Perang Dunia III Diramalkan Akan Pecah di Tahun 2026, Ini Buktinya?
Peramal asal Bulgaria, mendiang Baba Vanga, kembali menjadi sorotan di media sosial. Hal ini dipicu oleh ramalan lamanya yang menyebut kemungkinan pecahnya Perang Dunia III pada tahun 2026.
Baba Vanga dikenal luas karena sejumlah ramalannya tentang peristiwa besar dunia, mulai dari serangan 11 September hingga pandemi COVID-19. Namun, ramalan tentang potensi Perang Dunia III kali ini dianggap paling mengkhawatirkan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Belakangan, situasi di Amerika Latin, Iran, dan Eropa terus memanas dan memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik berskala global. Berbagai unggahan di media sosial pun mulai berspekulasi bahwa rangkaian peristiwa tersebut bisa menjadi tanda awal pecahnya Perang Dunia III.
Melansir laman The Economic Times, Selasa, 13 Januari 2026, terdapat sejumlah alasan yang membuat wacana Perang Dunia III kembali ramai diperbincangkan.
AS Serang Venezuela, Tangkap Maduro
Pada 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Trump menyatakan akan mengelola negara tersebut hingga terjadi transisi kekuasaan yang ia sebut layak. Ia juga menjanjikan perusahaan-perusahaan minyak AS akan masuk ke Venezuela dan memperingatkan bahwa AS siap melancarkan serangan kedua jika diperlukan.
Alasan utama lengsernya Maduro disebut-sebut berkaitan dengan minyak dan petrodolar. Seperti diketahui, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yakni sekitar 303 miliar barel.
Trump Ancam Aneksasi Kolombia dan Greenland
Setelah serangan ke Venezuela, Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS bisa mengambil tindakan terhadap negara lain. Ia mengancam Kolombia dan presidennya, menyebut Kuba sebagai negara yang ’tinggal menunggu runtuh’, serta kembali menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland.
Di atas pesawat Air Force One, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Kolombia dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat dan menjual kokain ke Amerika Serikat Ia merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang selama ini kerap mengkritik Trump.
“Dia tidak akan melakukan itu lama-lama. Dia punya pabrik dan penggilingan kokain,” kata Trump.
Saat ditanya apakah pemerintahannya akan melakukan operasi terhadap Kolombia, Trump menjawab adanya kemungkinan melakukan hal itu.
“Kedengarannya bagus buat saya,” kata dia.
Terkait Greenland, Trump mengatakan, bahwa AS membutuhkan Greenland demi keamanan nasional. Wilayah itu sangat strategis.
“Saat ini, Greenland dipenuhi kapal Rusia dan China. Kami butuh Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,”kata Trump.
Trump juga menyindir Denmark dengan mengatakan bahwa negara itu tidak akan mampu menjaga wilayah itu sambil menyebut upaya Denmark meningkatkan keamanan hanya dengan menambah satu kereta anjing salju.
Selain itu, Trump juga menyebut kemungkinan tindakan terhadap negara lain, termasuk Meksiko dan Iran, atas berbagai isu.
Menanggapi pernyataan Trump, Kementerian Pertahanan Denmark menyatakan bahwa tentaranya diperintahkan untuk menembak lebih dulu dan bertanya belakangan jika Amerika Serikat menyerang Greenland. Pernyataan ini merujuk pada aturan pelibatan militer sejak tahun 1952 yang mengharuskan tentara menghadapi penyerbu tanpa menunggu perintah dari atasan.
AS Sita Dua Kapal Tanker Terkait Venezuela
Beberapa hari setelah Maduro dilengserkan, AS menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di wilayah Atlantik dan Karibia, termasuk satu kapal yang beroperasi dengan bendera Rusia. Pasukan AS memperketat blokade laut terhadap kapal-kapal yang disanksi karena membawa atau mencoba membawa minyak mentah Venezuela.
Langkah ini menyusul operasi besar di Caracas, ketika pasukan khusus AS menangkap Presiden Nicolás Maduro. Di Atlantik Utara, kapal tanker berbendera Rusia bernama Marinera yang sebelumnya dikenal sebagai Bella 1 dicegat pada Rabu pagi setelah dibuntuti selama beberapa pekan. Kapal tersebut dinaiki Penjaga Pantai dan militer AS berdasarkan surat perintah pengadilan federal atas dugaan pelanggaran sanksi.
Satu kapal tanker lainnya, M/S Sophia berbendera Panama, juga dinaiki dan dibawa ke dalam penguasaan AS di Laut Karibia. Otoritas AS menyatakan kedua kapal tersebut baru saja berlabuh di Venezuela atau sedang menuju ke sana, dan berada di bawah sanksi karena aktivitas ilegal terkait pengiriman minyak Venezuela.
Gelombang Protes di Iran
Kemarahan publik akibat anjloknya nilai mata uang Iran memicu demonstrasi di lebih dari 100 kota dan wilayah di seluruh 31 provinsi Iran, menurut kelompok pembela HAM. Pada Kamis, Iran dilanda pemadaman internet nasional saat aksi protes anti-pemerintah meluas.
Video di media sosial menunjukkan warga Iran meneriakkan slogan-slogan menentang rezim teokratis yang berkuasa, seiring meningkatnya kemarahan akibat krisis ekonomi dan tindakan represif aparat keamanan. LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 45 demonstran tewas, termasuk delapan anak-anak, sejak aksi dimulai. Ratusan orang lainnya terluka dan lebih dari 2.000 orang ditahan.
Rekaman yang diverifikasi CNN memperlihatkan aksi massa di berbagai kota, dengan demonstran memblokade jalan dan membakar benda-benda di ibu kota. Dalam video tersebut, terdengar teriakan dukungan maupun penolakan terhadap pemerintah Iran.
Trump memperingatkan otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai dan mengatakan Washington akan datang menyelamatkan mereka.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah terjadi sebelumnya, saya rasa mereka akan mendapat serangan keras dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan.
Ketegangan Arab Saudi–UEA
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya menjadi sekutu di Yaman, kini berselisih soal kendali wilayah. UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis yang menginginkan kemerdekaan wilayah selatan Yaman. Sementara itu, Arab Saudi menginginkan Yaman tetap bersatu dan menilai langkah STC sebagai bentuk campur tangan UEA. Saudi pun dilaporkan telah merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat dikuasai kelompok tersebut.
Berbagai perkembangan global ini, khususnya di Amerika Latin dan Timur Tengah, memicu perdebatan luas tentang kemungkinan dunia sedang bergerak menuju Perang Dunia III.