Media Filipina Soroti "Pasukan Troll China" dan Wajah Baru Operasi Pengaruh

VIVA Militer: Ilustrasi spionase China
VIVA Militer: Ilustrasi spionase China

 Sebuah investigasi yang diterbitkan media investigatif Filipina, Rappler, mengungkap dugaan operasi pengaruh digital yang melibatkan penggunaan akun media sosial palsu untuk membentuk opini publik Filipina agar lebih berpihak kepada Tiongkok, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Filipina Barat.

Laporan yang ditulis jurnalis Don Kevin Hapal dan dipublikasikan pada 20 Desember itu menyoroti peran sebuah perusahaan pemasaran lokal, InfinitUs Marketing Solutions, yang diduga terlibat dalam pengelolaan jaringan akun media sosial atau “troll” atas kontrak yang dikaitkan dengan Kedutaan Besar Tiongkok di Filipina.

Rappler, media digital yang didirikan bersama jurnalis peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2021 Maria Ressa, menyebut operasi tersebut bertujuan memengaruhi persepsi masyarakat Filipina terhadap Tiongkok melalui aktivitas terkoordinasi di platform media sosial, terutama Facebook.

Investigasi Don Kevin Hapal pada 20 Desember, mengungkap “Tentara Troll Tiongkok” berada di garis depan konflik geopolitik jenis baru—konflik yang tidak diperjuangkan dengan kapal di Laut Filipina Barat, tetapi dengan profil Facebook palsu dan pabrik propaganda yang dipekerjakan dari luar

Dalam laporan tersebut, Hapal menggambarkan bagaimana akun-akun yang tampak sebagai warga Filipina biasa—seperti guru, mahasiswa, hingga pekerja konstruksi—sebenarnya merupakan identitas palsu yang dikelola secara sistematis. Akun-akun ini disebut digunakan untuk menyusup ke percakapan publik dan menyebarkan narasi yang menguntungkan Beijing.

"Seorang guru. Seorang mahasiswa. Dan bahkan seorang pekerja konstruksi," Ini adalah avatar kehidupan sehari-hari, tetangga digital yang diharapkan akan kita temui di Facebook. Seperti yang ditulis Hapal: "Bagi pengamat biasa yang menelusuri Facebook, profil-profil ini akan tampak seperti orang Filipina biasa. Seorang guru yang memposting tentang pengalaman di kelas, siswa yang berinteraksi dengan siswa lain, dan seorang pekerja biasa yang berbagi sekilas tentang rutinitas hariannya. Mereka memiliki nama, wajah, dan pendapat."

Namun kenyataannya tidak demikian. Nama, wajah, dan opini tersebut direkayasa—topeng yang dirancang dengan cermat dan dikenakan oleh apa yang dalam dokumen internal disebut sebagai "pejuang keyboard yang berdedikasi." Misi mereka: untuk menyusup ke percakapan masyarakat Filipina dan secara halus membentuk kembali sentimen publik tentang Tiongkok.

Di sinilah investigasi menjadi sangat berharga. Operasi pengaruh sering dibahas dalam istilah abstrak—"peternakan troll," "bot," "campur tangan asing."

Laporan "Rappler" menembus abstraksi tersebut dengan menunjukkan mekanisme kerjanya secara langsung. Dokumen dari InfinitUs Marketing Solutions, perusahaan yang diduga disewa oleh kedutaan besar Tiongkok, menguraikan program yang secara eksplisit dirancang untuk "mengubah persepsi negatif secara keseluruhan dari warga Filipina tentang orang Tiongkok dan Tiongkok."

Dan waktunya bukanlah suatu kebetulan. 

Dokumen dari InfinitUs Marketing Solutions, perusahaan yang diduga disewa oleh kedutaan besar Tiongkok  yang diperoleh Rappler, menunjukkan adanya program yang secara eksplisit dirancang untuk "mengubah persepsi negatif secara keseluruhan warga Filipina terhadap orang Tiongkok dan Tiongkok." 

