Bung Kusnaeni Sebut Komitmen Pelatih Timnas John Herdman ke Liga Lokal Harus Dibuktikan

Super League 2025-2026, Indonesia, timnas Indonesia, FIFA, John Herdman, Bung Kusnaeni Sebut Komitmen Pelatih Timnas John Herdman ke Liga Lokal Harus Dibuktikan

Penunjukan John Herdman sebagai pelatih timnas Indonesia membuka harapan baru bagi pembenahan sepak bola nasional.

Salah satu komitmen yang langsung mencuri perhatian adalah kesediaannya memantau langsung kompetisi domestik, khususnya Super League 2025-2026, sebagai fondasi pembentukan timnas Indonesia.

Bagi pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni, komitmen tersebut sejatinya bukan hal baru.

Hampir semua pelatih yang menangani timnas Indonesia mengawali masa jabatannya dengan narasi serupa, menjadikan pemain lokal sebagai tulang punggung.

Menurutnya, kesadaran tersebut muncul karena ketergantungan berlebihan pada pemain diaspora menyimpan banyak persoalan mendasar.

“Karena mereka menyadari kalau bergantung dengan pemain diaspora itu banyak problem. Pertama kalau event-nya bukan masuk kalender FIFA mereka tidak bisa didatangkan," ujar pengamat yang biasa disapa Bung Kus itu.

"Kemudian kedua, pemain diaspora itu kadang-kadang kompetisi klubnya padat sehingga ketika dibutuhkan tiba-tiba cedera,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemain lokal dinilai lebih realistis untuk dijadikan basis timnas karena jadwal liga domestik relatif selaras dengan agenda timnas Indonesia.

“Itulah sebabnya pelatih di awal itu berkomitmen menjadikan pemain lokal sebagai fondasi,” ujarnya lagi.

Belajar dari Pengalaman Masa Lalu

Kusnaeni mengingatkan masyarakat agar tidak hanya terpukau pada pernyataan awal seorang pelatih.

Ia menyinggung pengalaman era Patrick Kluivert yang juga pernah menyampaikan janji serupa, namun dinilai minim implementasi.

“Ya mudah-mudahan kali ini Herdman tidak hanya sekedar komitmen tapi menunjukkannya,” kata Mohamad Kusnaeni.

“Kalau Kluivert kan berjanji untuk menjadikan pemain lokal fondasi tapi males tour ke pertandingan-pertandingan kompetisi sepak bola Indonesia, cuma beberapa pertandingan yang dilihat dan waktunya banyak di Belanda,” imbuhnya.

Super League 2025-2026, Indonesia, timnas Indonesia, FIFA, John Herdman, Bung Kusnaeni Sebut Komitmen Pelatih Timnas John Herdman ke Liga Lokal Harus Dibuktikan

Pemain Timnas U22 Indonesia Ivar Jenner (kiri) menguasai bola dengan dibayangi pesepak bola Timnas U22 Mali Hamidou Makalou (kanan) pada laga uji coba FIFA Match Day di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/11/2025). Timnas Indonesia U-22 kalah dengan skor 0-3. ANTARA FOTO/Fauzan/tom.

Langkah awal John Herdman dianggap memberi sinyal positif. Ia memulai dengan menyaksikan laga pekan ke-17 Super league 2025-2026 lalu, Persib vs Persija via layar kaca.

"Mudah-mudahan nanti bisa nonton pertandingan yang lain,” kata Kusnaeni lagi.

Kunci Ada pada List Pemain, Antisipasi Saat Pemain Diaspora Absen

Selanjutnya, Mohamad Kusnaeni menekankan pentingnya pelatih Timnas tidak hanya terpaku pada nama-nama langganan panggilan.

Ia juga melihat keberadaan long list dan short list pemain yang selama ini menjadi basis pemantauan. Apalagi fokus berlebihan pada short list akan membuat regenerasi mandek.

“Short list itu yang biasanya dipanggil sedangkan long list itu merupakan data pemain yang pernah dipantau. Nah mudah-mudahan dia bisa melihat siapa saja yang long list dan melihat progresnya,” tutur pengamat yang memulai karir komentator sepak bola sejak Piala Dunia 1994.

Ia menegaskan, kualitas pemain long list harus diuji langsung oleh pelatih kepala. Sebab pemantauan pemain lokal dinilai krusial, terutama untuk menghadapi turnamen yang tidak masuk kalender FIFA, seperti Piala AFF.

“Karena kalau hanya mengandalkan short list pemainnya akan ketemunya itu-itu saja. Jadi dia harus melihat long list juga untuk menguji sendiri pemain yang masuk long list itu benar-benar kualitas, apakah bisa menambah kualitas permainan timnas atau sekedar hanya menjadi bagian dari long list itu,” sambungnya.

“Karena pada satu titik nanti dia akan butuh long list itu, seperti Piala AFF misalnya, dimana pemain diaspora tidak bisa bergabung, mereka selesai kompetisi biasanya vacation dan selain itu bukan agenda FIFA belum tentu mereka mau bergabung,” imbuhnya.

Sehingga ia pun mencontohkan, pemain-pemain timnas Indonesia yang berkompetisi di liga domestik relatif lebih mudah diandalkan.

“Kalau yang sudah ada di liga Indonesia seperti Thom Haye, Eliano itu otomatis bisa jadi bagian. Tetapi ketika kita mengharapkan Jay Idzes, Emil Audero, Calvin Verdonk kan tergantung dengan agenda klub,” pungkas Mohamad Kusnaeni.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang