Bus Terjun ke Sungai di Kamboja, 16 Tewas Puluhan Luka-luka
Kecelakaan sleeper bus di Kamboja tengah telah menewaskan 16 orang dan melukai 24 orang lainnya – 14 di antaranya luka berat, setelah bus tersebut terjun ke sungai ketika para penumpang sedang terlelap tidur, menurut laporan polisi dan warga setempat.
Bus tersebut membawa 37 orang dari provinsi Oddar Meanchey di utara ke ibu kota, Phnom Penh, menurut media Kamboja, Camboja News, ketika bus tersebut jatuh dari jembatan dan masuk ke kanal tepat setelah pukul 3 dini hari (20:00 GMT) di provinsi Kampong Thom pada Kamis pagi.
Sebelum kecelakaan, bus tersebut berhenti untuk menjemput penumpang di destinasi wisata utama Kamboja, Siem Reap, rumah bagi kompleks candi Angkor Wat yang terkenal, yang terletak sekitar enam jam dari Phnom Penh dengan kendaraan.
Semua orang di dalam bus adalah warga negara Kamboja, kata pihak berwenang.
Bus masuk jurang di Kamboja
Kecelakaan terjadi setelah asisten pengemudi mengambil alih kemudi dari pengemudi utama dan tertidur, menurut keterangan polisi. Asisten pengemudi, yang kini dipastikan termasuk di antara korban luka, berada dalam pengawasan ketat selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Pihak berwenang lebih lanjut menyatakan bahwa Virak Rithy Transport tidak memiliki manifes penumpang yang akurat, dan beberapa penumpang mungkin telah naik di berbagai titik di sepanjang rute.
foto yang diunggah Menteri Dalam Negeri Sar Sokha di Facebook menunjukkan bus tersebut setengah terendam air saat dievakuasi dengan derek.
Setelah kecelakaan tersebut, seorang perwakilan Virak Rithy Transport menawarkan bantuan pemakaman sebesar satu juta riel (sekitar $250) untuk setiap korban dan menjanjikan kompensasi lebih lanjut melalui penyedia asuransi perusahaan.
Menteri Dalam Negeri Sar Sokha menyampaikan duka cita yang mendalam dan keterkejutan atas insiden tragis ini serta menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga seluruh korban.
“Bencana dahsyat ini merupakan pengingat yang menyakitkan bagi kita semua akan nilai kehidupan dan pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas. Banyak kecelakaan lalu lintas dapat dicegah jika semua pengguna jalan bertindak dengan lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia mengimbau seluruh warga negara untuk mematuhi peraturan lalu lintas, dan menganjurkan agar mereka tidak mengemudi melebihi batas kecepatan atau dalam keadaan mabuk, karena alkohol mengganggu kemampuan berpikir dan kendali. Mereka harus mengenakan helm atau sabuk pengaman, tidak boleh menyalip secara ugal-ugalan, dan harus selalu berada di jalur kanan, tambahnya.
Ia mencatat bahwa untuk mencegah tragedi di masa mendatang, pihak berwenang—terutama polisi lalu lintas dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perhubungan—harus terus memperkuat penegakan hukum, kampanye edukasi, inspeksi kendaraan, dan peningkatan infrastruktur transportasi.
"Mematuhi peraturan lalu lintas bukan hanya tentang menghindari denda atau menyenangkan pihak berwenang — ini tentang melindungi nyawa dan keselamatan Anda sendiri. Selalu ingat: Jangan terburu-buru! Tiba perlahan berarti tiba dengan selamat — kembali ke keluarga Anda," kata menteri tersebut.
Jumlah korban tewas meningkat dari 13 menjadi 16 orang pada Kamis malam, setelah tim penyelamat menyelesaikan pencarian di sungai, menurut kantor berita The Associated Press.
Penumpang yang terluka dibawa ke rumah sakit provinsi Kampong Thom, sementara pihak berwenang membawa jenazah korban tewas kepada keluarga mereka dengan ambulans.
Komite Keselamatan Jalan Raya Nasional (KNKT) menyatakan bahwa mereka mencatat hampir 700 kematian di jalan raya pada paruh pertama tahun 2025, menurun dari hampir 800 yang dilaporkan pada periode yang sama tahun sebelumnya.