Tingkat PHK di AS Pecah Rekor Tertinggi dalam 22 Tahun, AI Jadi Salah Satu Sebab

laporan, Amerika Serikat, Tingkat PHK di AS Pecah Rekor Tertinggi dalam 22 Tahun, AI Jadi Salah Satu Sebab

Tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS) dilaporkan memecahkan rekor tertinggi dalam 22 tahun terakhir.

Menurut laporan firma penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas, sepanjang Oktober 2025, total ada 153.074 pekerja yang terdampak PHK.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, jumlah tersebut naik hingga 175 persen. Bahkan 183 persen lebih banyak dari bulan September 2025.

Lonjakan jumlah ini membuat Oktober 2025 menjadi bulan dengan kasus pemutusan hubungan kerja tertinggi di AS sejak 2003, sekaligus yang terburuk sejak 2009.

AI jadi salah satu penyebab PHK

Firma Challenger menyebut, salah satu faktor utama penyebab peningkatan jumlah PHK di AS berasal dari masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di berbagai industri.

Banyak perusahaan yang kini melakukan restrukturisasi dan efisiensi tenaga kerja dan mengganti posisi dan fungsi pekerja dengan AI.

Andy Challenger, pakar ketenagakerjaan sekaligus Chief Revenue Officer Challenger mengatakan, situasi ini mirip seperti yang terjadi pada dua dekade lalu.

"Seperti pada tahun 2003, teknologi disruptif sedang mengubah lanskap," kata Andy, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNBC.

Ia menambahkan, gelombang PHK tertinggi ini datang tepat saat lapangan kerja di AS berada di titik terendah, dalam beberapa tahun terakhir.

"Di saat penciptaan lapangan kerja berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, pengumuman PHK pada kuartal keempat terasa sangat tidak menguntungkan," pungkas Andy. 

Sektor teknologi paling terdampak

laporan, Amerika Serikat, Tingkat PHK di AS Pecah Rekor Tertinggi dalam 22 Tahun, AI Jadi Salah Satu Sebab

Kecerdasan buatan (AI) terus berkembang dan mulai mengubah peta dunia kerja. Sejumlah profesi kini berada di ambang tergantikan oleh teknologi otomatisasi.

Sehubungan dengan AI yang menjadi faktor utama penyebab meningkatnya PHK, sektor teknologi menjadi salah satu industri yang paling terdampak.

Berdasarkan laporan Challenger, total pekerja di sektor teknologi yang terkena pemangkasan dilaporkan mencapai 33.281 pekerja. Jumlah ini disebut enam kali lipat lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain teknologi, laporan juga mencatat sejumlah sektor lain yang ikut terdampak gelombang pemangkasan tenaga kerja. 

Beberapa sektor tersebut di antaranya yaitu produk konsumen dengan total 3.409 pekerja di-PHK, serta organisasi nirlaba (nonprofit) 27.651 pekerja, naik 419 persen dari periode yang sama di tahun lalu.

Jadi jika ditotal secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025, perusahaan di berbagai sektor di AS telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 1,1 juta pekerja. 

Jumlah ini meningkat 65 persen dari tahun 2024 dan merupakan yang paling tinggi sejak pandemi Covid 2020.

"Beberapa industri sedang melakukan koreksi setelah lonjakan perekrutan akibat pandemi, tetapi hal ini terjadi seiring dengan adopsi AI, melemahnya belanja konsumen dan perusahaan, serta meningkatnya biaya yang mendorong penghematan dan pembekuan perekrutan baru," jelas Andy.

Kendati demikian, laporan Challenger dinilai masih bersifat fluktuatif dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata pasar tenaga kerja saat ini.

Pasalnya, data klaim pengangguran mingguan di tingkat negara bagian, belum menunjukkan lonjakan signifikan seperti yang dilaporkan Challenger.

Ditambah lagi, firma pengolah data ketenagakerjaan ADP juga mencatat adanya penambahan sekitar 42.000 lapangan kerja baru pada Oktober 2025. Penambahan ini disebut membalikkan penurunan jumlah pekerja dua bulan berturut-turut di sektor swasta. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.