Peran Polri Koordinasi Antar Lembaga Tangani Bencana Sumatera Dinilai Strategis
Lingkar Linguistik Nusantara (Lilin Nusantara) membeberkan peran strategis Polri dalam menangani bencana Sumatera. Menurut Lilin Nusantara, Polri tak hanya memberi respons teknis terhadap bencana di Sumatera, tetapi juga institusi kepolisian mulai mengintegrasikan pendekatan kemanusiaan, penegakan hukum lingkungan, dan tata kelola risiko secara lebih sistematis
"Jadi, Polri telah menunjukkan peran strategis dalam menangani bencana Sumatera dengan memadukan pendekatan kemanusiaan, penegakan hukum lingkungan, dan tata kelola risiko secara lebih sistematis. Transformasi ini menandai pergeseran paradigma penting dalam fungsi kepolisian Indonesia," kata Direktur Lilin Nusantara Uliatul Hikmah kepada wartawan Minggu, 14 Desember 2025.
Uliatul mengatakan keterlibatan aktif Polri dalam penanganan bencana menunjukkan fleksibilitas institusional yang patut diapresiasi. Namun di sisi lain, kata dia, hal ini juga mengungkap kelemahan struktural dalam sistem manajemen bencana nasional yang seharusnya tidak terlalu bergantung pada satu institusi untuk mengisi berbagai fungsi sekaligus.
Helikopter Polri mengirim bantuan untuk korban bencana di Aceh Tamiang
"Di tengah situasi bencana yang kompleks-banjir bandang, longsor, serta terputusnya akses antarwilayah, Polri bergerak dengan pola yang menampilkan tiga elemen kunci yang saling memperkuat dalam ekosistem tanggap darurat, yakni kecepatan, koordinasi dan adaptasi fungsi," ucap dia.
Uliatul mengatakan, publik perlu mengapresiasi kemampuan Polri untuk mengerahkan personel dan sumber daya dalam waktu singkat. Struktur komando yang tersentralisasi memungkinkan pengambilan keputusan cepat dan pengerahan yang efisien ke lokasi-lokasi terdampak, bahkan ketika infrastruktur komunikasi terganggu.
"Kecepatan Polri ini terwujud dalam aktivasi tim SAR dalam 24 jam pertama, pengerahan unit K-9 untuk pencarian korban dan mobilisasi peralatan berat dan logistik darurat," kata dia.
Selain itu, kata Uliatul, Polri juga melakukan efisiensi koordinasi penanganan banjir karena Polri mengambil peran strategis, yakni sebagai penghubung antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.
"Jaringan komando yang mapan memfasilitasi sinkronisasi upaya berbagai pihak, meminimalkan duplikasi, dan memastikan distribusi sumber daya yang lebih merata di tengah keterbatasan. Polri pun dengan mudah melakukan koordinasi dengan BNPB dan pemda, melakukan integrasi dengan relawan dan LSM serta fasilitasi komunikasi lintas sektor," tutur dia.
Uliatul juga mengungkapkan ada adaptasi fungsi kepolisian, tidak sekadar menjadi penegakan hukum, tetapi juga menjadi agen kemanusiaan. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang batas-batas peran dan potensi overstretch kapasitas yang dapat mengorbankan fungsi inti kepolisian, seperti pendirian pos kesehatan darurat; distribusi bantuan logistik dan dukungan psikososial bagi korban.
"Ketiga pilar ini (kecepatan, efisien koordinasi dan adaptasi fungsi) menunjukkan bahwa Polri tidak lagi membatasi tugas pada keamanan saja, tetapi ikut mengisi celah-celah kritis dalam penanganan bencana ketika kapasitas daerah belum memadai. Namun, keberlanjutan model ini bergantung pada investasi sistematis dalam pelatihan, peralatan, dan mekanisme koordinasi yang lebih matang," jelas dia.
Lebih lanjut Uliatul mengatakan keterlibatan Polri dalam penanganan bencana Sumatera membuka diskusi yang lebih luas tentang peran kepolisian dalam menghadapi kejahatan lingkungan yang seringkali menjadi akar penyebab bencana alam. Menurut dia, deforestasi ilegal, pertambangan liar, dan pembukaan lahan yang tidak terkontrol telah memperparah dampak bencana hidrometeorologi di wilayah ini.
"Polri memiliki otoritas dan kapasitas untuk menindak pelaku kejahatan lingkungan, namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan struktural, seperti korupsi, keterbatasan SDM terlatih, dan tekanan ekonomi-politik dari pihak-pihak yang berkepentingan. Bencana Sumatera seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat penegakan hukum lingkungan sebagai strategi mitigasi jangka panjang," tutur Uliatul.
Uliatul menegaskan mengintegrasikan misi kemanusiaan dengan penegakan hukum lingkungan memerlukan reformasi struktural yang komprehensif di institusi Polri. Menurut dia, hal tersebut bukan sekadar penambahan tugas, tetapi transformasi budaya institusional yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian integral dari keamanan nasional.
Wakil Astamaops Kapolri Irjen Pol. Laksana (tengah)
Karena itu, kata Uliatul, perlu penguatan kapasitas personel Polri dengan pelatihan khusus investigasi kejahatan lingkungan, penggunaan teknologi forensik ekologi, dan kerjasama dengan ahli lingkungan untuk meningkatkan kualitas penyelidikan, penyidikan dan penuntutan.
"Kedua, mekanisme pelaporan publik yang transparan tentang penanganan kasus kejahatan lingkungan, termasuk data penindakan, proses hukum, dan hasil vonis untuk mencegah impunitas. Terakhir, kolaborasi multi-pihak, seperti pembentukan task force gabungan dengan KPK, Kementerian Lingkungan Hidup, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum yang efektif," pungkas Uliatul.