Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Ini Tutup Permanen Akhir Januari 2026
Warong Nasi Pariaman, salah satu warung nasi padang tertua di Singapura, dipastikan akan menutup operasionalnya secara permanen pada akhir Januari 2026.
Penutupan ini menandai berakhirnya perjalanan panjang kuliner Minang yang telah hadir selama lebih dari tujuh dekade di negara kota tersebut.
Warung yang berlokasi di North Bridge Road, kawasan Kampong Glam, itu telah berdiri sejak 1948 dan dikenal luas sebagai salah satu pelopor nasi padang di Singapura.
Selama puluhan tahun, Warong Nasi Pariaman menjadi rujukan bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin menikmati cita rasa masakan Padang autentik.
Dilansir dari VnExpress International, pihak Warong Nasi Pariaman mengumumkan penutupan tersebut melalui unggahan di media sosial Instagram.
Dalam pernyataannya, pengelola menyampaikan rasa terima kasih kepada para pelanggan setia yang telah mendukung usaha mereka selama bertahun-tahun, meski tidak merinci alasan di balik keputusan penutupan tersebut.
“Terima kasih atas dukungan dan kenangan yang telah dibagikan bersama kami,” tulis pihak pengelola dalam unggahan tersebut.
Warong Nasi Pariaman dikenal dengan sejumlah menu andalannya, seperti rendang daging sapi, ikan bakar, dan aneka lauk khas Minang yang dimasak dengan bumbu kaya rempah.
Reputasinya sebagai salah satu warung nasi padang tertua menjadikan tempat ini tidak hanya sekadar rumah makan, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner Singapura.
Sejumlah media di Singapura menyoroti bahwa penutupan Warong Nasi Pariaman terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap pelaku usaha makanan kecil dan menengah.
Tutup karena harga naik
Dikutip dari CNA Lifestyle, lonjakan harga sewa di kawasan Kampong Glam disebut menjadi tantangan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa pelaku usaha di area tersebut dilaporkan mengalami kenaikan sewa dari sekitar 3.000 dollar Singapura menjadi hampir 10.000 dolar Singapura per bulan.
Kondisi ini dinilai menyulitkan usaha kuliner tradisional untuk bertahan, terutama yang mengandalkan harga terjangkau dan pelanggan setia lintas generasi.
Pengumuman penutupan Warong Nasi Pariaman memicu respons emosional dari banyak pelanggan.
Sejumlah netizen membagikan kenangan mereka menyantap nasi padang di warung tersebut, menyebutnya sebagai bagian penting dari pengalaman kuliner di Singapura, baik bagi komunitas lokal maupun diaspora Indonesia.
Penutupan warung legendaris ini menjadi cerminan tantangan yang dihadapi industri makanan dan minuman di Singapura, yang masih berupaya menyesuaikan diri dengan biaya operasional yang meningkat serta perubahan pola konsumsi pascapandemi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang