yaman, dan Libya, ada pula risiko konflik etnis pecah ketika kelompok Kurdi, Baluchi, dan minoritas lain yang berusaha melindungi komunitas mereka di tengah kekosongan kekuasaan nasional.

Sebagian besar negara di Timur Tengah tentu ingin melihat berakhirnya Republik Islam, terutama Israel yang telah menghantam jaringan proksi Iran di berbagai wilayah dan menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial.

Namun, tak seorang pun ingin melihat negara dengan populasi terbesar di Timur Tengah sekitar 93 juta jiwa jatuh ke dalam kekacauan yang memicu krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsi.

Bahaya terbesar saat ini adalah jika Trump, setelah mengerahkan kekuatan militer besar di dekat perbatasan Iran, merasa harus bertindak demi menjaga wibawa, sehingga perang pun pecah tanpa tujuan akhir yang jelas dan dengan dampak yang sulit diprediksi serta berpotensi sangat merusak.