Permintaan Baterai Lithium Mobil Listrik Bakal Merosot di 2026
Jelang pergantian tahun, industri otomotif langsung dihadapi dengan berbagai tantangan. Seperti contoh pada permintaan baterai lithium.
Disebutkan bahwa, penjualan penampung daya tersebut diprediksi bakal merosot tajam pada awal 2026.
“Menjelang 2026, permintaan baterai akan turun drastis mulai akhir tahun ini,” ungkap Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Cina di Reuters, Selasa (30/12).
Menurut Dongshu, ada beberapa penyebab kenapa permintaan baterai lithium dapat merosot. Seperti turunnya penjualan mobil listrik di pasar domestik.

Sehingga hal tersebut sangat berpengaruh ke industri penampung daya. Dampaknya dapat mengganggu jalannya bisnis baterai lithium.
“Para produsen baterai harus mengurangi produksi dan beristirahat sejenak untuk mengatasi fluktuasi tersebut,” lanjut dia.
Lebih jauh dikatakan, situasi di atas bakal membawa banyak efek. Seperti kerugian pada pabrik-pabrik baterai lithium di cina.
Termasuk yang akan dialami oleh Contemporary Amperex Technology (CATL). Kemudian juga menerpa Eve Energy.
Di sisi lain Dongshu mengungkapkan bahwa, penjualan Electric Vehicle (EV) di Tiongkok diprediksi akan turun sampai 30 persen di awal 2026.
Mengingat insentif pembelian mobil listrik, sedang dihapus secara bertahap oleh masing-masing pemerintah provinsi.
Kemudian pasar kendaraan listrik niaga juga diproyeksikan bakal terganggu. Sebab banyak masyarakat berbondong-bondong beli EV di Desember 2025 untuk memanfaatkan celah waktu agar tetap mendapatkan subsidi.
Akan tetapi penurunan hanya terjadi di pasar domestik saja. Sedangkan untuk ekspor justru menunjukkan peningkatan.
Masih Ada Hambatan Menanti
Seperti diberitakan KatadataOTO sebelumnya, konsumen mobil listrik harus bersiap mengeluarkan dana lebih pada 2026. Pasalnya harga bahan baku baterai lithium bakal naik.
“Kenaikan harga karena meningkatnya biaya bahan baku hulu dan lonjakan permintaan yang didorong oleh konvergensi transisi energi global,” bunyi laporan Carnewschina.
Disebutkan bahwa Hunan Yuneng New Energy, pemasok utama bahan katoda baterai lithium-ion di Tiongkok, bakal menaikkan harga pada 1 Januari 2026.
Biaya pemrosesan untuk seluruh rangkaian produk lithium iron phosphate akan terkerek 3.000 yuan atau Rp 7 jutaan per ton, belum termasuk pajak.
Hal senada turut dijalankan oleh Dejia Energy. Mereka mengumumkan bahwa pada 16 Desember 2025 harga baterai juga akan naik 15 persen.
Sementara di Indonesia para pabrikan mobil listrik Cina yang memanfaatkan insentif Completely Built Up (CBU), harus menjalankan kewajiban kepada pemerintah.

Seperti mendirikan pabrikan mandiri di Tanah Air. Lalu memproduksi secara lokal serta memasarkan EV sesuai kuota impor yang mereka buat.
Situasi di atas menciptakan harga mobil listrik bakal melambung. Apalagi insentif dari pemerintah Indonesia juga berakhir di Desember 2025.