Operasi ini diduga berjalan bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Filipina dan Tiongkok terkait sengketa wilayah di Laut Filipina Barat. Agresi Tiongkok di laut telah terdokumentasi dengan baik; yang kurang terlihat adalah kampanye paralel untuk melemahkan perlawanan Filipina dengan memanipulasi ruang publik digital. Medan pertempuran, seperti yang dikatakan Rappler, "telah bergeser dari laut lepas ke ranah digital."

Salah satu pengungkapan yang paling mencolok bukanlah sekadar kemungkinan China melakukan operasi pengaruh—hal ini telah lama dicurigai. Hal ini mengubah narasi geopolitik menjadi narasi kemanusiaan.

Operasi pengaruh tidak lagi tanpa wajah; mereka memiliki departemen SDM, manual orientasi, dan penggajian, karena memperlihatkan secara rinci mekanisme kerja operasi pengaruh yang selama ini kerap dibahas secara umum, seperti istilah "peternakan troll" atau "campur tangan asing".

Investigasi tersebut juga menyoroti dugaan praktik alih daya operasi pengaruh kepada perusahaan lokal, yang secara tidak langsung mempersenjatai tenaga kerja Filipina melawan demokrasi Filipina dalam kampanye digital tersebut. 

Menanggapi laporan itu, InfinitUs Marketing Solutions membantah tuduhan yang dialamatkan kepada perusahaan. Perusahaan tersebut mengklaim kontrak yang menghubungkannya dengan kedutaan besar Tiongkok adalah "pemalsuan yang dibuat untuk menyesuaikan narasi politik." 

Namun, perusahaan tersebut mengakui keaslian cek dari pemerintah Tiongkok yang sebelumnya dipaparkan Senator Filipina Francis Tolentino sebagai bagian dari bukti. Menurut InfinitUs, pembayaran tersebut sah dan dapat dibenarkan.

Direktur pemasaran perusahaan, Myka Basco-Poynton, menegaskan: "InfinitUs Marketing Solutions, Inc. teguh dalam komitmennya terhadap kebenaran dan integritas… kami secara kategoris membantah klaim tanpa dasar yang dibuat terhadap perusahaan kami dan menegaskan kembali dedikasi kami terhadap praktik bisnis yang etis." ujarnya

Namun, kontras antara pernyataan standar perusahaan ini dan detail mendalam dari dokumen yang bocor sangat mencolok. Apa yang telah diungkap Rappler bukanlah sekadar anomali lokal. Ini adalah sebuah pola—sebuah model tentang bagaimana negara otoriter yang kuat dapat memperluas pengaruhnya ke masyarakat demokratis melalui perantara komersial.

Jika hal itu terjadi di Filipina, hampir pasti terjadi di tempat lain. "Musim Dingin Pahit" itu sendiri secara berkala menjadi sasaran serangan troll besar-besaran di media sosial yang jelas menunjukkan jejak Beijing. Kejeniusan—dan bahaya—dari operasi semacam itu terletak pada kesederhanaannya. 

Operasi ini tidak membutuhkan agen rahasia atau AI canggih. Yang dibutuhkan hanyalah anggaran, perusahaan pemasaran yang bersedia menerima kontrak, dan populasi yang ruang digitalnya mudah ditembus. Hasilnya adalah ekosistem propaganda yang menyatu dengan mulus ke dalam kehidupan sehari-hari.

Investigasi ini menawarkan pandangan berbasis dokumen yang langka tentang mekanisme operasi pengaruh yang biasanya tidak terlihat. Investigasi ini menunjukkan bagaimana disinformasi diprofesionalisasi, dialihdayakan, dan dilokalisasi.

Negara-negara otoriter semakin bergantung pada kekuatan lunak, manipulasi digital, dan operasi psikologis. Investigasi ini menekankan pentingnya jurnalisme investigatif dalam mengungkap praktik disinformasi yang semakin terorganisasi dan terprofesionalisasi. Jurnalisme sejati—tetap menjadi salah satu dari sedikit alat yang mampu mengungkap arsitektur penipuan. 

v